Ada dua sejoli ,, yang uda lama menjalin hubungan.
Namanya, Moza dan Raka, awalnya,mereka berteman terus jadi deket.
sampai akhirnya mereka jadian ??
mereka beda sekolah sih, baru kenal juga 3bulan yang lalu..
gak nyangka kan bisa jadian ?!
Awalnya mereka bertemu diCafe milik kakak Moza yang saat itu Moza lagi main dan nongkrong bersama teman-temannya.
Mas tama ini adalah suami dari kakak Moza, yang sebut saja mbak Nana.
cowok itu lewat didepan Moza, dia kaget "cakepp banget guys tu cowok !!" ujar Moza sambil terkasimak.
Raka melihat Moza cewek yang baru dia jumpa ngerasa, aneh dan ilfil.
Moza gak ada hentinya memandang punggung Raka yang semakin menjauh dari pandangan Moza.
“Sumpah ... tu cowo kereeen abisss !!!!" ujar Moza sambil tersenyum maniss banget.
Moza memang gak biasaanya ngeliat cowok sampai mendalami seperti itu.
Dan keesokan harinya, saat Moza berjalan menuju kelasnya, Moza mendengar segerombolan anak-anak yang membicarakan “ADA MURID BARU”.
Namanya, Moza dan Raka, awalnya,mereka berteman terus jadi deket.
sampai akhirnya mereka jadian ??
mereka beda sekolah sih, baru kenal juga 3bulan yang lalu..
gak nyangka kan bisa jadian ?!
Awalnya mereka bertemu diCafe milik kakak Moza yang saat itu Moza lagi main dan nongkrong bersama teman-temannya.
Mas tama ini adalah suami dari kakak Moza, yang sebut saja mbak Nana.
cowok itu lewat didepan Moza, dia kaget "cakepp banget guys tu cowok !!" ujar Moza sambil terkasimak.
Raka melihat Moza cewek yang baru dia jumpa ngerasa, aneh dan ilfil.
Moza gak ada hentinya memandang punggung Raka yang semakin menjauh dari pandangan Moza.
“Sumpah ... tu cowo kereeen abisss !!!!" ujar Moza sambil tersenyum maniss banget.
Moza memang gak biasaanya ngeliat cowok sampai mendalami seperti itu.
Dan keesokan harinya, saat Moza berjalan menuju kelasnya, Moza mendengar segerombolan anak-anak yang membicarakan “ADA MURID BARU”.
Yaa, Moza salah satu murid di SMA Negeri 22 Surabaya. Baru saja naik kelas XI.
bel masuk berbunyi ..
saat pelajara akan di mulai wakil kepala sekolah masuk kelas dan memberi kabar bahwa di kelas kami akan ada anak baru. Rasa kaget, senang, dan tentunya penasaran ikut menyertai.
Saat, sebut saja Pak Umar menyebutkan nama murid itu dan dia masuk, Moza benar-benar terkejut. “Raka Delvano” sebut Pak Umar.
“Gak nyangka gue bakal ketemu dia lagi" ujar Moza sambil terus tersenyum.
"Raka Delvano" what ?! nama yang bagus, moza pun terus membayangi Raka murid baru itu. Dan berharap ingin menjadi milik Raka seutuhnya, ya, “HANYA RAKA !!!” ujar Moza terus melamun.
tett ... tett ... teett !! Bel istirahat berbunyi, Moza segera menuju kantin dan bertemu dengan teman-temannya yang memang berbeda kelas. Moza terlihat bahagia dan kegirangan.
Saat, sebut saja Pak Umar menyebutkan nama murid itu dan dia masuk, Moza benar-benar terkejut. “Raka Delvano” sebut Pak Umar.
“Gak nyangka gue bakal ketemu dia lagi" ujar Moza sambil terus tersenyum.
"Raka Delvano" what ?! nama yang bagus, moza pun terus membayangi Raka murid baru itu. Dan berharap ingin menjadi milik Raka seutuhnya, ya, “HANYA RAKA !!!” ujar Moza terus melamun.
tett ... tett ... teett !! Bel istirahat berbunyi, Moza segera menuju kantin dan bertemu dengan teman-temannya yang memang berbeda kelas. Moza terlihat bahagia dan kegirangan.
saat bertemu teman-teman..
“Guys .. Pada tau gak ? Ada anak baru dikelas gue, dan kalian tau dia siapa ?!" ujar Moza sambil tersenyum bahagia.
“Sapa Moz ??" jawab temannya sambil menggerut.
jangan kaget !! Dia itu ...
“R A K A .. ?!”
“Guys .. Pada tau gak ? Ada anak baru dikelas gue, dan kalian tau dia siapa ?!" ujar Moza sambil tersenyum bahagia.
“Sapa Moz ??" jawab temannya sambil menggerut.
jangan kaget !! Dia itu ...
“R A K A .. ?!”
“Ha ?? Raka ?” kejut mereka.
“Sapa tuh Moz ?" tanya mereka lagi.
“aduuuh, masa kalian lupa sih ?? dia kan cowok yang kemarin lewat didepan kita waktu diCafe mas Tama ???" jawab Moza sambil melotot.
Dia,sumpah !!! boy is perfect.. gue pengen dia jadi milik gue, dan gue yakin dia akan jadi cinta sejati dan cinta terakhir gue !
Moza tiada hentinya tersenyum, membayangkan sesosok “RAKA”.
memang sih Moza gak seperti biasanya, dia kegirangan banget. Memang Moza pernah bahkan sering disakitin,dikecewain,dihianatin,diselingkuhin sama semua yang sempat jadi cowoknya, bahkan mungkin sudah cukup lengkap penderitaan yang dia alami itu.
“Sapa tuh Moz ?" tanya mereka lagi.
“aduuuh, masa kalian lupa sih ?? dia kan cowok yang kemarin lewat didepan kita waktu diCafe mas Tama ???" jawab Moza sambil melotot.
Dia,sumpah !!! boy is perfect.. gue pengen dia jadi milik gue, dan gue yakin dia akan jadi cinta sejati dan cinta terakhir gue !
Moza tiada hentinya tersenyum, membayangkan sesosok “RAKA”.
memang sih Moza gak seperti biasanya, dia kegirangan banget. Memang Moza pernah bahkan sering disakitin,dikecewain,dihianatin,diselingkuhin sama semua yang sempat jadi cowoknya, bahkan mungkin sudah cukup lengkap penderitaan yang dia alami itu.
Tetapi setelah melihat sosok Raka yang simpel,baik,lembut,manis yang seperti Ricky Harun itu, membuatnya merasa hidup kembali.
Satu bulan sudah Raka sekolah di SMA yang sama dengan Moza, mereka juga sudah dekat bahkan semakin dekat.
dua bulan berlalu saat Moza masih sendiri, selama itu mereka sudah bersahabat..
Secepat itu kah ?
tapi gak gampang bisa bersahabat dengan Raka, Raka type cowok cuek, mungkin Raka terlalu 'jaim' atau memang gak peduli, tapi di balik semua itu dia jauh dari kenyataan.
“tapi sudahlah, aku akan berjuang demi cintaku ke Raka” ujar Moza dengan senyum manisnya.
manis banget..
Kini tiap istirahat,pulang,di kelas maupun berangkat mereka selalu bersama, mungkin Moza telah melupakan kedua sahabatnya. Tapi tidak, karena Moza sahabat yang setia.
dua bulan berlalu saat Moza masih sendiri, selama itu mereka sudah bersahabat..
Secepat itu kah ?
tapi gak gampang bisa bersahabat dengan Raka, Raka type cowok cuek, mungkin Raka terlalu 'jaim' atau memang gak peduli, tapi di balik semua itu dia jauh dari kenyataan.
“tapi sudahlah, aku akan berjuang demi cintaku ke Raka” ujar Moza dengan senyum manisnya.
manis banget..
Kini tiap istirahat,pulang,di kelas maupun berangkat mereka selalu bersama, mungkin Moza telah melupakan kedua sahabatnya. Tapi tidak, karena Moza sahabat yang setia.
Pulang sekolah ... tett .. tett ..
Saat itu hujan mulai turun rintik demi rintik, menghujani dan membasahi tanah dan sekolah, Moza lupa gak bawa mobil, karena mobilnya harus masuk bengkel.
Saat melihat Moza kehujanan dan gak bawa kendaraan apapun. Akhirnya Raka menawarkan agar Moza ikut pulang bersamanya, naik motor yang di bawa Raka. Saat itu Raka lupa gak bawa jas ujan, karena dia kira gak mungkin ada hujan sepanas ini.
“maaf Moz, gue lupa bawa jas ujan” ujar Raka.
Saat itu hujan mulai turun rintik demi rintik, menghujani dan membasahi tanah dan sekolah, Moza lupa gak bawa mobil, karena mobilnya harus masuk bengkel.
Saat melihat Moza kehujanan dan gak bawa kendaraan apapun. Akhirnya Raka menawarkan agar Moza ikut pulang bersamanya, naik motor yang di bawa Raka. Saat itu Raka lupa gak bawa jas ujan, karena dia kira gak mungkin ada hujan sepanas ini.
“maaf Moz, gue lupa bawa jas ujan” ujar Raka.
“ooh. Gapapa kok Ka” jawab Moza ringan.
Moza memakai jaketnya dan menaiki motor Raka, memeluk erat punggung raka. Dia merasa kedinginan dan basah kuyub, Moza pun sampai kerumahnya dengan baju yang basah dan tubuh yang menggigil.
“maaf banget Moz, buat kamu kehujanan gini” ucap Raka yang segera pergi dan dibalas Moza dengan senyuman.
“maaf banget Moz, buat kamu kehujanan gini” ucap Raka yang segera pergi dan dibalas Moza dengan senyuman.
Saat akan masuk kamar, tiba-tiba Moza jatuh dan pingsan. Terpaksa keesokan harinya dia tidak sekolah.
keesokan harinya ..
Raka sengaja gak menjemput moza, karena dia sudah terlambat, tapi setelah dilihat bangku Moza yang masih kosong Raka terkejut, “Moza gak masuk ?? atau mungkin kemarin dia kehujanan dan basah kuyub sampai sakit?” ujar Raka dalam hati.
Yang saat itu wajah Raka tampak pucat dan hawatir kepada Moza.
pulang sekolah ..
Raka cepat-cepat berlari menuju parkiran motornya, saat itu cuaca cukup cerah. Dia ngebut segera kerumah Moza dan berharap Moza tak kenapa-kenapa, Raka merasa bersala,sangat bersalah.
Sampainya dirumah Moza, Raka segera menemui gadis yang sedang tergeletak didalam kamarnya dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.
Saat masuk kamar Moza mata Raka berkaca-kaca, dia sangat merasa bersalah. Dia bingung ???
“maaf kan aku Moza" ujar Raka dengan wajah bersalah.
“ooh. gak apa kok Ka, aku gak papa kok" jawab Moza yang lagi-lagi memberi senyumnya.
Saat pembantu Moza datang dan memberikan bubur yang hangat, diterimanya oleh Raka, yang dengan rasa bersalahnya Raka dia ingin menyuapi bubur itu untuk Moza.
Dengan lembutnya Raka menyuapi bubur itu, “you're so sweet my friend" puji Moza.
Raka membalasnya dengan senyuman.
Moza memang gak pernah diperlakukan selembut ini dengan cowok.
Moza terlihat bahagia dan senang, “semoga Moza cepat sembuh” ujar Raka saat akan pulang.
seminggu setelah Moza sakit ...
Senin pagi itu Moza mulai masuk dengan wajah yang benar benar sehat dan gak ada lagi tuh badan lemas,wajah pucat dan tubuh menggigil. Moza kelihatan benar benar senang, karena bukan hanya mobil swiftnya udah diperbaiki tapi karena pengen ketemu “RAKA” Sang pangeran hatinya.
Moza masuk kelas, dikejutkannya dengan kejadian dikelas, “Raka berdua dengan cewek lain ??” ujar Moza kaget.
Saat berjalan menuju bangku Moza yang gak jauh dari Raka, Moza terlihat sedih saat Raka nyapa, “Pagi Moza, lo udah sembuh ??" sapa Raka yang gak biasanya.
Moza terkejut ... “Ha ? lo ?? sejak kapan dia panggil gue pakai lo ?” pikir Moza.
Moza duduk dan mendengar lagu dari handphonenya.
>aku sangat mengenalmu ..
aku juga cintaimu ..
tapi kau tak pernah ..
ada pengertian, ku senang .. kusedih ..
kau tak mau tau ..
>aku sangat mengenalmu ...
Dulu kau tak begitu ..
kau bintang dihatiku jadilah yang ku mau, ku senang ... kusedih ..
kau ada dengan ku
[Agnes - cinta diujung jalan]
Didengarnya lagu yang slow itu sambil menatap Raka yang sedang tertawaria dengan wanita lain, setetes air mata jatuh membasahi pipi Moza.
diusapnya air mata itu, gw knapa ? gue nangis ?? Harusnya gue seneng Raka punya cewek yang lebih baik dari gue !!! ada apa dengan aku ini ?!
malam hari dirumah Moza ..
ditatapnya bintang-bintang dilangit dari genteng Moza, dia memang gemar saat besedih duduk di genteng rumahnya.
ada sinar yang turun, Moza tak menyadari, “Ha ?? bintang jatuh ?” ujar Moza dan segera memohon.
"Tuhan semoga Raka menyadari aku mencintainya, sangatt mencintainya. Aku membutuhkanya !!! bantu aku Tuhan" selesai memohon, Moza masuk dan tertidur pulas menunggu pagi.
ditatapnya bintang-bintang dilangit dari genteng Moza, dia memang gemar saat besedih duduk di genteng rumahnya.
ada sinar yang turun, Moza tak menyadari, “Ha ?? bintang jatuh ?” ujar Moza dan segera memohon.
"Tuhan semoga Raka menyadari aku mencintainya, sangatt mencintainya. Aku membutuhkanya !!! bantu aku Tuhan" selesai memohon, Moza masuk dan tertidur pulas menunggu pagi.
Kejadian kemarin saat pulang sekolah karena Moza pingsan, Raka berubah. Raka mulai memperhatikan kondisi Moza, dia gak mau Moza seperti itu lagi karena ulahnya. Hampir setiap hari Raka menyempatkan diri untuk slalu bersama dengan Moza, tanpa diketahui Moza mengidap penyakit “GINJAL STADIUM DUA”. Raka slalu bingung dan bertanya, kenapa setiap dua minggu sekali Moza harus kerumah sakit ?? ada apa dengan Moza ?! apa karena aku dia jadi sakit seperti ini ??? tapi setiap dua minggu sekali Moza memintaku untuk mengantarnya ke Rumah Sakit dengan alasan dia akan melakukan “cek up”. Tapi bingungnya dia slalu masuk “RUANG CUCI DARAH” saat aku membututinya, “ada apa sih Moza ???” ujarku menggerutu.
Setelah Moza keluar dari ruangan itu, aku melihat Moza sangat pucat dan memegangi perutnya. “ayo ka kita pulang !”. ujar Moza lemas. “lo gapapa kan Moz ??”. tanyaku menggerutu. “udahlah Ka,, ayoo kita pulang ??”. pinta Moza.
saat akan pulang …
Moza berjalan melewati koridor rumah sakit sangat lemas, sampai akhirnya Moza jatuh dan pingsan.
“Mozaaaaa !!!!!”. ucapku teriak meminta bantuan.
Moza masuk ruang ICU dan kini Moza kritiss,, dari ruangan itu ada seorang dokter yg keluar dari kamar Moza. Dan bertanya siapa keluarga dari Moza. Aku tak segan mengacungkan diri dan dokter mulai memberitahu tentang penyakit Moza.
Tak ku sangka ternyata Moza mengidap penyakit “GINJAL STADIUM DUA” Raka mulai menangis. “Moza,, kenapa kamu gak bilang kalau kamu punya sakit kaya gitu ??” ujarku dalam hati menangis.
Sudah beberapa kali aku menghubungi keluarganya tapi gak bisa.
malam datang …
Saat itu aku masih menunggu Moza yang lagi-lagi tergeletak pucat dan lemas diatas kasur, dilihatnya lagit diatas dari jendela kamar Moza dan tak segan Raka untuk memohon. “Tuhan … jika aku harus memberikan satu ginjalku pada Moza, aku akan berikan asal Moza sembuh.. bantu aku Tuhan”. ujar Raka memohon lalu menetes air mata itu jatuh di pipi Raka. Raka mendekat pada Moza dan memejamkan matanya, Raka menangis didekat Moza dan memegang tangan Moza dengan penuh kehangatan. “Moza .. cepet sembuh yah ?? aku tak ingin kehilanganmu, aku sayang kamu Moza”. Sebuah ucapan yang sebelumnya tidak pernah Raka ucapkan pada Moza.
seminggu setelah Moza kritiss …
Tak pernah diduga memang kalau jadinya Moza sakit seperti ini, Moza juga gak pengen sakit kaya gini. Dulu Moza pernah cerita sama gue tentang cowok-cowoknya, dia bolak balik disakitin. Kasian juga Moza. “dasar cowok gak tanggung jawab uda tau Moza sakit malah disakiti gini !! rawwr” ucap Raka marah gak jelas.
jam 06.15 … dirumah Raka
Clik … clok … clik … clok …
Jam weker yang bunyi buat gue jadi sadar kalau gue … TELAT !!!!! gue bangun dari kasur lalu menuju kekamar mandi, gue telat gak yah, omel gue saat di jalan.
Akhirnya sampai juga, gue ketemu teman-teman Moza yang bernama Vita. Dia menannyakan keadaan Moza, gue jadi pengen nangis saat Vita bilang kalau Moza sebenernya ada rasa sama gue saat pertama kali ketemu di Café milik Mas Tama. Gue juga sayang dia saat dia slalu ada buat gue.
Gue jadi berfikir gue akan ungkapin rasa gue ke moza, nanti sore.
dikamar tempat Moza dirawat …
“Moza ,, kamu udah sadar ??? aku hawatir Moz sama kamu ??? aku kangen kamu Moz, aku tadi diCafe mas Tama ngelamunin kamu?” cerocos Raka. “udah Raka .. stopp !! bawel ya kamu ??? aku gak papa Ka, aku udah sehat kok” jawab Moza. “Mozz, aku mau ngomong sama kamu” Gagap raka. “iyah ngomong aja Ka” jawab Moza. “kamu mau gak Moz jadi cewekku ???” ucapanku yang buat Moza kaget.
“tapi Ka ?? kamu mau terima aku kaya gini ??? aku Cuma gak mau kamu kaya cowok-cowok yang lain” jawab Moza. “gue janji Moz, gue gak akan pernah buat lo sakit hati kaya mereka” jawabku.
Dan saat itu juga Raka dengan Moza resmi pacaran, mereka pelukan, kamar itu serasa penuh cinta. “Moza … satu kata buat kamu, love you beb” kata itu yang buat Moza semakin yakin sama Raka.
Setahun berlalu setelah Moza kritis dan kini lulus SMA, Moza hidup bahagia bersama Raka, hari-harinya sangat menyenangkan berdua bersama Raka. Moza gak pernah bayangin sebelumnya akan sebahagia seperti ini dengan Raka, tiap hari serasa penuh cinta. Sampai akhirnya Moza bertemu dengan Raka ditaman kampus lagi berduaan sama cewek lain, Moza yang saat itu tersenyum jadi pendiam. Gimana gak ??? Moza liat sendiri Raka mesra-mesraaan sama cewek itu, sesegera Moza pergi dari hadapan mereka, Moza gak ingin liat kejadian itu lagi. Moza menuju kantin, dan menangis hanya untuk Raka cowok yang Moza sayang, dari belakang Moza ada sesosok cewek yang mulai menghampiri Moza. “Moz,, lo kenapa ?” Tanya Ricka sahabat Moza.
“eeh … Ricka ?? tu Rick,, Raka !” jawab Moza lemas.
“lo diapain sama Raka Moz ?! biar gue ngomong sama dia !” ujar Ricka mulai emosi.
“gak usah Ricka ntar makin panjang,, gue tadi liat dia berduaan sama cewek ditaman kampus” jawabku lemas. “gue bakal samperin dia Mozz ,, gue gak akan pernah rela lo disakitin gini” ujar Ricka meninggalkan Moza.
diparkiran kampuss …
Setelah Ricka ninggalin Moza,, Ricka sesegera mungkin mencari Raka disemua sudut kampus, tetapi Raka berada diparkiran akan pulang, Ricka langsung datangin Raka dan memarahin Raka habis-habisan.
“hey BOY ! mau lo apa kaya gitu ke sahabat gue ?” tanya Ricka emosi.
“maksud lo ?” jawab Raka.
“itu, si Moza ! Lo apain dia ?? gue gak akan terima lo gituin Moza” marah Ricka.
“apa sih Rick ? gue gak ngapa-ngapain Moza” jawab Raka nyolot.
saat Moza mencoba menyusul Ricka yang sedang emosi sama Raka, tapi ternyata takdir berkata lain, Moza tertabrak mobil dan dia terjatuh. Ricka dan Raka yang sedang cekcok langsung datang dan melihat kejadian itu, ternyata …. “Mozaaaaaa !!!!” teriak Raka dan Ricka terkejut. “Moza … jangan pergi !!!” ujar Raka.
Raka dan Ricka segera membawa Moza kerumah sakit, tapi saat dijalan Moza bicara satu kata buat raka. “Raka,, aku harap kamu tau aku sayang kamu tanpa kekurangan. Maafin aku kalau selama ini aku pernah sakitin kamu, love you sayang” ucapan terakhir dari Moza dan Moza pingsan.
Siang itu dicafe mas Tama ..
Raka sedih banget..pastinya, semenjak dia tau kalau Moza punya penyakit seperti itu ! dipesannya secangkir cofee, diaduk cofee itu beserta gulanya. Raka yang saat itu sedang mengaduk cofeenya tersirat bayangan Moza yang sedang berbaring dirumah sakit...
“Mozz ,, aku menghawatirkanmu" ujar Raka ingin menangis.
Raka sedih banget..pastinya, semenjak dia tau kalau Moza punya penyakit seperti itu ! dipesannya secangkir cofee, diaduk cofee itu beserta gulanya. Raka yang saat itu sedang mengaduk cofeenya tersirat bayangan Moza yang sedang berbaring dirumah sakit...
“Mozz ,, aku menghawatirkanmu" ujar Raka ingin menangis.
“Apakah sebenarnya yang aku rasakan ini ... Cinta ? aku semakin tak mengerti sama hatiku” ucap raka sedih.
dikamar tempat Moza dirawat ..
“Moz ,, kamu udah sadar ?? aku sangat menghawatirkan mu Moza" cerocos Raka yang selalu bertanya.
dikamar tempat Moza dirawat ..
“Moz ,, kamu udah sadar ?? aku sangat menghawatirkan mu Moza" cerocos Raka yang selalu bertanya.
“hmm, nggak papa kok Ka. aku udah baikan, terimakasi kamu udah jagain aku selama aku dirawat ?" ujar Moza lemas.
“Moz aku janji, aku akan jagain kamu” ucap Raka.
Cintaku .. ragaku .. Jiwaku .. hidupku, hanya untukmu .. "MOZA"
“love you” Raka tersenyum manis.
“Moz aku janji, aku akan jagain kamu” ucap Raka.
Cintaku .. ragaku .. Jiwaku .. hidupku, hanya untukmu .. "MOZA"
“love you” Raka tersenyum manis.
Setahun setelah kejadian itu, dirumah Moza
pukul 06.00
“pagi beb ??” sapa Raka.
Yaa, BEB adalah panggilan sayang untuk Moza, Raka mengucapkannya begitu lembut dan penuh kasih sayang.
“hm..iyah beb, pagi juga" jawab Moza.
“pagi banget kamu jemput aku kuliah ?" tanya Moza dengan senyum manissnya.
“hehe...aku pengen aja jemput kamu beb, kangen..” jawab Raka malu.
“hahaha ... kamu tuh beb, bisa aja. Ayoo kita berangkat” ajak Moza sambil berpamitan dengan kedua orang tuanya yang saat itu ikut mengantarnya kedepan.
Terlaihat sekali mereka berdua adalah pasangan serasi, dari awal bertemu hingga sekarang Moza tak pernah menyakiti Raka, dan mereka selalu bersama. Dimana pun ada Moza pasti ada Raka. Begitupun sebaliknya.
“beb, kamu tadi udah makan belum ?” tanya Raka.
“emm..belum beb tadi cuma minum susu” jawab Moza lesu.
“gimana klo kita makan dulu beb ? dicafe Mas Tama sambil jenguk dia” ajak Raka.
“hm...iya, tapi gak mungkin beb Mas Tama datang sepagi ini ???” jawab Moza.
Ya memang si cafe Mas Tama sangat ramai karena Mas Tama mensajikan makanan yg berbeda diantara cafe lainnya. Dan fasilitas dicafe itu juga enak dan nyaman, contohnya. cafe Mas Tama itu tingkat 3, lantai dasar adalah Cafe utamanya, lantai dua adalah Toko Buku yang memiliki berbagai macam buku, dan lantai paling atas adalah Warnet. Bisa bayangin dong kaya apa cafe Mas Tama itu ?? aku dan Raka adalah salah satu pengunjung penetap dicafe itu, bisa dibilang “TEMPAT FAVORITE” dan setiap kita kesana nggak segan-segan kita membawa teman kita berdua buat nyobain, sekalian biar cafe Mas Tama makin larisss. Apalagi ada WiFinya dan bukanya pun 24jam.
Dicafe Mas Tama itu terdapat banyak menu, ada :
- Salad Prancis
-Coffe Milk
-Roti Ayam (roti yang isinya semua daging ayam campur saos sambal)
-Milk Shake
-DLL.
makanya nggak salah klo cafe milik Mas Tama ini bisa banyak pengunjungnya termasuk kita.
30menit kemudian ...
Aku dan Raka segera mencari tempat yang nyaman untuk kita, Raka segera memesan makanan kesukaan ku dan Raka.
Sementara aku membuka laptopku dan menghidupkannya, aku membuka FACEBOOK ku yang sudah lama tidak aku buka saat aku sibuk beberapa bulan ini, aku lihat banyak sekali request, wall dan yang lain difacbook ku itu mungkin requestnya sekitar 2.475 orang dan pemberitahuannya 1320.
Aku terkejut, karena banyak sekali yang menanyakan bagaimana kabarku dan sudah sembuhkah aku.
Aku terharu, tak terasa air mataku jatuh ketika aku membaca wall dari Raka untuk Reva sahabatku yang berbunyi "Vaa,jujur aku tak inginkan ini semua terjadi padaku. Aku sayang banget sama Moza, Va..tolong jangan biarkan aku melupakannya!"
Aku sangat terharu membaca wall itu, aku memeluk erat tubuh Raka, sejenak Raka terkejut namun Raka tersenyum manis dan membalas pelukanku dengan hangat.
Tak lama kemudian makanan pun datang, Moza dan Raka segera menyantapnya.
“makan yang banyak yah sayang” ujar Raka menatapku.
“iyah beb” jawabku.
Jam menunjukkan pukul 07.15, aku dan Raka segera berberes dan berangkat.
Dalam hati senang tapi sedih juga apa yang harus aku katakan jika Raka tau aku akan operasi ke Amerika ? aku bingung, dalam hati aku hanya bisa menangis, andai Raka tau.
Tak segan aku ucapkan pada Raka "beb ... love you so"
pukul 06.00
“pagi beb ??” sapa Raka.
Yaa, BEB adalah panggilan sayang untuk Moza, Raka mengucapkannya begitu lembut dan penuh kasih sayang.
“hm..iyah beb, pagi juga" jawab Moza.
“pagi banget kamu jemput aku kuliah ?" tanya Moza dengan senyum manissnya.
“hehe...aku pengen aja jemput kamu beb, kangen..” jawab Raka malu.
“hahaha ... kamu tuh beb, bisa aja. Ayoo kita berangkat” ajak Moza sambil berpamitan dengan kedua orang tuanya yang saat itu ikut mengantarnya kedepan.
Terlaihat sekali mereka berdua adalah pasangan serasi, dari awal bertemu hingga sekarang Moza tak pernah menyakiti Raka, dan mereka selalu bersama. Dimana pun ada Moza pasti ada Raka. Begitupun sebaliknya.
“beb, kamu tadi udah makan belum ?” tanya Raka.
“emm..belum beb tadi cuma minum susu” jawab Moza lesu.
“gimana klo kita makan dulu beb ? dicafe Mas Tama sambil jenguk dia” ajak Raka.
“hm...iya, tapi gak mungkin beb Mas Tama datang sepagi ini ???” jawab Moza.
Ya memang si cafe Mas Tama sangat ramai karena Mas Tama mensajikan makanan yg berbeda diantara cafe lainnya. Dan fasilitas dicafe itu juga enak dan nyaman, contohnya. cafe Mas Tama itu tingkat 3, lantai dasar adalah Cafe utamanya, lantai dua adalah Toko Buku yang memiliki berbagai macam buku, dan lantai paling atas adalah Warnet. Bisa bayangin dong kaya apa cafe Mas Tama itu ?? aku dan Raka adalah salah satu pengunjung penetap dicafe itu, bisa dibilang “TEMPAT FAVORITE” dan setiap kita kesana nggak segan-segan kita membawa teman kita berdua buat nyobain, sekalian biar cafe Mas Tama makin larisss. Apalagi ada WiFinya dan bukanya pun 24jam.
Dicafe Mas Tama itu terdapat banyak menu, ada :
- Salad Prancis
-Coffe Milk
-Roti Ayam (roti yang isinya semua daging ayam campur saos sambal)
-Milk Shake
-DLL.
makanya nggak salah klo cafe milik Mas Tama ini bisa banyak pengunjungnya termasuk kita.
30menit kemudian ...
Aku dan Raka segera mencari tempat yang nyaman untuk kita, Raka segera memesan makanan kesukaan ku dan Raka.
Sementara aku membuka laptopku dan menghidupkannya, aku membuka FACEBOOK ku yang sudah lama tidak aku buka saat aku sibuk beberapa bulan ini, aku lihat banyak sekali request, wall dan yang lain difacbook ku itu mungkin requestnya sekitar 2.475 orang dan pemberitahuannya 1320.
Aku terkejut, karena banyak sekali yang menanyakan bagaimana kabarku dan sudah sembuhkah aku.
Aku terharu, tak terasa air mataku jatuh ketika aku membaca wall dari Raka untuk Reva sahabatku yang berbunyi "Vaa,jujur aku tak inginkan ini semua terjadi padaku. Aku sayang banget sama Moza, Va..tolong jangan biarkan aku melupakannya!"
Aku sangat terharu membaca wall itu, aku memeluk erat tubuh Raka, sejenak Raka terkejut namun Raka tersenyum manis dan membalas pelukanku dengan hangat.
Tak lama kemudian makanan pun datang, Moza dan Raka segera menyantapnya.
“makan yang banyak yah sayang” ujar Raka menatapku.
“iyah beb” jawabku.
Jam menunjukkan pukul 07.15, aku dan Raka segera berberes dan berangkat.
Dalam hati senang tapi sedih juga apa yang harus aku katakan jika Raka tau aku akan operasi ke Amerika ? aku bingung, dalam hati aku hanya bisa menangis, andai Raka tau.
Tak segan aku ucapkan pada Raka "beb ... love you so"
Sudah seminggu Raka tidak ada kabar dan tidak pernah kerumah, terakhir dia kerumah saat menjemputku pagi itu.
Aku tau kalau Raka pasti sibuk karna dia sedang ujian, tapi aku curiga karna nggak biasanya dia seperti ini ! Apa aku punya salah dengannya ?? dia akhir-akhir ini jarang sms, telepon dan ketemu, Ketemupun kalau dikampus, itupun cuma 15menit karna dia buru-buru .
Aku curiga dengan Raka, apa Raka tau kalau aku akan operasi keAMERIKA ? Tuhan, bantu aku ! apa yg harus aku lakukan ??
pagi itu dikampus .. jam 8.45 ..
Aku mencari Raka disemua tempat tapi tak ada, aku coba bertanya pada temanya tapi tak ada satupun yang tau. Aku mencoba menghubunginya handphonenya tak aktif, "raka, kamu kemana ? kenapa kamu tiba-tiba jadi menjauh seperti ini ?? Katakan padaku, apa salahku beb" ucapku dalam hati dan..rintihlah air mata itu.
Aku terkejut, sangat !!! Aku tak menyangka, aku menemukan Raka ditaman kampus sedang berduaan dengan cewek dan aku kenal itu.
“RAKA !!!” teriakku memanggilnya.
siapa wanita yang berada tepat disamping Raka yang sedang tidur dibahu Raka seperti orang menangis ?
Aku semakin curiga dan aku meninggalkan mereka berdua tanpa aku tau siapa wanita itu. Aku lari dan menangis, aku bertemu Ricka, dia sahabatku. Aku tak segan memeluknya dan menangis dibahunya..
“Moz, lo kenapa nangis ?” tanya Ricka.
“hmmh..Raka...Raka ...” jawabku sendu.
Aku tau kalau Raka pasti sibuk karna dia sedang ujian, tapi aku curiga karna nggak biasanya dia seperti ini ! Apa aku punya salah dengannya ?? dia akhir-akhir ini jarang sms, telepon dan ketemu, Ketemupun kalau dikampus, itupun cuma 15menit karna dia buru-buru .
Aku curiga dengan Raka, apa Raka tau kalau aku akan operasi keAMERIKA ? Tuhan, bantu aku ! apa yg harus aku lakukan ??
pagi itu dikampus .. jam 8.45 ..
Aku mencari Raka disemua tempat tapi tak ada, aku coba bertanya pada temanya tapi tak ada satupun yang tau. Aku mencoba menghubunginya handphonenya tak aktif, "raka, kamu kemana ? kenapa kamu tiba-tiba jadi menjauh seperti ini ?? Katakan padaku, apa salahku beb" ucapku dalam hati dan..rintihlah air mata itu.
Aku terkejut, sangat !!! Aku tak menyangka, aku menemukan Raka ditaman kampus sedang berduaan dengan cewek dan aku kenal itu.
“RAKA !!!” teriakku memanggilnya.
siapa wanita yang berada tepat disamping Raka yang sedang tidur dibahu Raka seperti orang menangis ?
Aku semakin curiga dan aku meninggalkan mereka berdua tanpa aku tau siapa wanita itu. Aku lari dan menangis, aku bertemu Ricka, dia sahabatku. Aku tak segan memeluknya dan menangis dibahunya..
“Moz, lo kenapa nangis ?” tanya Ricka.
“hmmh..Raka...Raka ...” jawabku sendu.
“kenapa Raka, Moza ? Lo diapain ??” tanya Ricka sambil melepaskan pelukanku.
“Gue..arrgh~ gue bingung Rick” jawabku emosi.
“ok ! Lo tenangin dulu pikiran lo, jangan nangis” ucap Ricka menghusap bahuku dan membawaku kekantin.
Mengapa semua jadi seperti ini ?? Ada apa dengan Raka ? Yang aku bingung Raka setega itu pada Moza.
“Gue..arrgh~ gue bingung Rick” jawabku emosi.
“ok ! Lo tenangin dulu pikiran lo, jangan nangis” ucap Ricka menghusap bahuku dan membawaku kekantin.
Mengapa semua jadi seperti ini ?? Ada apa dengan Raka ? Yang aku bingung Raka setega itu pada Moza.
Aku menangis..
“panas dan sakit yang aku rasakan saat itu, aku kecewa pada Raka. Aku sangat percaya dengannya, tapi kenapa dia gini Ricka ! Baru saja aku melihatnya ditaman kampus sedang berdua dengan cewek lain dan aku kenal siapa dia ..” curhatanku pada Ricka saat dikantin.
Ricka yang saat itu berada didepanku dan mendengar semua curhatanku, terkejut dan marah. Ricka segera pergi meninggalkan Moza yang sedang menangis.
Moza menyusulnya, RICKA ! Please gue mohon jangan sakitin Raka” ujar Moza.
Ricka yang saat itu berada didepanku dan mendengar semua curhatanku, terkejut dan marah. Ricka segera pergi meninggalkan Moza yang sedang menangis.
Moza menyusulnya, RICKA ! Please gue mohon jangan sakitin Raka” ujar Moza.
“lo bego apa gimana si Moz ? Lo itu udah disakitin sama Raka, masih aja lo bela dia” ujar Ricka penuh emosi.
“ok ! Gue ikut lo ya Rick” jawab Moza.
“ok ! Gue ikut lo ya Rick” jawab Moza.
“ayo sekarang kita samperin Raka ! Mau dia apa” ujar Ricka.
“ok !” jawab Moza gugup.
sepanjang perjalanan, Moza tetap menangis. Moza bingung apa yang harus ia lakukan.
Tuhan...bantu aku. Hikz hikz ..
“Semalaman gue nangis, gue sempet stress karna kejadian kemarin. Kemarin tuh gue mimpi atau emang beneran terjadi sih ?” ujar Moza.
sepanjang perjalanan, Moza tetap menangis. Moza bingung apa yang harus ia lakukan.
Tuhan...bantu aku. Hikz hikz ..
“Semalaman gue nangis, gue sempet stress karna kejadian kemarin. Kemarin tuh gue mimpi atau emang beneran terjadi sih ?” ujar Moza.
Diranjang kasur kamarnya Moza terbangun dan sedikit dengan wajah suntuk banget.
“gue stress nih. Apa yang harus gue lakuin ??” eluh Moza.
Dilihatnya sekotak rokok dan korek yang berada dilaci dekat dia tidur, diambilnya sebatang rokok dan menyalakannya. Hemmmh..huuuwh..ternyata emang bener yah cuma rokok yang bisa bikin stress jadi ilang !
Tak sadar ternyata Moza menghabiskan 5batang rokok dikamarnya, tok..tok..tok...Moza ? terdengar suara mama dari luar kamar Moza, sesegera mungkin Moza mematikan rokok terakhirnya dan menyemprot kamarnya dengan pewangi ruangan. Kalau nggak, gue bisa bisa dimarahin nyokap.
“Moza ...” panggil mama.
“Iya ma ... Bentar !!” jawab Moza hawatir.
Huuft..tidak lupa juga dia memakan permen lolipop kesukaanya.
“Hem..apa ma ??” tanya Moza.
“sayang, kamu nggak kuliah ??” jawab mama.
“iya dong ma Moza kuliah kok.” jawab Moza.
“yasudah mandi sana” saran mama.
Tak sadar ternyata Moza menghabiskan 5batang rokok dikamarnya, tok..tok..tok...Moza ? terdengar suara mama dari luar kamar Moza, sesegera mungkin Moza mematikan rokok terakhirnya dan menyemprot kamarnya dengan pewangi ruangan. Kalau nggak, gue bisa bisa dimarahin nyokap.
“Moza ...” panggil mama.
“Iya ma ... Bentar !!” jawab Moza hawatir.
Huuft..tidak lupa juga dia memakan permen lolipop kesukaanya.
“Hem..apa ma ??” tanya Moza.
“sayang, kamu nggak kuliah ??” jawab mama.
“iya dong ma Moza kuliah kok.” jawab Moza.
“yasudah mandi sana” saran mama.
“ok ma, 5menit lagi ya ? Mau habisin lolipop nih” ujar Moza.
30menit setelah mandi ..
Moza segera berberes-beres dan berangkat, tanpa makan pagi.
Dikampus, Moza mencari Ricka.
30menit setelah mandi ..
Moza segera berberes-beres dan berangkat, tanpa makan pagi.
Dikampus, Moza mencari Ricka.
“ternyata dia disitu” ujar Moza.
“Rick ...” panggil Moza.
“apa Moz ? Lo kangen gue ?” canda Ricka.
“ha ?? Gila apa” jawab Moza tertawa.
“Hahaha ... Apa Moz ? Gimana Raka ?” tanya Ricka lagi.
“taulah Rick .. Gue stress !!” ujar Moza lalu duduk.
“udahlah .. tapi tunggu deh, Moz bibir lo kok item gitu ? Lo ngerokok ??” curiga Ricka dengan wajah raut.
“Hm ... iya” jawab Moza singkat.
“kapan Moz ?” tanya Ricka lagi.
“tadi pagi, habis gue stress !” jawab Moza.
“ha ? Lo gila apa ?? Rokok tu nggak baik Moza!” ujar Ricka.
“Apaan si lo Rick ?! Biasa aja deh, Hahahaha” jawab Moza tertawa.
Dilihat dari jarak 2meter dari meja mereka, ada sosok lelaki yang berdiri tegak memanggil Moza.
“Mozzaaaaa !” teriak cowok itu.
Moza dan Ricka melengah melihat sapa yang memanggil tadi.
Ternyata...RAKA ??
“Rick ...” panggil Moza.
“apa Moz ? Lo kangen gue ?” canda Ricka.
“ha ?? Gila apa” jawab Moza tertawa.
“Hahaha ... Apa Moz ? Gimana Raka ?” tanya Ricka lagi.
“taulah Rick .. Gue stress !!” ujar Moza lalu duduk.
“udahlah .. tapi tunggu deh, Moz bibir lo kok item gitu ? Lo ngerokok ??” curiga Ricka dengan wajah raut.
“Hm ... iya” jawab Moza singkat.
“kapan Moz ?” tanya Ricka lagi.
“tadi pagi, habis gue stress !” jawab Moza.
“ha ? Lo gila apa ?? Rokok tu nggak baik Moza!” ujar Ricka.
“Apaan si lo Rick ?! Biasa aja deh, Hahahaha” jawab Moza tertawa.
Dilihat dari jarak 2meter dari meja mereka, ada sosok lelaki yang berdiri tegak memanggil Moza.
“Mozzaaaaa !” teriak cowok itu.
Moza dan Ricka melengah melihat sapa yang memanggil tadi.
Ternyata...RAKA ??
“Raka ?? ngapain sih dia kesini Rick belum puas apa dia nyakitin gue ??” ujar Moza sebel.
sesegera mungkin Raka menghampiri Moza, mungkin Raka ingin jelasin semua ke Moza.
“ngapain lo kesini Ka ? Belum cukup lo sakitin sahabat gue ?” tanya Ricka ketus.
“gue, gue cuma mau jelasin semua ke Moza kok Rick. Please bantu gue !” jawab Raka memohon.
“tapi Moza nggak mau ngomong sama lo. Tapi berhubung gue baik, why not ??? Gue nggak mau ganggu” ucap Ricka dan segera pergi.
“Moz, aku mau ngomong sama kamu. Aku nggak ada hubungan apapun sama cewek kemarin, dia cuma curhat sama aku dan aku cuma mau nenangin dia. itu aja ? Percaya aku beb !!” ujar Raka menggenggam tangan Moza.
“Gue udah nggak percaya beb sama lo, gue capek !! mending kita putus” jawab Moza.
“Beb !! aku nggak mau putus sama kamu, Please beb ? percaya aku !” kali ini Raka memohon.
Tanpa jawaban apapun Moza meninggalkan Raka begitu saja..
Tak terasa Raka menangis, Raka memang sayang Moza.
sesegera mungkin Raka menghampiri Moza, mungkin Raka ingin jelasin semua ke Moza.
“ngapain lo kesini Ka ? Belum cukup lo sakitin sahabat gue ?” tanya Ricka ketus.
“gue, gue cuma mau jelasin semua ke Moza kok Rick. Please bantu gue !” jawab Raka memohon.
“tapi Moza nggak mau ngomong sama lo. Tapi berhubung gue baik, why not ??? Gue nggak mau ganggu” ucap Ricka dan segera pergi.
“Moz, aku mau ngomong sama kamu. Aku nggak ada hubungan apapun sama cewek kemarin, dia cuma curhat sama aku dan aku cuma mau nenangin dia. itu aja ? Percaya aku beb !!” ujar Raka menggenggam tangan Moza.
“Gue udah nggak percaya beb sama lo, gue capek !! mending kita putus” jawab Moza.
“Beb !! aku nggak mau putus sama kamu, Please beb ? percaya aku !” kali ini Raka memohon.
Tanpa jawaban apapun Moza meninggalkan Raka begitu saja..
Tak terasa Raka menangis, Raka memang sayang Moza.
“tapi kenapa Moza gini sama gue ??” ujar Raka.
Raka mengeluarkan mp4 nya dan mendengarkan lagu kesukaan dia.
mana janji manismu ..
Raka mengeluarkan mp4 nya dan mendengarkan lagu kesukaan dia.
mana janji manismu ..
Mencintaiku sampai mati ..
kini engkaupun pergi ..
Saat ku terpuruk sendiri
(sang mantan - Nidji)
Ternyata setelah Moza meninggalkan Raka, Moza menenangkan diri ditaman tempat ia melihat Raka berdua dengan cewek lain. Dan diputarnya lagu yang baru saja ia dapat.
hanya air mata ..
hanya air mata ..
dan sesal ku rasa ..
Didepanku kau bercinta ..
ku tak ingin dengar ratapanmu ..
dan ku takkan lagi menyentuhmu ..
Pergi dan jangan kembali ..
ku ingin sendiri ...
(mencintai tuk disakiti - Ari)
Tak terasa air mata itu turun membasahi pipi merah Moza, sesegera juga Moza menghapus air matanya dan mengambil rokok serta korek lalu menyalakannya, gue kali ini bener-bener STRESS ! Gue harus gimana ??
Dibelakang Moza ada seorang cewek yang menghampirinya dan saat Moza akan menyedot rokok itu diambilah oleh cewek itu.
“ehh, apaan si ??” ujar Moza.
Ternyata..Ha ???????????
Tak terasa air mata itu turun membasahi pipi merah Moza, sesegera juga Moza menghapus air matanya dan mengambil rokok serta korek lalu menyalakannya, gue kali ini bener-bener STRESS ! Gue harus gimana ??
Dibelakang Moza ada seorang cewek yang menghampirinya dan saat Moza akan menyedot rokok itu diambilah oleh cewek itu.
“ehh, apaan si ??” ujar Moza.
Ternyata..Ha ???????????
“Rickaa ??? lo ngapain kesini ?” ujar Moza cuek dan berusaha mengambil rokoknya tapi tak diberi oleh Ricka.
“lo yang ngapain disini Mozz ?? lo kira dengan lo pergi dan lo ngerokok gini semua masala lo bisa selesai ? yang ada lo sakit Mozaa !!! lo udah gila apa ??? sadar Mozz sadaarr...hidup lo masih panjang dan jauhh lebih indah tanpa dia, inget itu” ujar Ricka menangis.
“tapi Rick, gue sekarang stress, gue bingung, cuma rokok yang bisa bikin gue ploong. Lo juga ngerokok kan ??” jawab Moza.
“inget ya Mozz !!! gue emang ngerokok tapi itu bukan karena gue stress, ngerti lo ?! gue kaya gini karena gue sayang, care, dan gak mau lo kenapa-kenapa Moza !!! please berenti ya” jawab Ricka sambil memeluk Moza.
“aduuh...udah deh Rick, jangan nangis. Gue gak mau lo nangisin gue, oke oke gue berenti ngerokok. maafin gue ya Rick ?? and thengs lo udah mau jadi sahabat gue” ujar Moza membalas pelukan Ricka.
*setelah mereka cekcok, akhirnya mereka baikan dan Moza mengajak Ricka pergi makan diluar, buat cairin suasana. Ricka paling suka makan dicafe tempat biasanya gue sama Raka kesana "kedai ampel" cafe kedua yang biasanya gue kunjungin setelah bosen makan dicafe Mas Tama.
Lima menit dari kampus, akhirnya sampai juga.
“lo mau pesen apa Rick ??” tawaranku.
“gue mau pesen samboza sama blue ice aja deh” jawab Ricka.
“ok .. gue pesen roti arab aja sama stoberi virgin ya mas” pesanku.
Kita berdua emang males banget yang namanya MENUNGGU, akhirnya kita berdua buka laptop dan mulai ngenet, disaat-saat kaya gitu kita paling demen ngenet !!!
gue sama Ricka mulai buka 'facebook' gue lihat ada 57pemberitahuan sama 15friend request, gila banyak amat si ???
“pada gue gak kenal semua lagi” ujarku bingung.
10menit kemudian ...
“lo yang ngapain disini Mozz ?? lo kira dengan lo pergi dan lo ngerokok gini semua masala lo bisa selesai ? yang ada lo sakit Mozaa !!! lo udah gila apa ??? sadar Mozz sadaarr...hidup lo masih panjang dan jauhh lebih indah tanpa dia, inget itu” ujar Ricka menangis.
“tapi Rick, gue sekarang stress, gue bingung, cuma rokok yang bisa bikin gue ploong. Lo juga ngerokok kan ??” jawab Moza.
“inget ya Mozz !!! gue emang ngerokok tapi itu bukan karena gue stress, ngerti lo ?! gue kaya gini karena gue sayang, care, dan gak mau lo kenapa-kenapa Moza !!! please berenti ya” jawab Ricka sambil memeluk Moza.
“aduuh...udah deh Rick, jangan nangis. Gue gak mau lo nangisin gue, oke oke gue berenti ngerokok. maafin gue ya Rick ?? and thengs lo udah mau jadi sahabat gue” ujar Moza membalas pelukan Ricka.
*setelah mereka cekcok, akhirnya mereka baikan dan Moza mengajak Ricka pergi makan diluar, buat cairin suasana. Ricka paling suka makan dicafe tempat biasanya gue sama Raka kesana "kedai ampel" cafe kedua yang biasanya gue kunjungin setelah bosen makan dicafe Mas Tama.
Lima menit dari kampus, akhirnya sampai juga.
“lo mau pesen apa Rick ??” tawaranku.
“gue mau pesen samboza sama blue ice aja deh” jawab Ricka.
“ok .. gue pesen roti arab aja sama stoberi virgin ya mas” pesanku.
Kita berdua emang males banget yang namanya MENUNGGU, akhirnya kita berdua buka laptop dan mulai ngenet, disaat-saat kaya gitu kita paling demen ngenet !!!
gue sama Ricka mulai buka 'facebook' gue lihat ada 57pemberitahuan sama 15friend request, gila banyak amat si ???
“pada gue gak kenal semua lagi” ujarku bingung.
10menit kemudian ...
Setelah makanan yang kita pesen akhirnya dateng juga.
“ini mbak makanannya” ujar mas pelayan itu.
“makasih mas” jawabku.
“akhirnya makanannya dateng juga nih Rick” ujar Moza tapi Ricka tetap konsen dengan facebooknya.
Sementara gue mulai menutup laptop dan keluar dari facebook..
Gue incip makanan yang udah lama nggak gue makan soalnya gue sibuk.
“amm...wiih, sumpah gue udah lama nggak makan disini ternta rasanya nggak berubah yah ??” ujar Moza ke Ricka.
“apaan si Mozz yang nggak berubah ?” tanya Ricka.
“yee...lo tu dasar ya ?? buruan makan Rick, ntar keburu dingin loh” ujarku.
“ntar aja nanggung nih Mozz” jawab Ricka.
“buruan...ntar gue makan juga nih” bantah gue.
malam itu dirumah moza ...
Dilihatnya hape Moza yang dari tadi memang nggak Moza bawa, Moza melihat ada 20sms dan 11panggilan tak terjawab, dibukanya dan ternyata semua dari Raka, dia minta maaf berulang kali..
Mozapun menangis. “kenapa air mata gue jatuh lagi cuma gara-gara Raka ???” ujarnya dalam hati.
Moza mendekati jendela kamarnya dilihatnya bintang diatas dan tak tahan Moza menangis lagi ...
“ooh GOD .. apa yang harus aku lakukan ini ?? aku terlalu mencintai Raka ....”
tapi Raka sudah sakitin aku begitu dalam ...
bantu aku ...
14.12.o9 ... bangun pagi ..
Kemarin bener-bener nggak gue sangka gue sebegok itu..Hahaha..
“ini mbak makanannya” ujar mas pelayan itu.
“makasih mas” jawabku.
“akhirnya makanannya dateng juga nih Rick” ujar Moza tapi Ricka tetap konsen dengan facebooknya.
Sementara gue mulai menutup laptop dan keluar dari facebook..
Gue incip makanan yang udah lama nggak gue makan soalnya gue sibuk.
“amm...wiih, sumpah gue udah lama nggak makan disini ternta rasanya nggak berubah yah ??” ujar Moza ke Ricka.
“apaan si Mozz yang nggak berubah ?” tanya Ricka.
“yee...lo tu dasar ya ?? buruan makan Rick, ntar keburu dingin loh” ujarku.
“ntar aja nanggung nih Mozz” jawab Ricka.
“buruan...ntar gue makan juga nih” bantah gue.
malam itu dirumah moza ...
Dilihatnya hape Moza yang dari tadi memang nggak Moza bawa, Moza melihat ada 20sms dan 11panggilan tak terjawab, dibukanya dan ternyata semua dari Raka, dia minta maaf berulang kali..
Mozapun menangis. “kenapa air mata gue jatuh lagi cuma gara-gara Raka ???” ujarnya dalam hati.
Moza mendekati jendela kamarnya dilihatnya bintang diatas dan tak tahan Moza menangis lagi ...
“ooh GOD .. apa yang harus aku lakukan ini ?? aku terlalu mencintai Raka ....”
tapi Raka sudah sakitin aku begitu dalam ...
bantu aku ...
14.12.o9 ... bangun pagi ..
Kemarin bener-bener nggak gue sangka gue sebegok itu..Hahaha..
yaudahlah ya biarin aja, emm.. udah jam segini, gue mandi dulu ahh..
*setelah mandi ..
Ternyata Ricka sudah menunggu ku didepan, rajin banget dia gitu ? ada apa dengan Ricka.
Moza turun kebawah dan menemui Ricka, ternyata dia udah makan duluan bareng mama, papa dan kak Nana.
“Lo kesini niat jemput gue atau numpang makan ?” tanyaku ketus.
*setelah mandi ..
Ternyata Ricka sudah menunggu ku didepan, rajin banget dia gitu ? ada apa dengan Ricka.
Moza turun kebawah dan menemui Ricka, ternyata dia udah makan duluan bareng mama, papa dan kak Nana.
“Lo kesini niat jemput gue atau numpang makan ?” tanyaku ketus.
“ya niat jemput lo lah Moz, sekalian numpang makan. Kenapa nggak boleh, ha ??” jawab Ricka.
5menit setelah makan, Dari rumah gue sama Ricka segera cabut kekampus, sampai dikampus kita mencar. Gue digedung B, Ricka digedung A, saat gue jalan ke gedung B gue ketemu Raka. Ternyata Raka udah nungguin gue didepan pintu, gue cuekin dia tapi dia tarik tangan gue, “ahh,sial !!!” ujar ku. dan Raka mengajak ku ketaman, tapi gue tolak , “gue masih ada mata kuliah pagi ini Ka,” ujar Moza berusaha lepasin tangan dari genggaman Raka. “ok .. Moz, gue tunggu kamu disini” jawab Raka maksa.
5menit setelah makan, Dari rumah gue sama Ricka segera cabut kekampus, sampai dikampus kita mencar. Gue digedung B, Ricka digedung A, saat gue jalan ke gedung B gue ketemu Raka. Ternyata Raka udah nungguin gue didepan pintu, gue cuekin dia tapi dia tarik tangan gue, “ahh,sial !!!” ujar ku. dan Raka mengajak ku ketaman, tapi gue tolak , “gue masih ada mata kuliah pagi ini Ka,” ujar Moza berusaha lepasin tangan dari genggaman Raka. “ok .. Moz, gue tunggu kamu disini” jawab Raka maksa.
setelah jam mata kuliah pak Jarwo ..
Moza keluar, dan Raka masih tetap menunggu Moza sampai jam mata kulaih selesai, Moza tetap nggak gubris kehadiran Raka dan pergi begitu saja. Tapi Raka berusaha menarik tangan Moza dan mengajaknya ketaman belakang kampus, sesampainya ditaman Raka mulai jelasin semuanya, Moza dikejutkan dengan keadaan Raka yang menangis. Ha .. nangis ?? demi Moza ? itu jarang banget dilakuin sama cowok !
Setelah Raka jelasin semua dengan tangisannya, Moza pun terhanyut dan ikut menangis. “Beb..aku percaya kok sama kamu, aku sayang kamu ..” kata-kata yang dilontarkan Moza setelah meneteskan air mata.
Moza dan Raka berpelukan, hangat, cinta, sayang itu saat ini yang mereka rasakan.
“So sweet” ujar Ricka dari jauh.
o2.o1.1o ..
Sejak kejadian 2bulan yang lalu, gue balikan sama Raka. Ya, gue tau Raka yang terbaik, kita ulang semua dari nol. Gue nggak nyangka bisa gini ! hari-hari gue sekarang sedikit bahagia, mungkin karna Raka udah janji sama gue nggak akan ulangi semuanya dan lupain masalalu itu.
Yah, gue berusaha percaya aja, saat tahun baru kemarin kita rayain bertiga, gue, Raka dan Ricka. hahahaha.. Nggak nyangka aja jam 3pagi kita baru pulang, kita pergi ketempat yang sebelumnya tidak perna kita datangin. Nggak tau kenapa milih ditempat itu ?
Terakhir kali kita nonton konser diAncol, emm.. sedikit refreshing bagiku.
Bangun pagi setelah semalem jalan, gue turun dan sarapan. Dimeja makan mama, papa, kak Nana dan Mas Tama sudah menunggu ku. Gue duduk setara disebelah kaK Nana, "Pagi kak ?" ucap ku saat ngambil roti. Tak ada satupun jawaban dari dia, saat gue makan, mama memulai bicara
Sejak kejadian 2bulan yang lalu, gue balikan sama Raka. Ya, gue tau Raka yang terbaik, kita ulang semua dari nol. Gue nggak nyangka bisa gini ! hari-hari gue sekarang sedikit bahagia, mungkin karna Raka udah janji sama gue nggak akan ulangi semuanya dan lupain masalalu itu.
Yah, gue berusaha percaya aja, saat tahun baru kemarin kita rayain bertiga, gue, Raka dan Ricka. hahahaha.. Nggak nyangka aja jam 3pagi kita baru pulang, kita pergi ketempat yang sebelumnya tidak perna kita datangin. Nggak tau kenapa milih ditempat itu ?
Terakhir kali kita nonton konser diAncol, emm.. sedikit refreshing bagiku.
Bangun pagi setelah semalem jalan, gue turun dan sarapan. Dimeja makan mama, papa, kak Nana dan Mas Tama sudah menunggu ku. Gue duduk setara disebelah kaK Nana, "Pagi kak ?" ucap ku saat ngambil roti. Tak ada satupun jawaban dari dia, saat gue makan, mama memulai bicara
"Moz,bagaimana kuliah kamu ? kamu mau jurusan apa sebenarnya ?" tanya mama.
"mmm..baik ma, Moza ambil jurusan Bahasa dan Sastra Jepang ma ?" jawabku sambil makan roti selai kacangku.
"oh, apa tidak sebaiknya kamu kuliah saja di Jepang ?" tanya mama lagi.
Pertanyaan mama itu membuat aku terkejut, ha ? jepang ?? bagaimana dengan Raka ? "nggak tau ma, terserah apa kata mama" jawabanku lemas segera masuk kamar untuk berangkat kuliah.
08.45 ...
Dijalan gue masi aja mikirin masalah mama suruh aku kuliah di Jepang ! huuh..Raka.
Dijalan gue masi aja mikirin masalah mama suruh aku kuliah di Jepang ! huuh..Raka.
“Bagaimana dengan hubungan ku nanti ??? aku belum siap kehilangan dia, yaa.. “RAKA DELVANO” arrgggh~” uring-uringku saat itu.
o3.o1.1o ..
huuh, Jepang...Jepang dan Jepangg !!!
Itu nama yang aku ucapin berkali kali sebelum tidur, bangun tidur, makan, mandi sampai saat pelajaran kuliah aku terus ucapin kata "JEPANG" !!!
Apa sih yang ada dipikiran gue ini ???
Jepang Jepang Jepang...stooop !!! gue nggak mau inget itu. Gue nggak mau ninggalin Raka !!!!
pelajaran pun jadi tak masuk, malah melamun. “Moza Silvia” ujar Pak Jarwo dan aku masih tetap melamun. “MOZA SILVIA” teriak Pak Jarwo ditelinga ku.
huuh, Jepang...Jepang dan Jepangg !!!
Itu nama yang aku ucapin berkali kali sebelum tidur, bangun tidur, makan, mandi sampai saat pelajaran kuliah aku terus ucapin kata "JEPANG" !!!
Apa sih yang ada dipikiran gue ini ???
Jepang Jepang Jepang...stooop !!! gue nggak mau inget itu. Gue nggak mau ninggalin Raka !!!!
pelajaran pun jadi tak masuk, malah melamun. “Moza Silvia” ujar Pak Jarwo dan aku masih tetap melamun. “MOZA SILVIA” teriak Pak Jarwo ditelinga ku.
“ehh..emm..aehh.. iyaa pak ???” jawabku gugup.
“sedang apa kamu ?? sudah pintar kamu tidak menyimak pelajaran bapak, Moza ???” omelan Pak Jarwo yang hanya aku jawab dengan menunduk.
“tidak pak, maaf” jawabku lirih.
jam 09.45 ...
Setelah pelajaran Pak Jarwo serta omelannya, aku segera mencari Raka. Aku harus berbicara dengannya apapun yang terjadi. Akhirnya aku bertemu juga dengan Raka yang lagi duduk dikantin sambil menikmati makanannya.
jam 09.45 ...
Setelah pelajaran Pak Jarwo serta omelannya, aku segera mencari Raka. Aku harus berbicara dengannya apapun yang terjadi. Akhirnya aku bertemu juga dengan Raka yang lagi duduk dikantin sambil menikmati makanannya.
"beb...aku mau ngomong sama kamu ?" ujar ku memegam tangan Raka.
"apa beb ? kamu mau ngomong apa ??" jawabnya mencium telapak tanganku.
Aku menangis seketika melihat Raka yang sepertinya sudah mencintaiku sangat.
"beb, sebelum kamu ngomong aku mau ngomong duluan !" ujar dia tersenyum.
"aku mau ngelamar kamu Moz .." ungkapan Raka.
"ha ?? ngelamar ? ya ampuun..itu yang sangat aku nanti, tapi aku harus pergi .." ucapku dalam hati.
"ha ?? ngelamar ? ya ampuun..itu yang sangat aku nanti, tapi aku harus pergi .." ucapku dalam hati.
"lho ? beb..ngapain kamu nangis, kamu kenapa ?" tanya Raka menghapus air mataku. "beb, aku udah nggak tahan mau bicarain semua ke kamu. Beb.. aku mau dipindahin sekolah sama mama di Jepang, kamu tau itu ?" ungkapanku tak tahan menggenggam tangan Raka dan tangisanku semakin menjadi.
"apa ? Jepang ?? bagaimana denganku Moza ?! aku akan melamarmu, tapi kenapa kamu pergi tinggalin aku Moz ?" tanya Raka setara meneteskan air matanya.
"eheeehm..Raka ! aku sayang kamu, aku mau terima lamaran kamu ?! tapi besok ? Aku akan berangkat ke Jepang, sekarang saatnya aku terakhir bertemu kamu Ka" ujarku berdiri dan memeluk Raka mencium keningnya lalu pergi.
"eheeehm..Raka ! aku sayang kamu, aku mau terima lamaran kamu ?! tapi besok ? Aku akan berangkat ke Jepang, sekarang saatnya aku terakhir bertemu kamu Ka" ujarku berdiri dan memeluk Raka mencium keningnya lalu pergi.
"tapi Moza, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku terlalu cinta kamu, jangan pergi Mozaaaaaaaa !" teriak Raka memohon.
Kejadian tadi membuat Moza lagi-lagi harus menangis semalam dan nggak bisa tidur, Moza terus membayangi wajah Raka di foto yang dimilikkinya. "Raka..aku sayang kamu" ucapan terakhir Moza dan memeluk foto Raka.
Kejadian tadi membuat Moza lagi-lagi harus menangis semalam dan nggak bisa tidur, Moza terus membayangi wajah Raka di foto yang dimilikkinya. "Raka..aku sayang kamu" ucapan terakhir Moza dan memeluk foto Raka.
JEPANG ..
“Yahh, aku sudah sampai di Negeri Jepang. Negeri yang indah, cukup ramai dan membuat ku menangis seharian di kamar” ucap Moza ketika menyiapkan makan pagi.
"pagi yang cerah Moza" ucap sosok wanita yang berada di dekat pintu lalu masuk.
"Angel ? kamu udah datang ?"jawabku kaget.
"iyaa, aku sengaja datang sepagi ini. Karna ini kan hari pertama kamu masuk kuliah di Jepang ??" jawab Angel memperjelas maksud.
"iyaa, makasih ya." ucapku sambil menawarkan roti selai kacang yang sengaja aku buat dua.
"kamu udah makan ?" tanya ku lagi.
"ahh..udah nggak usah makasih" tolak Angel dengan senyum manis.
aaaaarrgh ~
Aku masi belum bisa melupakan sosok Raka, yang selamanya di hatiku.
Ocehku saat berjalan menuju kelas kampusku.
"Mozz,itu lucu yaa ?" tanya Angel sambil melihat ke arah wajahku yang sedang menangis dan terkejut.
"lhoo ? Mozz kamu kenapa ? kok nangis ?" tanya Angel lagi sambil mengusap bahuku.
"ahh..gapapa kok, aku cuma kangen saat-saat aku bersama Raka" jawabku tersendat.
"Raka siapa Moz ? pacar kamu ?" tanya Angel lagi.
"iyaa, aku sayang banget sama Raka, Ngel .." jawabku tatkala semakin besar tangisanku.
"sudah jangan nangis, aku tau perasaanmu.aku juga sama sepertimu Moza" ucap Angel menasehatiku.
*setelah selesai jam mata kuliahku yang ke dua, aku dan Angel pergi menuju kantin untuk makan, karena hari sudah semakin siang.
"Moz, coba kamu telpon Raka. Siapa tau dengan kamu telpon dia, rasa rindumu terobati" ucap Angel memberiku usul.
"iyaa" jawabku segera menelpon Raka.
tuut ... tutt .. tutt ..
"haloo ?" suara sosok lelaki yang aku cintai terdengar dari handphone ku.
"Raka ?? i miss you baby" jawabku sambil menangis.
"Moza ??? apa kabar sayang ? i miss you too" tanya Raka yang semakin membuat aku sakit.
"aku baik, makasih yaa. aku cuma ingin mendengar suaramu. Bisa kamu nyanyi untukku Raka ?" pintaku manja.
"boleh. Ini, sing : aku rindu setengah mati kepadamu.. sungguh ku ingin kau tau .. aku rindu setengah mati." nyanyian Raka yang semakin membuat aku menangis.
"ok..makasih sayang, aku ada jam mata kuliah lagi. Nanti aku telpon, byee .. love you" ucapku mengakhiri telpon kami.
Aku tak dapat membendung lagi tangisanku, yang semakin besar ini.
Aku menuju loteng dan duduk di atas, aku ingin berteriak sekaras mungkin memangil nama Raka.
secepat mungkin aku teriak, "RAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAA" teriakanku mengakhiri bendungan air mataku.
“Yahh, aku sudah sampai di Negeri Jepang. Negeri yang indah, cukup ramai dan membuat ku menangis seharian di kamar” ucap Moza ketika menyiapkan makan pagi.
"pagi yang cerah Moza" ucap sosok wanita yang berada di dekat pintu lalu masuk.
"Angel ? kamu udah datang ?"jawabku kaget.
"iyaa, aku sengaja datang sepagi ini. Karna ini kan hari pertama kamu masuk kuliah di Jepang ??" jawab Angel memperjelas maksud.
"iyaa, makasih ya." ucapku sambil menawarkan roti selai kacang yang sengaja aku buat dua.
"kamu udah makan ?" tanya ku lagi.
"ahh..udah nggak usah makasih" tolak Angel dengan senyum manis.
aaaaarrgh ~
Aku masi belum bisa melupakan sosok Raka, yang selamanya di hatiku.
Ocehku saat berjalan menuju kelas kampusku.
"Mozz,itu lucu yaa ?" tanya Angel sambil melihat ke arah wajahku yang sedang menangis dan terkejut.
"lhoo ? Mozz kamu kenapa ? kok nangis ?" tanya Angel lagi sambil mengusap bahuku.
"ahh..gapapa kok, aku cuma kangen saat-saat aku bersama Raka" jawabku tersendat.
"Raka siapa Moz ? pacar kamu ?" tanya Angel lagi.
"iyaa, aku sayang banget sama Raka, Ngel .." jawabku tatkala semakin besar tangisanku.
"sudah jangan nangis, aku tau perasaanmu.aku juga sama sepertimu Moza" ucap Angel menasehatiku.
*setelah selesai jam mata kuliahku yang ke dua, aku dan Angel pergi menuju kantin untuk makan, karena hari sudah semakin siang.
"Moz, coba kamu telpon Raka. Siapa tau dengan kamu telpon dia, rasa rindumu terobati" ucap Angel memberiku usul.
"iyaa" jawabku segera menelpon Raka.
tuut ... tutt .. tutt ..
"haloo ?" suara sosok lelaki yang aku cintai terdengar dari handphone ku.
"Raka ?? i miss you baby" jawabku sambil menangis.
"Moza ??? apa kabar sayang ? i miss you too" tanya Raka yang semakin membuat aku sakit.
"aku baik, makasih yaa. aku cuma ingin mendengar suaramu. Bisa kamu nyanyi untukku Raka ?" pintaku manja.
"boleh. Ini, sing : aku rindu setengah mati kepadamu.. sungguh ku ingin kau tau .. aku rindu setengah mati." nyanyian Raka yang semakin membuat aku menangis.
"ok..makasih sayang, aku ada jam mata kuliah lagi. Nanti aku telpon, byee .. love you" ucapku mengakhiri telpon kami.
Aku tak dapat membendung lagi tangisanku, yang semakin besar ini.
Aku menuju loteng dan duduk di atas, aku ingin berteriak sekaras mungkin memangil nama Raka.
secepat mungkin aku teriak, "RAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAA" teriakanku mengakhiri bendungan air mataku.
Yahh..tidur nyenyakku semalam bisa buat aku fresh dan sedikit melupakan kesedihan kemarin dan memulai aktivitas ku seperti biasa.
Setelah bangun aku menuju kamar mandi dan segera merapikan diri, untuk menuju kampus.
"lupaa sarapan ! lupa ngerjain tugas ! asshh ~" ucapku saat masuk kelas.
Pagi itu sepi sekali, padahal waktu munjukkan pukul 07.45 ?! kemana anak-anak ? apa aku yang terlalu pagi ??
Ocehanku pun berhenti saat aku meraih handphone ku di tas dan berusaha menghubungi Angel, yaah..mungkin dia sudah bangun atau mungkin sudah berangkat ke kampus ?
Sesegera mungkin aku menghubungi Angel berharap dia akan ke kampus, dan saat aku telpon ..
tutt .. tutt .. tutt ..
"haloo ?" jawab sosok wanita itu.
"Angel, kamu kuliah ?" tanyaku.
"wahh .. maaf ya Moz, aku sakit dan gak mungkin aku kuliah" jawab Angel lagi dengan nada yang lemas.
"kamu sakit ? yaudah .. cepet sembuh" ucapku dan mengakhiri pembicaraan kami.
ash~
aku rindu RICKA ?! apa kabar dia saat ini ? apa masih ingat aku !
aku rindu cafe MAS TAMA, aku rindu KEDAI AMPEL ..
"aku ingin pulaaang" teriakku yang kencang memenuhi ruangan.
Setelah mata kuliah habis aku pun pulang, apa yang mau aku kerjain disini ??
Tapi, sebelum aku menuju mobilku aku ke loteng kampus untuk menikmati suasana siang yang menjelang sore itu.
Aku pun duduk dan memandangi indahnya Negara JEPANG dari atas.
Air mata ku pun ikut menyertai, "hah, aku menangis lagi ??" ucapku dan ..
Setelah bangun aku menuju kamar mandi dan segera merapikan diri, untuk menuju kampus.
"lupaa sarapan ! lupa ngerjain tugas ! asshh ~" ucapku saat masuk kelas.
Pagi itu sepi sekali, padahal waktu munjukkan pukul 07.45 ?! kemana anak-anak ? apa aku yang terlalu pagi ??
Ocehanku pun berhenti saat aku meraih handphone ku di tas dan berusaha menghubungi Angel, yaah..mungkin dia sudah bangun atau mungkin sudah berangkat ke kampus ?
Sesegera mungkin aku menghubungi Angel berharap dia akan ke kampus, dan saat aku telpon ..
tutt .. tutt .. tutt ..
"haloo ?" jawab sosok wanita itu.
"Angel, kamu kuliah ?" tanyaku.
"wahh .. maaf ya Moz, aku sakit dan gak mungkin aku kuliah" jawab Angel lagi dengan nada yang lemas.
"kamu sakit ? yaudah .. cepet sembuh" ucapku dan mengakhiri pembicaraan kami.
ash~
aku rindu RICKA ?! apa kabar dia saat ini ? apa masih ingat aku !
aku rindu cafe MAS TAMA, aku rindu KEDAI AMPEL ..
"aku ingin pulaaang" teriakku yang kencang memenuhi ruangan.
Setelah mata kuliah habis aku pun pulang, apa yang mau aku kerjain disini ??
Tapi, sebelum aku menuju mobilku aku ke loteng kampus untuk menikmati suasana siang yang menjelang sore itu.
Aku pun duduk dan memandangi indahnya Negara JEPANG dari atas.
Air mata ku pun ikut menyertai, "hah, aku menangis lagi ??" ucapku dan ..
"hei ?" suara sosok lelaki yang membuat aku kaget.
"ahh .. ng.. kamu siapa ?" tanyaku.
"aku Rey, aku selalu perhatikan kamu disini,dan setiap kamu kesini kamu pasti .." ucapnya yang belum selesai dan aku potong.
"menangis maksudmu ?" jawabku meledek.
"iyaa, tau ? kamu gampang banget nagis" tanya Rey lagi.
"gak tau ahh, pusing, kamu dari indonesia ?" tanyaku.
"iyaa" jawabnya singkat.
"ayoo aku antar pulang" tawaran Rey yang langsung aku jawab dengan mengangguk.
Di perjalanan kami saling bertukar cerita, dan dia cukup asik menurutku.
20 menit kami pun sampai rumah..
Di perjalanan kami saling bertukar cerita, dan dia cukup asik menurutku.
20 menit kami pun sampai rumah..
"makasih ya Rey" ucapku tersenyum.
"sama-sama Moza" jawabnya membalas senyumku.
"ha ? kok dia tau nama ku ?? kan aku belum beri tau, ash..bodo" pikirku ulang.
Aku pun masuk kamar dan segera mandi, setelah mandi aku meraih handphone ku dan menghubungi "MAMA" yaa .. aku rindu mama juga, hahaha.. tawaku.
"haloo .. mama ?" tanyaku tak sabar.
"iyaa sayang kenapa ? ada apa si ?" jawab mama sedikit heran.
"aku minggu depan pulang yaa, aku rindu mama, papa, Ricka dan tentu saja RAKA" ucapku pada mama yang sedikit menekan pada nama "RAKA"
"lohh ? kenapa ? memang sudah libur ?" tanya mama ingin tau.
"udah deh maa, jangan tanya terus, udah ya pokoknya minggu depan aku pulang. bye, love you mam,mmuah" jawab ku yang secepatnya mengakhiri pembicaraan karna nggak mau mama banyak tanya.
Ahh .. aku benar-benar nggak ngerti sama jalan hidup ku. Semua tak seperti yang aku ingin kan.
Bisa kah ku putar kembali saat-saat aku bersama RAKA ???
Aku menangis di ranjang dan tak terasa aku pun tertidur .. hussh …
Aku pun masuk kamar dan segera mandi, setelah mandi aku meraih handphone ku dan menghubungi "MAMA" yaa .. aku rindu mama juga, hahaha.. tawaku.
"haloo .. mama ?" tanyaku tak sabar.
"iyaa sayang kenapa ? ada apa si ?" jawab mama sedikit heran.
"aku minggu depan pulang yaa, aku rindu mama, papa, Ricka dan tentu saja RAKA" ucapku pada mama yang sedikit menekan pada nama "RAKA"
"lohh ? kenapa ? memang sudah libur ?" tanya mama ingin tau.
"udah deh maa, jangan tanya terus, udah ya pokoknya minggu depan aku pulang. bye, love you mam,mmuah" jawab ku yang secepatnya mengakhiri pembicaraan karna nggak mau mama banyak tanya.
Ahh .. aku benar-benar nggak ngerti sama jalan hidup ku. Semua tak seperti yang aku ingin kan.
Bisa kah ku putar kembali saat-saat aku bersama RAKA ???
Aku menangis di ranjang dan tak terasa aku pun tertidur .. hussh …
Minggu depan, yeyeye !!!
ya … saat – saat yang aku tunggu pun datang, tepat di hari MINGGU. “saatnya PULANGGG” ucapku yang begitu bahagia.
Angel ikut serta mengantarku ke bandara, aku akan berangkat pukul 10.00 waktu Jepang.
Saat keberangkatan pun datang, aku segera memeluk Angel sahabatku itu.
“Ngel, gue pulang dulu. Mungkin 3minggu lagi gue balik” pamitku pada Angel.
“iyaa Moz, ati-ati ya ??” jawabnya sedikit sedih.
Yaah, aku tau susah berpisah dengan dia yang setiap hari dengan ku.
“byee Angel” ucapku terakhir dan memeluk Angel.
Diperjalanan yang super sunyi dan suntuk itu, aku memandangi indahnya langit, dan sambil menikmati musik yang ada. Air mata ku menetes, tetes demi tetes.
12jam berlalu, akhirnya aku sampai juga di kota tercinta Surabaya. Yayaya …
Dalam hati senang, tapi dag dig dug. Kenapa ? Dan apa yang terjadi ??
Aku segera meraih handphone ku dan menghubungi mama untuk menjemputku, sengaja aku nggak kasih kabar Raka dan Ricka, aku mau kasih kejutan.
Setelah satu jam menunggu akhirnya datang juga, aku kira mama yang menjemputku ternyata Pak Derman. Yahh, sedikit kecewa sih sebab aku ingin peluk mama saat itu juga. Satu jam setengah kami sudah sampai dirumah bagaimana tidak Surabaya “MACET”, “nggak sabar pengen peluk mama” ujarku.
Saat aku masuk, dan ternyata … “SURPRICE” ucap semua orang dalam rumah, mama, papa, Raka,Ricka,mas Tama,dan mbak Nana. Sumpah, aku bener-bener terkejut setengah mati, air mataku jatuh seketika saat aku memeluk Raka.
“beb ?? I miss you” ucapku mengecup pipinya.
“iyaa sayangg, aku juga kangen tau. Kamu kemana aja, aku hubungi nggak bisa ?” tanya Raka.
“disana jarang ada sinyal sayang” jawabku mempererat pelukanku.
“ooh, iyaa aku tau kok sayang. Nggak apa kok, i love you” ucapnya mencium keningku.
“ayoo sayang, istirahat dulu. Makan siang dulu ya, sama-sama” ajak mama.
“iyaa ma,” jawabku menggenggam tangan Raka.
“iyaa ma,” jawabku menggenggam tangan Raka.
“Moza, tunggu !!!” sahut wanita itu.
“ehh, Rick, maaf ya nggak keliatan ni” ujarku memeluk Ricka.
“Mozz, gue kangen sama lo. Gue pengen kaya dulu, kita bareng-bareng” manja Ricka.
“hahaha..bisa aja lo,ayoo makan dulu” ajakku pada Ricka.
Saat acara makan bersama di mulai, seperti biasa mama selalu bawel menannyakan bagaimana kuliahku, teman-temanku dll. Biasalahh, namanya juga “MAMA” pasti cerewet, hahaha...
“nak Raka, bagaimana kabar mama dan papa kamu ?” tanya papa sambil memasukan sesuap nasi.
Aku perjelas lagi, memang keluarga aku dan Raka sudah dekat sekali bahkan ternyata papa Raka adalah teman bisnis papaku, jadi nggak akan kaget kalau merekabertemu, yang pasti membicarakan pekerjaannya.
“ooh. Baik kok om, cuma saat ini mama dan papa sedang di Sydney, ada urusan kantor om. Mungkin minggu depan sudah pulang” jawab Raka tersenyum.
“bagus dong ? Bertambah pesat ya kesibukan orang tua kamu, ya.. om si hanya bisa berharap kamu seperti mereka.” ujar papa yang memang sangat menginginkan Raka suksess.
“iyaa om, makasi. Tapi om, saya mau ngomong penting dengan om dan tante. Tentang hubungan saya dan Moza kedepan” ucap Raka yang membuat mama, papa, dan semua terkejut terutama aku.
Waduhhh, kenapa Raka membicarakannya secepat ini ? Aku baru saja datang, huuh !
Eluhku yang semakin membuat hawatir.
“begini om dan tante, mas Tama dan mbak Nana. Sebenarnya aku sudah lama menyimpan semua ini, aku mohon do'a restu mas Tama dan mbak Nana, terutama yang saya hormati, om dan tante. Saya ingin melamar Moza” ungkap Raka.
“sebenarnya begini, saya sudah mengungkapkan ini terlebih dahulu terhadap Moza, sebelum dia berangkat ke Jepang, tapi karna kepindahan itu saya berniat sungguh ingin hidup bersama Moza om, tante” lanjutnya.
Ha ? Aku bingung, apa yang harus aku rasakan ini senang atau hawatir ??? aku takut papa dan mama tidak menyutujui.
“begini ya nak Raka, jujur saja om dan tante kaget mendengar ungkapan nak Raka, sungguh kamu sangat berani melamar Moza tanpa kehadiran kedua orang tua nak Raka, yang seharusnya di lakukan bersama” sahut papa.
“lalu bagaimana om ??” tanya Raka penasaran.
“ooh. Iya om sampai lupa menjawab” canda papa.
Emm, bagaimana ini ??? aku sangat hawatir dengan jawaban papa, please pa terima.. Moza mohon, ungkapku dalam hati.
“yaa, tentu saja om ...”
“yaa, tentu saja om ...”
deg .. deg .. deg .. suara jantungku makin keras, aku tak sabar mendengar jawaban papa. Pasti ini juga yang dirasakan Raka, aku tau itu.
Aku dan Raka pun, saling genggam erat tangan kita dibawah meja.
“tenang beb, pasti jawaban itu nggak akan kecewain kamu” ujarku.
“iyaa sayangg” jawab Raka yang langsung dilanjutkan oleh papa.
“yaa, tentu saja om … SETUJU” lanjut papa antusias.
APA ???? aku nggak sedang mimpi kan ? Papa serius jawab itu, girangku.
Akhirnya genggaman kami terlepas, aku dan Raka saling berpelukan. Aku benar-benar terharu dengan sikap berani Raka, dan aku meneteskan air mata. Yaa, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan dan rasa haru yang sangat dalam.
Akhirnya genggaman kami terlepas, aku dan Raka saling berpelukan. Aku benar-benar terharu dengan sikap berani Raka, dan aku meneteskan air mata. Yaa, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan dan rasa haru yang sangat dalam.
“cinta kita selama ini nggak sia-sia ya beb ?” ujar Raka saat kita sedang mengobrol di pinggir kolam.
“iyaa sayang, aku seneng banget. Rasanya aku seperti mimpi” jawabku dan menangis.
“hey, kamu jangan nangis gitulah sayang” lanjutnya sambil mengusap air mataku.
“aku nangis karna bahagia sayang” jawabku memeluk Raka.
“dorr !!! udah dong pelukannya, jadi pengen” canda Ricka yang tiba-tba datang.
“hahaha, iya iyaa... maaf deh” jawabku.
“selamat ya sahabatku, kamu bener-bener beruntung dapetin Raka” ucapnya menggoda.
“iyaa cantik,” jawabku memeluk sahabatku itu.
“ehh, Rick thank's ya” ucap Raka.
“iyaa” jawabnya.
“ehh..ehh..Mozz, ntar pas hari tunangan aku ya yang atur semua, dari tempat, catring, bla..bla..bla..” usul Ricka.
“iyaa, terserah aja” jawabku singkat dan menatap wajah Raka dengan tersenyum.
Entah kenapa hari ini, benar-benar hari keberuntungan untukku. Aku tersenyum bahagia, sangat bahagia. Dan aku benar-benar tak sabar menuggu hari itu.
malam hari dirumah Ricka..
apa yang sebenarnya terjadi ??? ini mimpi atau ?? aku sungguh mencintai Raka, sama seperti Moza. Sejak 5th yang lalu, apa aku salah atau terlambat ? Ungkapnya mengis.
Moza benar-benar beruntung dan sangat beruntung, harusnya aku yang bahagia seperti ini, dan bukan kamu MOZA !!! “arrrrrrrgghhhh~” emosinya saat itu sambil memberantakan semua benda-benda yang ada disekitarnya.
Semenjak Moza pindah ke Jepang, Ricka memang selalu berdua dengan Raka. Bahkan seperti orang pacaran saja, sikap Ricka yang aneh membuat Raka risih sebenarnya.
Aku segera mengambil handphone ku yang berada di atas laci, dan segera aku menghubungi Raka. “sebelum semua terlambat” ujarnya.
Tutt...tutt...tutt..
“hallo ? Ada apa Rick ??” tanya lelaki yang di telepon.
“Raka, aku harus ngomong sama kamu tentang perasaanku yang sesungguhnya” jawab Ricka yang membuat Raka bingung.
“ha ? Maksud kamu Rick ?” tanya Raka penasaran
“jujur aja nih Ka, aku sayang kamu sejak 5th yang lalu. Kamu masih ingat itu kan ? Kejadian saat kita masih SMP kelas 2, kamu pernah tembak aku tapi aku tolak karna kehadiran Seta ?” jelasku.
“iya aku ingat lalu ??” jawabnya.
“Raka, saat itu aku mulai sadar bahwa cintamu tulus. Aku benar-benar sadar saat Seta membuangku dan pergi dengan wanita lain yang tidak jauh sahabat aku, Ka” lanjutku.
“lalu ? Kamu ingin seperti Dinar yang menyakiti sahabat kamu sendiri ?? dimana perasaan kamu Rick, kalau Moza tau semua ini” marah Raka.
“Raka, harusnya yang bahagia saat ini aku bukan Moza” ucap Ricka menangis.
“ya, kamu nggak boleh gitulahh, Moza nggak pernah kan sakitin kamu seperti Dinar yang merebut Seta dari hidupmu ?” lanjutnya.
“tapi aku mencintaimu Raka !!!” jawab Ricka yang semakin menangis.
“maaf Ricka, aku nggak bisa. Aku mencintai Moza sangat, dan nggak mungkin segampang itu aku berpaling hati” ujarnya.
“Ka, apa bedanya aku dengan Moza ?? aku dengan dia tentu sama, sifatnya, baiknya, cantik juga lebih cantik aku Raka. Apa yang buat kamu nggak bisa berpaling hati seperti ini ???” sentak Ricka.
“maaf Rick, kamu dulu memang cinta pertamaku. Dan aku masih menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu saat masih SMA, tapi sekarang sudah berbeda kamu bukan lagi CINTA TERAKHIR ku, tapi dia !!! ya, wanita itu yang buat aku meriundukan belaian kasih sayang. “Moza” aku nggak bisa Rick, maaf. Aku harap kamu mengerti” ucapnya.
“maaf Rick, kamu dulu memang cinta pertamaku. Dan aku masih menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu saat masih SMA, tapi sekarang sudah berbeda kamu bukan lagi CINTA TERAKHIR ku, tapi dia !!! ya, wanita itu yang buat aku meriundukan belaian kasih sayang. “Moza” aku nggak bisa Rick, maaf. Aku harap kamu mengerti” ucapnya.
“tapi Ka..” belum selesai Ricka berbicara, telpon mereka terputus.
kau tak mungkin memilikiku
karena hatiku tlah di miliki dia..
kau tak mungkin memilikki
ku sepenuh hati..
aku hanya ingin setia..
(Armada – Ingin Setia)
Setelah telepon tertutup, Ricka hanya bisa terdiam dan menangis.
“Tuhan … INI GAK AAADIILLLL !” teriaknya.
Seharusnya aku bahagia saat ini dan bukan dia, arrrrggh~
Ricka semakin menjadi-jadi, saat teriakan dan kamarnya semakin berantakan. Yaa, Ricka memang hidup sendiri dirumah dengan dua pembantunya, karna mama dan papanya sibuk dengan kerjanya sejak Ricka masih kecil, jadi nggak salah kalau dia jadi nakal dan seperti nggak ke urus. Malah seperti tak punya orang tua, saat itu malam semakin larut tapi Ricka tetap saja masih menangis dikamarnya yang berantakan itu, dinyalakannya sebatang rokok dan miras.
Ricka menghabiskannya semalam, satu pak rokok dan 5botol miras. Sampai akhirnya, Ricka tak sadar diri hingga pagi datang.
pagi itu setelah pertengkaran Ricka dan Raka ..
Aku sengaja berjalan pagi dengan Raka, dari pukul 06.00 hingga panas mulai datang.
Setelah lama berlari pagi, aku mencari sarapan untuk makan kita berdua.
“beb, makan dulu yukk ?” tawarku.
“ayook, mau makan dimana sayang ?” tanya Raka mencium telapak tanganku lembut.
“terserah kamu aja sayang” jawabku.
Akhirnya kami berdua memilih sarapan pagi di cafe mas Tama, karna jam sudah menujukkan pukul 09.15 jadi kami segera memesan makanan.
Saat menunggu makanan yang kita pesan datang, aku dan Raka mulai bercanda-canda dan tertawa. Sampai akhirnya handphone ku berbunyi, “rumah Ricka ?? ada apa ini ?” ujarku merengut melihat layar handphone yang bertulis nama Rumah Ricka.
Tak lama, aku segera mengangkatnya.
“hallo ??” tanyaku.
“hallo, non Moza. Ini bibi Ema, non” jawabnya.
“ehh, lhoo ? Bibi ??? ada apa ?” tanyaku lagi.
“emm, non Ricka .. non Ricka..” jawabnya gugup.
“ada apa dengan Ricka, bi ?” tanyaku mulai hawatir.
“non Ricka, nggak sadarkan diri non.. non Ricka pingsan” jawab bibi.
“ha ? Apa ??? kok bisa si bi ? Tunggu, aku segera kesana” jawabku dan segera menutup telpon.
Ada apa dengan Ricka ?? aku sangat hawatir dan benar-benar hawatir dibuatnya.
“ada apa dengan Ricka, sayang ?” tanya Raka.
“nggak tau sayang, Ricka pingsan” jawabku menangis.
Apa ??? Ricka pingsan, apa jangan-jangan karna masalah semalam ? Raka mulai hawatir.
“sayang, kok ngelamun ?” tanyaku.
“ahh, ng... nggak kok sayang nggak papa” jawabnya.
“yaudah, ayoo kita pergi” ajakku dan segera membatalkan pesanan.
Diperjalanan aku terus saja menangis dan memperhatikan sikap Raka yang berubah sejak kabar Ricka tadi, “sayang, kamu kenapa ?” tanyaku. “ng..nggak papa kok” jawabnya terbata-bata.
Saat itu juga aku mulai menaruh rasa curigaku terhadap Raka dan Ricka, dan aku slalu saja penuh pertanyaan sepanjang perjalanan itu. Ada apa ? Mengapa ? Apa yang sebenarnya terjadi ? Inikah akhir semua kisah cintaku ? “bantu aku Tuhan” mohon ku.
Sesampainya dirumah Ricka, aku segera turun dan menghampiri Ricka yang sudah tergeletak dikamar. Aku melihat wajah cantiknya yang sudah pucat pasif lemas dikasur kamarnya, “bi, siapin semua barang-barang dan pakaian Ricka, aku bawa dia ke Rumah Sakit” ujarku. “baik non” jawabnya singkat dan segera merapikan pakaian.
Aku dan Raka segera membawanya ke Rumah Sakit, takut Ricka kenapa-kenapa.
Apa yang harus aku lakuakan aku tidak tau !!!
dua hari Ricka keritiss..
Aku mencoba menghubungi papa dan mama Ricka, tapi tak ada satupun yang menghiraukan. Aku semakin hawatir, dan memang dua hari ini aku tidak pulang. Sengaja ingin menuggu dan menjaga Ricka, kejadian ini semakin membuat aku tak mengerti dengan keadaan ku dan mereka. Apa yang telah terjadi ???
“beb..boleh aku tanya ?” tanyaku pada Raka.
“iy..iya beb, tanya ap..apa ?” jawab Raka gugup, mungkin takut.
“mm, sebenarnya ada apa ini ? Apa kamu tau kenapa Ricka jadi seperti ini ?” tanyaku lagi yang kali ini membuat Raka kaget.
“ng..ha ??? ak..aku nggak tau apa-apa kok beb, bener” jawabnya lagi-lagi penuh tanda tanya.
“mm, oke” jawabku singkat.
FLAS BACK !!!
Pagi itu aku akan berangkat sekolah, ya..tentunya disekolah yang baru dan lingkungan yang baru, ocehku saat bersiap-siap.
“Ricka..ayoo turun, cepat berangkat sekolah. Nanti telat sayang” teriak mamaku dari lantai bawah.
Ya, ampunn aku lupa. Aku kan hari ini berangkat bersama ayah ? Jangan sampai aku terlambat. Kasihan ayah. Panikku saat itu.
“iyaa,maa..tunggu dulu” jawabku segera bergegas.
Tak lama kemudian aku sudah dibawah dan bersiap-siap berangkat sekolah, ternyata mama akan ikut papa ke Singapura. Aku pun terkejut.
“sayang, ini mama sudah membawakan bekal makan siang kamu nanti di sekolah. Dan mama juga sudah menyiapkan uang untuk biaya sekola, yang sudah mama masukan di ATM” ujar mama yang segera memberikan ATM itu.
Yahh, kedua orang tua ku sangat sayang padaku, dan memang saat itu aku sudah berusia cukup untuk mengerti hal seperti ini. Aku baru saja naik kelas 8 SMP, jelas sudah kedua orang tua ku yakin aku bisa menjaga diri.
15menit setelah obrolan kami dan perjalanan menuju sekolah, akhirnya sampai juga. Aku segera turun dan pamit, takut terlambat masuk.
“sayang, jangan nakal ya disekolah” ujar mama anrusias.
“jangan macem-macem lohh” goda papa.
“kalau jatuh cinta bilang papa” lanjutnya.
“ahh..mama sama papa ini. Iya iya..daa” pamitku.
“ati-ati ya ma..pa..” lanjutku dan segera masuk.
Aku pun berjalan melewati koridor dan kelas-kelas, yaa.. sambil sedikit melihat mereka yang nantinya jadi teman-temanku. Aku pun berjalan menuju Ruang Kepala Sekolah, sempat aku lupa dimana letak ruang itu. Saat aku menanyakan pada seorang murid, aku jadi terkejut.
“ehh, permisi.. ruang kepala sekolah dimana ya ?” tanyaku menepuk pundaknya, karna memang dia sedang berbicara dengan kawan-kawan.
“ha ?? mm.. disitu” jawabnya manis saat menoleh kehadapku.
“yaa, Tuhan manis sekali” ujarku dalam hati.
“ng, bisa tolong antar aku ?” pintaku dengan wajah berharap dia bisa.
“oke, ayoo” jawabnya menarik tanganku dan segera pergi meninggalkan temannya.
Haa ??? dia mau ? Yaa, ampun halus sekali tangannya, pujiku saat itu.
Tak jauh dari tempat aku dan lelaki itu, hmm.. siapa ya namanya ? Haduuh, lupa tanya lagi. Aku pun sudah berada didalam Ruang Kepsek itu, dan tak lama kemudian bel berbunyi bertanda pelajaran akan dimulai. Aku pun juga segera masuk kelas untuk memperkenalkan diri, dan ternyata aku masuk dikelas 8-2. yaa.. katanya si kelas favorite, waww...LEBAY !!!!
“pagi anak-anak..” sapa guru itu.
“pagi ibu..” jawab anak-anak serentak.
“anak-anak sebelum kita mulai pelajaran, ibu akan perkenalkan kalian kepada murid baru yang nantinya juga belajar bersama kita. Silahkan masuk Ricka.” panggil guru itu yang ternyata namanya pun sama seperti mamaku, Fajrina.
Aku pun segera masuk kelas, dan belum sempat aku memperkenalkan diri aku melihat dia ! Ya lelaki yang tadi, tapi sepertinya dia tidak menoleh sedikitpun.
“haii, teman-teman.. perkenalkan nama ku Ricka Stevani Maulidya, cukup panggil Ricka, aku baru saja pindah dari Malang di SMPN 3 Malang, cukup perkenalan dari ku makasih.” ujarku pada semua teman-teman dan memang dia tak menyadari.
“yasudah, Ricka kamu duduk dekat Raka, disebelah sana. Dan anak-anak mari kita mulai pelajaran” ucap guru itu.
Apa ??? jadi nama dia Raka ? Lucu juga, ocehku dalam hati saat berjalan menuju bangku baruku. Dan aku pun secepatnya duduk karna pelajaran sudah dimulai.
pelajaran Olah Raga..
Aku terus memandangi sikap Raka, yang memang menurutku cuek minta ampuuuun !!!
Sambil memperhatikan sikap Raka, aku berjalan menuju kantin untuk membeli sebotol Aqua atau duduk-duduk sambil menikmati suasana.
“mbak, Aqua nya yang dingin satu ya ?” pintaku pada mbak yang jualan itu.
“ini dik” jawabnya sambil menyodorkan Aqua yang aku maksud.
“berapa mbak ?” tanyaku sambil menunjukkan botol Aqua itu.
“2500, dik” jawabnya singkat dan segera aku beri uang yang diminta.
Setelah membayar aku pun mancari tempat duduk yang aku rasa tak cukup jauh dari pandanganku terhadap Raka, tiba-tiba ada seorang cewek menghampiri ku.
“hei..” sapanya.
“ehh, iyaa..” jawabku tetap memandang Raka.
“lagi ngapain ?? hayoo, liatin Raka ya” godanya.
“hahahaha.. ng.. nggak juga si” jawabku yang memang aku sadar gugup.
“waduuh, aku saranin ya Rick. Mending kamu jangan deketin dia, liat tuh segerumbulan cewek yang disana” ujarnya sambil menunjuk ke arah cewek-cewek centil itu.
“ketua gank itu, suka sama Raka. Jadi mending kamu jauh-jauh dari pada kamu terancam dikeluarin dari sekolah” lanjutnya.
“hahaha... kenapa musti takut si, siapa nama kamu ?” tanyaku.
“Laura” jawabnya.
“ehh, iyaa Laura, maaf aku kan belum kenal kamu sebelumnya” ujarku meminum Aqua ku.
“iyaiyaa, tadi mau ngomong apa ??” tanyanya lagi.
“oiyaa, lupa. Ya kenapa musti takut si Ra, orang kita nggak ngapa-ngapain tu Raka.” jawabku ketus.
“hahaha, tapi mereka nyeremin lhoo Rick” jawabnya sambil menjulurkan lidah, sepertinya mengejekku. Sial -,-
“serem ?? hantu kali” ujarku segera meninggalkan Laura yang semakin ngebosenin.
Bel istirahat berbunyi, asikk.. akhirnya istirahat juga, eluh ku sambil berjalan menuju kantin. Ada seorang cewek yang ikut menghampiriku.
“haii” sapanya sambil menepuk pundakku.
“hm ?? iyaa ?” jawabku terkejut.
“aku Dinar, kamu murid baru itu ya ?” tanyanya.
“iyaa, hihi. Aku Ricka” jawabku singkat.
“ooh. Iyaa, aku udah tau kok” ujarnya tertawa.
Ahh, sial ! Kenapa lo tanya kalo udah tau, bego banget. Kesal ku saat itu, dan aku hanya membalasnya dengan senyum kecut ku.
“ayoo, ikut aku ke kantin. Kamu juga mau kesana kan ?” ajaknya menarik tanganku.
“iyaa” jawabku sedikit cuek.
Di kantin, kami banyak cerita, ya tentang sekolah ku yang dulu maupun sekolah yang baru. Kami berdua tertawa bersama, girang sekali. Sampai akhirnya..
“Din, siapa cowok itu ?” tanyaku menunjuk pada lelaki yang berdiri tak jauh dari hadapan kami.
“Seta, kenapa ?” jawabnya penasaran.
“ha ?? nggak apa si” jawabku enteng.
Cowok itu mulai mendekati kami berdua yang sedang tertawa ria, tanpa beban.
Aduhh, ngapain sih ni bocah deketin kita. Nggak asikk bener ! Ocehku dalam hati.
“mm, boleh dong gabung” tanyanya sambil menarik kursi.
“nggak !” jawabku enteng.
“Ricka, jangan gitu dong sama kakak kelas” ujar Dinar mulai nggak asik.
“hash ! Serah lo” jawabku cuek segera meninggalkan mereka.
“lhoo.. Rick, mau kemana kamu ? Ricka tunggu” panggil Dinar, yang nggak aku gubris dan segera masuk kelas.
Ya ampunn, nih kelas rame banget. Tapi.. yaa teteplahh, cuma dia yang diem, iyaa cowok itu yang selalu aku perhatiin “RAKA”. Ocehku segera duduk di bangku.
“baca apaan Ka ?” tanyaku yang nggak di jawab sama sekali.
Hmm, taulahh yang lagi serius. Tapi nggak usah begitu kali, kesalku dalam hati.
Ahh, terserah juga apa mau dia, lanjutku sambil mengeluarkan handphone dan mendengarkan musik. Yayaya.. aku suka melow, apa lagi semua lagu Vierra yang sekarang lagi ngeTRENnya. Hihihi..
lagu Rasa Ini, aku putar sambil bernyanyi-nyanyi kecil, sekalian ganggu nih orang baca.
ku suka dirinya mungkin aku sayang ..
namun apakah mungkin kau menjadi milikku ..
kau pernah menjadi.. menjadi miliknya ..
namun salahkah aku ..
bila ku pendam rasa ini ..
(Vierra-Rasa ini)
nyanyianku berakhir saat suara Raka melarangku bernyanyi.
“ssstt.. kamu bisa diem nggak ? Aku lagi baca nih” ujarnya ketus tanpa melirik sedikitpun ke arahku.
“iyaa, maaf” jawabku menunduk.
“kalo mau nyanyi jangan lagu itu, aku males dengernya” ucapnya yang membuat aku kaget setengah mampus, apa maksud dia ??
Raka..Raka..Raka..
Yaa, ampun aku serasa patung dekat dia. Aku tak mampu berbuat apapun, ada apa ini ? Cinta ?? halaah.. aku bingung.
Aku membuka buku diary ku yang sudah lama aku simpan di laci, sejak kejadian kak Luna meninggal. Tentu aku dan mama yang paling SHOCK ! Apa lagi dia kakakku satu-satunya, yang aku sayangi, jadi tempat curhatku selama ini, yang selalu memberi aku motivasi dan support. “aku rindu kak Luna” ucapku meneteskan air mata.
Yaa, aku hanya dua bersaudara namun sekarang hanya aku sendiri, hidup di kehidupan yang serba sulit untuk aku jalani tanpa kak Luna. Biarlah ini jadi kenangan untuk esok yang akan datang, aku membuka lembaran baru setelah meneteskan air mata rasa rinduku pada kak Luna.
Aku mulai menuliskan sebuah dairy, yang kelak akan dibaca mereka.
15 Maret, 2004
Dear diary,
apa yang sesungguhnya terjadi ? Begitu mengenalnya aku sangat bahagia, ingin aku lebih dari ini.
Memandangnya sudah cukup, bahkan lebih untukku. Ini kah cinta sesungguhnya ??
bantu aku ! Keadaan ini membuat aku bingung.
Hari-hari ku akan terasa hampa tanpa dirinya.
RAKA DELVANO.
Sampai sekarang aku heran dengan jalan hidupku ini, kenapa harus Raka ? Dia kan cowok yang super cuek, jadi nggak mungkin lahh aku bisa milikki dia. Bisa dibilang 'PERCUMA' saja karna sekeras apapun kita melawan orang cuek, pada akhirnya kita juga yang capek. Menurut kata Ajeng, teman lamaku sewaktu masih di SMP.
Haahhh ! Kenapa jadi begini ? Aku kangen Ajeng, Syafira, Bella dll. ahh, nggak mungkin masa itu akan cepat berlalu. Aku sayang kalian, ucap ku yang menambah deras tangisanku. Dan dia, ya.. Raka, apa aku masih bisa memilikki dia ?? oceh ku sambil memandang ke arah luar jendela, “bintang yang itu, kan milik kak Luna ?” ujarku sambil menunjuk bintang yang bersinar terang sekali. “apa kabar kak Luna ? Aku kangen kakak” sapaku sambil tersenyum seperti tangisan.
Ahh, sudahlahh.. lebih baik aku tidur saja, besok kan masuk pagi. Mungkin lebih fresh jika aku tidur lebih dulu.
aduuh TELAT !!!
jam sudah menunjukan pukul 06.25, dan aku masih saja tidur dengan pulasnya sampai akhirnya handphone ku berbunyi, sepertinya ada panggilan masuk.
Aku pun segera bangun dan melihat siapa yang menghubungiku sepagi ini ?? HAH SEPAGI INI ???
“hallo ??” jawabku.
“Rick, kamu nggak sekolah ? Kok jam segini belom dateng” tanya seorang wanita dan aku kenal persis siapa dia.
“Dinar ??? ngapain pagi-pagi telpon aku ? Ini masih jam 5, bukan” jawabku sedikit ngelindur tapi memang ngelindur.
“apa ? Jam 5 dari Hongkong apa ?, ini udah mau bel masuk Ricka” ujarnya yang kali ini buat aku terkejut, panik, tergesah-gesah, semua tercampur menjadi satu.
Aduhh, gimana ni kalau aku sampai terlambat ??? mana sekarang kan saatnya masuk kelas ? Arrgh !!!!
Aku segera kekamar mandi namun kali ini aku hanya mencuci muka ku dan menggosok gigiku, dan secepatnya memakai seragam lalu turun.
“bi, aku berangkat dulu” pamitku.
“lhoo ? Non, belum sarapan” tanyanya.
“aduuh, gampanglahh bi” jawabku segera meninggalkan rumah.
Sampainya disekolah, aku segera masuk, untung saja aku murid baru jadi satpam sekolah memberiku kesempatan.
Saat aku berjalan menuju kelas, dan ternyata .. Sial! Aku terlambat, dan kali ini aku dihukum oleh guru yang memang paling kejam. Huuh, berdiri dilapangan selebar dan seluas ini, sepanas ini, sendiri, dan paling kejamnya, aku dihukum satu jam penuh.
Gilaa…panas gini, dasar guru gila. Gumamku yang dikejutkan dengan, haa ???? Raka ? Dihukum juga ? Hahaha..
“hmm ??” gumamku.
“apa ?” jawabnya.
“hihi, kamu juga terlambat yaa ?” tanyaku kali ini dengan nada mengejek.
“iyaa, nggak usah ketawa. Kamu kan juga dihukum ? Jadi kita sama” jawabnya yang benar-benar ketus.
“iih, resek lo” ucapku sinis.
“hahaha..seneng deh bikin orang marah” lanjutnya.
“sialan lo!” jawabku.
“ehh, bener ya kamu suka aku?” tanyanya yang kali ini buat aku terkejut.
“ha ?? ng..” jawabku gugup.
“ha ?? he ?? hoo ?? hahaha.. ngaku ajalahh” godanya yang benar-benar basi.
“ngg..nggak!” jawabku yang super sinis, tapi emang bener si aku suka.
Sejam berlalu dan kami berdua masih tetap berdiri, ha?? kami berdua? Yaa, aku dan Raka. Ahh.. aku benar-benar lemas banget, lupa makan tadi aku. Haduuh.. aku nggak kuat !!!
GUBRAK! Aku terjatuh saat setelah gumaman terakhirku. “Rickaaaaaaaaaa” teriak Raka kaget saat melihat aku sudah tergeletak lemas di tanah dan segera membawaku ke ruang UKS, dan melaporkan kepada guru yang telah menghukum kami, tapi karna jam hukuman kami belum selesai jadi Raka akan tetap dihukum.
Sudah 5menit aku tidak sadarkan diri, dan iyaa aku masih melihat Raka berdiri dilapangan dengan wajah memerah. Aku bener-bener nggak tega liat dia sendiri begitu, padahal aku pingsan tadi juga ingin membantu Raka biar nggak dihukum. Tapi sepertinya pak Ridwan tetap saja kekeh, emosiku semakin melunjak dan aku segera keluar karna aku tau setelah ini pelajaran si guru kejam itu akan selesai. Aku segera berlari ke kantin berharap aku bisa membelikan minuman untuk Raka, dan setelah aku membeli minuman aku menghampiri Raka yang memang benar-benar lemas, kasiaan.
“hai, Ka” sapa cewek yang sudah berdiri lebih dulu di samping Raka.
Sial aku duluin! Ahh.. marah ku saat berjalan di hadapan Raka dan membuang minuman yang aku beli tadi di depan Raka, aku benar-benar emosi. Di tambah lagi dengan tampang seGANK yang nggak penting itu melirik aku tajam, dan pandangan Raka yang aku tau maksudnya “Rick, maafin aku”. Aku segera menghilang dari mereka semua dan menuju kelasku, disana aku menangis dan terus menangis.
“Rick, kamu kenapa ?” tanya sosok cewek yang menepuk pundakku.
“emm.. Dinar ??” aku nggak apa.
“Raka, ya ?” tanyanya lagi.
“iyaa gitu, aku capek Din. Aku ingin sendiri dulu” pintaku dan segera ditinggal oleh Dinar.
Maaf, Din bukan maksudku untuk mengusirmu. Ucapku terakhir setelah itu, Raka datang dan duduk disebelah ku karna memang sebangku denganku.
“capek ya, Ka ?” tanya seorang cewek didekatnya, ya ampun ternyata masih mereka. Aku segera menghapus air mataku.
“ahh, sudahlah aku tak apa” jawabnya singkat, dan sepertinya Raka mulai menggenggam tanganku, tapi mereka tak mengerti karna tanganku dan tangannya berada dibawah.
“kamu mau minum ?” tanya cewek itu lagi.
“nggak” jawabnya yang memang khas, dan mereka pergi dengan ucapan Raka yang bikin mereka takut.
“Rick, kamu nggak kenapa-kenapa kan tadi ?” tanya Raka mulai perhatian.
“ahh, aku nggak apa kok. Urusin aja tuh cewek centil kamu” jawabku judes tanpa dosa.
“ihh, cewekku marah ?” goda Raka.
Apa ??? cewek ? Sejak kapan ??? Ucapannya yang aku balas dengan ketawa kecilku.
Lalu melepas genggaman tangannya, ahh.. jadi malu aku. Sumpah !
“lhoo ? Kenapa dilepas Rick ? Kasar ya tanganku ?” tanyannya yang penuh curiga.
“ng, nggak kok” jawabku tersipu.
Ahh, hari ini... kenapa semua jadi seperti ini ?? malu, malu, malu, malu …
Aku memandang langit yang penuh bintang itu, huhh.. andai semua kenyataan, mungkin aku akan hajar mereka cewek centil itu. Huh.. huh.. huh..
tapi, bagaimana kalau itu akan terjadi denganku ??? mungkin aku nggak akan pernah tidur. Karna ini 'MIMPI'.
Ya sudahlahh, lebih baik aku istirahat. Ya, mungkin harus begitu.
lebih baik kamu JAUHI AKU! ..
Aku ingin lihat seberapa besar dia inginkan aku seperti aku menginginkan dia, tapi kenapa hari ini dia cuek ya ?? nggak kaya kemarin.
Aku segera duduk dan membuka laptop ku, yayaya.. niat mau bikin tempat curhat, abis si Dinar lama datang.
“pagi, Ricka cantik” sapa lelaki yang jelas-jelas aku kenal.
“ehh.. Seta ??? ngapain kamu pagi-pagi kesini, kelas kamu bukan disini” jawabku ketus sambil memandang wajah Raka, yah.. tetap cuek.
“memang nggak boleh ??” tanyanya.
“boleh si, ada apa ?” tanyaku balik.
“cari kamulahh, ayoo ke kantin. Aku ingin dekat denganmu” ajaknya dan menarik tanganku yang segera aku tepis.
“apa-apaan si lo ??? kasar banget” jawabku memberi kode pada Raka, tolong bantu aku. Tapi dia tetap saja tak lepas dari 'buku', ada apa si dengan buku itu ??
“ya sudah, nanti jangan pulang dulu ya ? Aku mau kasih special untukmu” pintanya dan segera meninggalkan aku.
Aduhh, kenapa nih anak susah banget buat perhatiin aku ???? kurang cantik kah aku, Raka ? Tanyaku dalam hati terus menerus.
Mari kita bahas Seta, cowok yang baru saja buat aku enek banget. Ocehku dalam laptop, yang aku tulis semua tentang SETA, ya hari ini mungkin edisi Seta Wijaya, lengakapnya.
Aku tulis dalam-dalam, ya beginilah aku. Hihihi :) sampai tak sadar kalau Dinar sudah memanggilku berulang kali.
Yayaya, Seta..Seta..Seta.. aku ingin tertawa jika mengingat namanya. Jayus, nggak penting, sok sibuk, dan apalah itu ?
Cowok yang menurut ku mirip dengan Mario Lawalata ini sangat membuatku jenuh dan risih sebenarnya, tapi menurutku dia menyukaiku. Dan tak semudah itu memang hatiku untuk didapatkan, tapi dia tak menyerah ???
hebat-hebat, kalau cowok-cowok yang lain pasti sudah meninggalkan aku. Ya begitulah cowok, tak setia.
Bagaimana jika nanti sepulang sekolah, Mario.. ehh, Seta maksud ku, mengungkapkan isi hatinya ?? bagaimana ini ? Apa yang harus aku jawab ? Karna memang aku menginginkan dia, ya .. cowok yang sekarang ini duduk disebelahku. Raka Delvano, semoga dia tak membaca ini.
Aku menyimpan dan mematikan laptopku tanda semua curhatanku selesai, dan...
“ahhh..”
“Dinar, Raka ? Ngapain kalian ini didepanku ?” tanyaku teriak.
“kamu si, dipanggil-panggil malah makin konsen sama laptop kamu itu” marah Dinar.
“memang kamu sedang menulis apa ?” lanjut Raka.
“hmm, ngg.. bukan apa-apa kok. Maaf ya Din, ayoo kita ke kantin saja” jawabku segera menarik lengan Dinar dan membawanya ke kantin.
“huh, untung saja” ucapku mengela nafas.
“apa Rick ??” tanya Dinar penasaran.
“ahh, bukan apa-apa” jawabku sambil memberi minuman.
Aku dan Dinar segera mencari tempat untuk duduk, tempat paling pojok yang aku pilih untuk tempat mengobrol.
“kamu ngapain si tadi ? Sampai konsen begitu ?” tanya Dinar yang membuat aku kaget.
“ha ?? bu..bukan..bukan apa-apa kok” gugupku.
“bukan apa-apa.. bukan apa-apa .. yayaya .. itu mulu jawabannya” cemberut Dinar.
“hihihi”
Aku sungguh tak mengerti dengan semua ini, ahhh.. buat aku bosan! Mengapa aku tak menceritakan saja semua masalahku kepada Dinar ? Apa guna dia ada disini ??? tapi kenapa berat untukku menceritakannya ??? ahhh.. sudahlahh.
Karna bel berbunyi aku dan Dinar segera masuk kelas dan mengikuti pelajaran, lagi-lagi guru killer ini ! Fiiuhhh..! aku menghela nafas yang sepertinya Raka mendengar itu.
“kenapa kamu ??” tanyanya.
“ahh, mm.. nggak papa” jawabku tertawa.
“ooh. Ya sudah, aku pikir takut” ujarnya.
“OKE, ANAK-ANAK SEGERA KALIAN KUMPULKAN TUGAS KALIAN ITU, DIDEPAN KELAS” teriak guru yang buat aku ingat bahwa...
“ya ampuun, aku lupa nggak kerjain tugas ini. Wahhh... gawat ni ???” omel ku dalam hati.
“SIAPA YANG KALI INI BERANI TIDAK MENGERJAKAN TUGAS ?”
“sa..say..saya buu” aku mengacungkan tangan dengan takutnya.
“KAMU ???? BERANI SEKALI ? SEKARANG KAMU KELUAR DAN BERDIRI DI LAPANGAN, SAMPAI PELAJARAN IBU SELESAI” teriak guru itu dan segera aku keluar dengan lemasnya, sial sekali. Tapi..
“bu, saya juga tidak kerjakan tugas ibu. Boleh saya keluar ?” ujar cowok itu dan ternyata.. RAKA.
“SILAHKAN, KALIAN SAMA SAJA. SIAPA LAGI YANG TIDAK KERJAKAN TUGAS ??? SILAHKAN KELUAR !!!!”
Panas dan ditambah badanku yang saat itu panas buat aku tak tahan, aduhhh.. ngapain lagi ni cowok ikutan ??? bukannya dia rajin kerjakan tugas ? Dan dia berdiri didekat ku pas dan persis, kalau bisa dihitung jaraknya kira-kira 30cm seukuran penggaris.
“ngapain lo ??” tanyaku sadis.
“kenapa ?? nggak boleh ?” jawabnya enteng.
“nggak papa kalo kamu emang nggak ngerjain tugas itu, karna aku yakin kamu pasti kerjain. Jawab jujur !!!” bentakku.
“memang aku kerjakan kok, kenapa ??? aku males ikut pelajaran dia, jadi jangan GR dulu kamu” jawabnya memberantakan rambutku.
“ihh... alesan”
Satu jam sudah berlalu dan kami masih tetap berdiri, sungguh aku nggak kuat !!! eluhku.
“aku capek, Ka” eluhku dengan nada lemas.
“jangan manja” jawabnya yang seperti biasa cuek dan sok jaim.
“tersee....”
BRUAKKKK !!!! Ricka terjatuh setelah tak sadar kalau tubuhnya benar-benar lemas.
“kamu itu ya slalu, Rickaaaaaaaaaaaa..” ujar Raka terkejut.
Saat itu juga bel istirahat berbunyi, dan seluruh siswa keluar. Dan saat itu juga aku pulih dari ketidak sadaranku, tidaaaaaaaaakkk !!!! Raka menggendongku didepan umum, layaknya Romeo dan Juliet. Ahhh.. kenapa jantung ku berdetak keras sekali ??? aku takut Raka mengetahui hal ini, ahh.. pikiranku kemana-mana.
Setiba di UKS, Raka segera membaringkan ku diranjang. “ahh..kamu berat juga yaa, Rick” ujarnya yang memang aku mendengar itu.
Lima menit kemudian akupun tersadar, melihat kehadiran Raka saja aku tersenyum, “makasi ya, Ka. Aku udah ngerepotin kamu dua kali, lhoo” ujarku sambil tersenyum.
“iyee, cukup berat malah berat banget. Ngerepotin kamu” jawabnya ketus.
“huuh” aku menghela nafas panjang.
Saat pembicaraan kita mulai agak seru, seorang wanita datang memasuki ruang UKS dengan sangat tergesa-gesa.
“Ricka, kamu kenapa ? Kamu nggak apa kan ?” tanya Dinar yang tiba-tiba buat aku kaget dengan tangisan dia.
“ehh, kamu kenapa nangis si Din ? Aku lhoo, nggak kenapa-kenapa. Udah jangan nangis ahh” jawabku mengusap air matanya.
“aku hawatir Rick, sama kamu. Sepanjang aku jalan tadi juga udah mewek tau” ujarnya sambil tersengguh-sengguh.
“udah, cengeng ya kamu” jawabku tertawa.
“kamu ngeledek aku nih ?”
“haha” kami bertiga pun tertawa dengan lelucon yang mungkin basi banget tapi aku tau kok ini menghibur.
BEL pulang SEKOLAH ..
“Rick, kamu jadi nebeng aku nggak ? Kita jadi ke coffe shop nggak ?” tanya Dinar yang memandangku sedang sibuk merapikan buku.
“hm, kayanya ntar malem aja kita keluar nggak apa kan Din ? Aku ada janji sama Seta. Maaf ya” jawabku segera meninggalkan Dinar dengan hampa.
Aku berjalan sesuai tempat dimana aku dan Seta akan bertemu, dia juga memberiku tanda tempat akan bertemu dan ternyata dia mengajakku di Gedung tempat biasa anak-anak bermain Basket. Aku melihat suasana yang sepi sekali, jelaslahh kan mereka semua sudah pulang. Aku mendengar langkah kaki yang aku kenal suara itu, ya Seta.
“Ricka, tutup mata kamu ya” pintanya segera menutup mataku dan aku hanya membalas senyuman dan anggukan.
“kalo aku bilang buka, cepat buka” perintahnya yang hanya aku iyakan.
“sekarang buka” ujarnya dan segera aku buka.
Ya ampuun, benar-benar terkejut Seta memberiku 'Surprice' yang belum pernah aku dapat dari cowok manapun karna bari tiga kali aku pacaran dan semua sama.
Seta mengumpulakan semua siswa dan siswi untuk membantunya, ada beberapa barisan yang menyiapkan kata-kata seperti barisan yang bertulis “I LOVE YOU RICKA” setelah itu Seta mengungkapkan isi hatinya didepan teman-teman.
“Ricka, aku sayang kamu. Kamu mau jadi pacar aku ? Kalo mau cium pipi aku kalo nggak mau silahkan pergi” ujarnya yang buat aku bingung.
Aku sayang Raka bukan kamu, tapi Raka nggak menunjukkan kalo dia juga sayang aku atau merespon ku.
Aku pun semakin bingung dan berjalan meninggalkan Seta, saat berjalan aku berfikir untuk apa aku menunggu Raka ?? yang jelas-jelas didepan ku sudah ada yang mencintaiku ? Aku segera berlari dan memeluk Seta dan mencium pipinya, aku berkata “iya Set, aku mau”
“makasih ya Ricka, kamu juga buat aku terkejut” jawabnya.
Semua murid memberi uplos karna keberanian Seta didepan umum itu, ternyata Raka juga berada diantara mereka, melihat kejadian tadi Raka terkejut dan meninggalkan mereka yang sedang berpelukan erat dan mesra. Tentu saja Ricka tak memperhatikan itu tapi aku tau pasti kalau Raka terluka.
Setelah kejadian kemarin keadaan semakin berubah, Raka semakin cuek dan tak peduli, mungkin dia sakit hati atau apalah itu.
“pagi, Ka” sapa Ricka.
“ya” jawabnya singkat.
“mmm ?? kamu kenapa ? Apa aku salah ?” tanya Ricka
“iya” jawabnya yang lagi-lagi sama 'IYA'
“jelasin dong, Ka” lanjutku.
“kamu nggak akan ngerti perasaanku” “ kamu tau, kamu tu udah beri aku harapan dan harapan itu kosong dan musnah setelah kejadian kemarin, aku sakiit hati, apa kamu tau ?? aku udah belajar mencintai kamu belajar mengisi hari-hari ku dengan kamu, BISA KAMU MENGERTI itu RICKA ?!” ujarnya dengan bentakan.
“ahh, hmm.. maaf kalo memang aku yang salah Raka, tapi jujur kamu udah terlambat. Aku dulu juga menginginkan kamu bukan 'SETA' ” jawabku
“udah, aku capek. Dan aku nggak akan berharap lagi” ujarnya meninggalkan ku.
“tapi RAKA ..”
Aku tetap saja duduk dengan wajah kecewa, marah dan semua jadi satu, aku masih melihat punggung Raka yang mulai menjauh dari pandanganku. Aku mengerti perasaan Raka saat itu, aku sungguh-sungguh ingin teriak, “AKU SAYANG KAMU, RAKA”
Air mataku semakin menjadi-jadi saat aku mengingat Raka yang slalu belaga 'jaim' tapi suka itu, dan slalu buat aku tertawaria. Ya, aku masih ingat itu, sebenarnya pikiranku dan hati ku ini pilih siapa ???
sungguh saat ini aku dilema..
“sayang, kamu lagi ngapain itu ?” tanya sosok lelaki yang ternyata berdiri didepan ku mungkin sejak 15menit yang lalu, APA ??? berarti dia sudah mendengarkan semua ocehanku tentang Seta dan Raka ??
“ehh, Seta. Aku nggak apa kok” jawabku dengan gugupnya.
“bener ? Terus kenapa kamu nangis ?? ada masalah ya, sini biar aku datangi dia” ujarnya ngeSOK.
“bener kok, udah ya aku mau kekantin” jawabku meninggalkan Seta, tapi dia mengejarku.
“Ricka, tunggu. Jelasin dong kamu ada masalah apa dan dengan siapa ?? hingga buat kamu menangis seperti ini ? Jawab Ricka” tanya Seta dengan penuh paksaan.
“SETA, CUKUP YA !!! kalo AKU BILANG NGGAK APA YA NGGAK APA” jawabku emosi.
“hey, kamu jangan marah-marah sama aku dong ? Aku ini pacar kamu” ujarnya mengikuti langkahku.
“Seta, aku nggak apa. Udahlahh, KAMU TUH LEBAY BANGET. KITA MEMANG PACARAN TAPI ITU STATUS KITA, NGGAK BERHAK KAMU IKUT CAMPUR URUSANKU !!!” bentakku pada Seta yang kini dia hanya bisa terdiam dan cuma menjawab dengan anggukan lalu pergi.
Seta maafkan aku, aku harus bohong sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu marah dan ribut sama Raka, karna aku sayang kalian berdua. Aku tak ingin kalian menghilang dari hidupku.
Aku membuka album foto ku saat berjalan-jalan dengan Raka dan Dinar, ya itulah yang buat aku M.E.N.A.N.G.I.S lagi !
Satu demi satu aku buka dengan di iringin tetesan air mata, ya ampuuunn aku merindukan dia, hangat pelukannya saat memelukku di foto ini. Aku tak ingin kehilangan sosok lelaki yang benar-benar aku cintai, hanya dia yang memberiku arti cinta dan hidup sesungguhnya. “Raka …. andai kamu tau aku mencintaimu bukan Seta” aku membungkuk di samping ranjang dengan air mata yang deras membasahi baju,kasur dan wajahku. Malam itu adalah malam yang sangat tak aku ingin, mengertilah kamu, aku mencintaimu.
Terdengar gedoran pintu dari luar kamar dan aku tau itu pasti bibi, “non, ada yang mencari di luar” ujarnya mengetuk pintuku. “siapa bi ? Aku tak ingin diganggu” jawabku. Siapa lagi malam-malam bertamu saat-saat aku bersedih seperti ini ?? “den Seta, non” lanjutnya. “ahh, sudah ku duga, biar bi, suruh tunggu sebentar” ujarku segera bangun dan merapikan diri serta mengusap air mataku, ya.. aku tak mau Seta tau aku menangis. Aku pun turun dan menemui Seta, “PACAR KU” biar puas ku anggap 'PACAR'.
“ada apa, Set ??” tanyaku duduk di dekatnya.
“aku hanya ingin main saja, aku kangen kamu, Ricka” jawabnya memeluk tubuhku, ahh.. ini sama sekali tidak “ROMANTIS” nggak seperti Raka yang memeluk erat tubuh ku hingga aku merasa nyaman.
“ooh, tapi udah ya peluknya. Malu sama bibi” ujarku berusaha melepas pelukannya.
“kenapa, Rick ?? kita kan..”
“iya aku tau, kita kan PACARAN ?? itu kan maksud lo ?”
“iyalahh, kenapa menghindar ?” tanyanya.
“aku nggak suka caramu,Set” jawabku enteng.
“yasudah”
Setelah beberapa menit kami saling ngobrol dan cerita hingga tertawa, aku rasa masalahku sedikit terobati, Seta asik juga. Aku mulai bisa menerima dia sebagai “PACAR” ya seperti yang dia harapkan, makasih ya Set. Aku akan belajar mennyayangimu seperti kamu yang sangan sayang padaku, aku merasa benar-benar terhibur. Mungkin bisa aku mencintai dia, hahaha..
Saat asik tertawa ada bunyi telpon dari handphonenya Seta, “bentar ya sayang” ujarnya menjauh dariku (seperti sembunyi-sembunyi). Ada apa ini ???
Setelah beberapa menit Seta kembali dan duduk disebelahku dengan wajah yang takut, “tadi siapa ?” tanyaku.
“ahh, ngg,, bukan kok bukan sapa-sapa cuma mama tadi telpon, aku nggak boleh pulang malem-malem. Gitu katanya” jawabnya gugup yang perlu dicurigai.
“ooh, tapi ini kan masih belum ada jam sembilan ?” tanyaku lagi.
“iyaa, biasa mama ku kan cerewet”
“ooh, mama kamu lucu ya. Beda dengan mama dan papa ku, justru aku ingin seperti mu, Seta” ujarku menunduk.
“emang mama sama papa kamu kemana, Rick ?” tanyanya.
“hahh, sudahlahh, aku tak mau bahas mereka. Mereka slalu sibuk dengan kerjaan kantor yang menurutku tak penting, yang mereka pikir cuma uang uang uang dan uang. Kelak nanti kita bisa menabung, kata mama si” jawabku cuek.
“ooh, jadi kamu sendiri dirumah ini ???” tanyanya lagi.
“ya begitulah, sejak kecil aku di tinggal jadi udah biasa aja”
“ooh. Aku salut sama kamu, Rick” pujinya yang benar-benar tak aku harap.
“ehh, aku pulang dulu ya ??? aku lupa kalo besok kakak aku ulang tahun jadi aku mau beli kado, takut semua toko,mall atau distro tutup” ujarnya bersiap-siap.
“mau aku temenin nggak ?”
“ahh.. ngg.. nggak usah kan udah cukup malem” katanya.
“yasudahlahh” jawabku cuek yang disertai kecupan manis di keningku.
Ya ampunn, baru kali ini aku di kecup kening oleh lelaki. Ahh.. aku hanya terdiam membisu dan kaku, seperti nggak punya daya. Bodohnya aku sampai lupa antarkan dia didepan. Biarlaah, dia kan udah besar. Aku segera masuk kamar dan merapikan ranjangku untuk aku tiduri.
Nggak akan bisa :(
Aku berjalan melewati semua ruang kelas dari kelas 7 sampai 9, ya karna kelas ku memang di atas. Saat melewati kelas Seta, yang jelas kakak kelas ku sempat shock aku di buatnya, bagaimana tidak ? Aku jelas melihatnya sedang duduk dan dikelilingi para cewek-cewek yang sok imut itu, iyaa aku tau kok kalo dia kan 'PEMAIN BASKET YANG PLAYBOY' tapi harusnya dia sadar aku ini siapa ? Memang dia tak anggap aku ada ??? hahaha.. ya sudahlahh, aku masih menatapnya dengan senyuman kecil ku, aku tau saat itu dia sadar bahwa aku memperhatikan dia yang dikerubuti wanita-wanita liar, dia memandangku dengan tatapan rasa takut dan aku pun berjalan meninggalkan kelasnya yang setelah itu di ikuti Seta di belakang, (aku masih keadaan tersenyum) dan aku tau dia mengejarku tapi aku biarkan.
“sayang, maaf ya ? Kamu pasti marah aku seperti itu, kamu pasti pikir aku nggak mengganggapmu kan ? Kamu salah Ricka, aku sebenarnya risih dengan mereka semua” ujarnya dengan begitu lantang dan sok gak butuh.
“aku tau kamu menikmatinya, Set” jawabku tetap berjalan menaiki tangga, dan aku tau dia pasti TERTOHOK.
“hha ? Ngg..nggak kok sayang” jawabnya gugup.
“ha ? He ? Ho ? Hi ? Hu ?” aku mengikuti ucapannya. “sudahlah, nggak penting” jawabku meninggalkan Seta dan memasuki kelas.
Hari ini Raka nggak masuk ya ??? ahh, pasti karna kejadian kemarin. Maaf saja ya aku nggak ada maksud seperti itu.
Aku mengeluarkan buku pelajaran karna emang bel sudah berbunyi, aku mulai menulis sebuah catatan yang dituliskan dipapan tulis, sambil menyanyi-nyanyi lagu yang nggak pernah disukai Raka (Vierra-Rasa Ini) na na na na na na na na na na na .. na na..
Nyanyianku berhenti saat mendengar suara pintu dari luar, “permisi bu” ujarnya masuk.
“ooh, iyaa. Silahkan, nahh.. anak-anak ini adalah murid baru yang akan menggantikan Raka, karena Raka sudah pindah ke luar kota tepatnya di Manado, silahkan perkenalkan dirimu” jelasan Bu Marlin wali kelas ku.
HAAA ??? Raka pindah ke Manado ? Ada apa ini, aku belum sempat berjumpa dengannya untuk terkahir kali. Kenapa dia begitu ??? kenapa..kenapa..dan kenapa ?
“iyaa, terimakasi bu, nama ku Monica Karina Larasati, bisa panggil aku Karin saja, makasih” perkenalannya.
“silahkan duduk di samping Ricka,” ujar Bu Marlin yang dilanjutkan Karin berjalan menuju bangku tempat Raka.
“permisi” sapanya.
“ooh, iya.. ehh, aku yang duduk situ ya, kamu duduk tempatku saja” ujarku, karna aku tak mau dia duduki tempat Raka.
Aku segera berpindah tempat di kursi milik Raka dulu sebelum dia meninggalkan aku, aku memasukkan jaket kedalam laci meja milikku aku merasakan ada sebuah kertas didalamnya, aku mengambil dan membukannya. Benar saja ini surat milik Raka, untukku dan segera aku baca.
17 Januari 2002
Dear, Ricka sahabatku..
Maaf aku sudah buatmu menangis kemarin, aku sadar itu. Aku pergi untuk selamanya dari hidupmu, aku hanya tak ingin menjadi benalu di hubungan kalian berdua, salam ya buat Dinar aku slalu merindukan kalian berdua. Tetap semangat tanpa kehadiranku, aku akan slalu mengabarimu bila kamu ingin, aku akan berangkat pukul 08.00 nanti, aku mencintaimu Rick, kenangan yang aku peroleh dan pelajaran-pelajaran yang aku peroleh darimu, serta kecupan hangat dikeningmu dan kebersamaan kita akan slalu ku ingat, jaga dirimu Ricka. Byee..
salam hangat Raka.
LOVE YOU
Setalah membaca surat itu, tess... air mataku terjatuh lagi. Apa yang harus aku lakukan kali ini ??? aku harus apa ? Aku nggak akan bisa temui dia lagi, pasti bu Marlin nggak ijinkan itu, tangisanku semakin deras saat memeluk erat secarik kertas yang membuat hati ku remuh dan hancur. RAKAAAAAAA....
Aku ingin memeluknya walau untuk terakhir kalinya, secepatnya aku keluar dari bangku ku dan pergi meninggalkan kelas, bu Marlin, Dinar dan semua teman-temanku. Ini saatnya, aku segera menaiki motorku dan pergi menuju Bandara, waktu ku tak banyak, aku pun berusaha ngebut dan aku tau mereka mengikutiku.
15menit kemudian aku sampai di Bandara, aku segera masuk dan mencari Raka, ya itu impianku sebelum dia pergi, aku masih merasakan bahwa mereka mengikutiku, biar saja yang penting aku bertemu Raka.
“itu dia” ujarku menunjuk ke arah Raka yang sedang berdiri di lobby.
“Raka....” teriakku memanggilnya saat itu juga dia menoleh mencari dari mana sumber suara itu.
“RAKA DELVANOO” teriakku berlari menghampiri Raka.
Ternyata Raka terkejut dengan kehadiranku, aku menatapnya sangat dalam. Dia pun membalas dengan senyuman, aku pun ikut tersenyum.
“Ricka, kamu ngapain ke sini ?? kamu bolos ya” tanyanya yang masih sempat mengajakku tertawa.
“aku pengen ketemu kamu aja kok, Ka. Masih sempat kamu ajak aku menjayus disaat aku menangis seperti ini ?!” omelku.
“hahha, maaf yaa” ujarnya menggenggam tanganku. “Emang kamu nangis ya ? Kok air matanya nggak ada yang keluar ??” lanjutnya mulai menjayus.
“Rakaaa,, sudahlahh aku pulang aja kalo gini” jawabku.
“yaa, jangan dong ! Aku belum peluk kamu” katanya.
Apa ??? dia ingin memelukku ? Yang benar saja ?? kenapa sehati begini ?
“boleh kan aku peluk kamu, Ricka sayang ?” tanyanya.
“ha ? Mmm.. iy..iy..” belum selesai aku menjawab Raka sudah memelukku hangat sekali beda dengan Seta, walau dia “PACAR KU” biar puas dianggap pacar.
“aku sayang kamu, Rick” ujarnya berbisik ditelingaku.
“me too” jawabku singkat.
Saat informasi diberitahukan bahwa keberangkatan menuju Manado akan segera berangkat, Raka melepaskan pelukkannya dan mengecup keningku lagi-lagi.
“jaga dirimu Ricka, aku mencintaimu, aku akan baik-baik saja” ujarnya meninggalkan ku sendiri.
“Aku masih terdiam melihat perginya Raka dari pandanganku , aku akan slalu mengingatmu Raka” ucapku dalam hati.
Mereka pun segera mendekatiku, dan memelukku erat.
“sudah ya Rick, jangan nangis. Dia akan baik-baik saja” ujar Dinar.
“iyaa” jawabku masih memandang punggung Raka yang semakin menjauh dari pandanganku.
“ayoo kita balik kesekolah” ajak Dinar yang segera aku iyakan lalu pergi meninggalkan Bandara.
“selamat tinggal Raka”.
My Tears... SADISS …
Huhh, aku masih nggak ikhlas Raka pergi. Ocehan ku jalan menuju kelas ku, aku melihat kejadian itu ?! Kejadian yang nggak pernah aku inginkan ternyata terjadi ??? apa ??? Dinar dan Seta sedang asik bermesraan dikelas tanpa rasa salah saat aku masuk dan mengetahui itu ?! Kejam banget.
“kamu ngapai berduaan disini, Set ??” tanyaku emosi.
“akhirnya kamu datang juga ya Rick, jadi kita nggak perlu sembunyi-sembunyi kaya dulu. Iya kan sayang ??” jawab Seta yang benar-benar 'TEGA'
“ha ??? apa ? Apa maksud kalian ? Jadi slama ini kalian..”
“iyaa, kami berdua maksudnya aku dan sahabatmu Dinar, kita “PACARAN” dia sangat mengerti aku dan sama sekali beda dengan sikapmu !!!” jawab Seta kali ini buat air mataku menetes. “dan bukannya kamu mencintai Raka bukan aku, Rick ??” lanjutnya. “jadi buat apa kita terusin, kita putus aja ya”
“ooh. Jadi begini sikap kalian ??? saat aku membutuhkan kalian, ini balasannya ?? oke, makasih buat semuanya. Dan kamu Din, aku bener-bener kecewa sama kamu, aku udah percaya sepenuhnya. Tapi apa ?? sahabat macam apa kamu Din ? Apa kamu lupa kejadian dulu saat kita masih bersama Raka ???” ungkapanku meninggalkan mereka.
“tapi,,Ricka.. maafin aku” ujarnya yang nggak akan aku hiraukan.
Saat itu juga aku putuskan untuk pulang ke rumah dengan alasan sakit, padahal tidak !!!
sungguh aku sangat kecewa pada tingkah Dinar yang sungguh di luar dugaan, dan Seta yang sangat aku butuhkan untuk melupakan Raka dan mulai hidup baru dengannya. Sungguh ini gak adil bagiku, Raka...
aku memasuki kamar dan menangis tanpa melepas sehelai kain dari tubuhku, aku sudah tergeletak lemas diatas kasur dengan air mata yang penuh tegaan dan kekecewaan itu aku mencoba menangis sekeras mungkin, yaa.. aku harap ini bisa sedikit mengobati rasa sakitku. Aku mencoba berteriak sekeras mungkin, “ARRGHHHHHHH !!!! brengsekk..” teriakku yang lagi-lagi diakhiri tangisan. Aku melempar parfum kekaca dan memecahkan kaca rias dengan tanganku hingga terluka, semua tak tau itu.
Aku ingat aku menyimpan rokok milik Seta, yang tertinggal diruang tengah saat dia ke kamar mandi. Aku ingin mencoba itu, mungkin bisa menghilangkan rasa stress ku. Aku mengambil sebatang dan mencoba menghisap dan menghembuskannya, sungguh nikmat..
yang benar saja setelah itu, aku merasakan kebahagiaan bukan stress lagi. Sampai malam aku menghabiskan sisa semua rokok yang ada di dalam kotak itu, suara bibi yang menyuruhku makan tidak aku hiraukan sama sekali. “Memang asik” ujarku segera memutar musik. Yaa.. malam itu menjadi malam GILAA ku.
Pagi pun tiba dan kayanya aku masih tertidur karna bibi membangunkan ku sampai masuk kamar, saking molornya aku.
“non, ayoo bangun. Udah jam berapa ?? non nggak takut telat” ujar bibi berusaha membangunkan ku.
“nanti ya bi” jawabku.
“non, ada telpon” katanya.
“siapa bi, pagi begini sudah telpon. Kalo Dinar bilang aku males bicara dengan dia” jawabku.
“bukan non, den Raka” ujar bibi.
“haa ??? Raka ?? sini-sini ...”
“hallo ?? ada apa, Ka ?” tanyaku.
“kamu gak sekolah Rick ?” jawabnya.
“gak ahh, males ..”
“aku tau kok, sabar yaa”
“kamu kok tauu ???? maafin aku ya ..”
“nggak, gak papa lagi” ujarnya segera menutup telpon, yahh.. biasa slalu cepat hilang saat aku kangen begini.
Apa boleh buat hari ini aku sekolah, ada ulangan Fisika yang nggak mau aku lewatkan. Karna aku suka pelajaran itu, jadi mau apa lagi ??? iya kan. Aku segera memasuki kelas ku dan duduk dibangku milik Raka, yaa .. aku sempet liat kok kejadian itu, baru saja sih. Memang sahabat macam sekarang, sukanya sakitin sahabat senidri, mana ada yang seperti itu ???
“pagi-pagi udah mesra-mesraan ya Mon ??” ujarku yang langsung ditangkap oleh Monica apa maksudku.
“iya ya Rick, gak tau malu banget” jawabnya buat aku senang.
“hahaha.. amit-amit dahh” ujarku terkahir setelah lewat didepan mereka dengan wajah gak peduli, aku dan Monica segera pergi. Ya, aku sempat melihat bagaimana expresi mereka terutama Dinar, yang sepertinya merasa sangat bersalah sekali pada ku, biarlah, biar dia tau bagaimana rasanya disakiti dan kehilangan seorang sahabat, ya yang seperti aku rasakan ini.
Aku berjalan menuju kantin untuk mencari tempat dan suasana yang lebih nyaman, beda dengan suasana dikelas yang dengan kehadiran mereka berdua, buat hatiku panas.
“aku pesen minum dulu ya, Rick ?” ujar Monic.
“aku mau juga dong, Mon” jawabku sambil memandang sekelilingku dan dilapangan itu, ya, aku masih ingat dimana saat aku dan Raka dihukum karna tidak mengerjakan tugas itu, hahaha... air mataku terjatuh lagi untuk ke dua kalinya karna Raka, aku tertawa dengan tangisanku. Aku menangis bukan karna kehilangan tapi aku mengenang masa itu sungguh indah sekali.
“hey, kamu ngapain nangis, Rick ???” tanya seorang cewek yang ternyata Monic.
“ahh, gak..gak papa kok” jawabku tersenyum.
“aku tau kok, cowok itu kan ?? yang pidah ke Manado ? Iya kan ??” tanya Monica dengan menyodorkan minuman yang dia beli tadi.
“makasi, kamu tau aja sih?” tanyaku balik.
“iya dong, aku juga cewek Ricka. Aku juga bisa rasain itu, yang kaya kamu rasain sekarang” jawabnya. “aku juga sama sepertimu, aku merindukan dia yang jauh denganku. Entah bagaimana kabarnya ??? apa dia masih setia atau malah berpaling dariku” lanjutnya. “tapi aku percaya dia baik-baik saja disana, meskipun dengan yang lain”
“lhoo ?? kok jadi kamu yang nangis sih, udah dong jangan nangis lagi” ujarku mengusap air matanya.
“iya, Rick. Makasi ya..” jawabnya tersenyum, walau aku tau dia tak bisa membendung tangisannya.
“yuk, balik. Udah bel” ajakku yang langsung di iyakan Monic.
“Mon, aku pulang duluan yah” pamitku segera menaiki motor dan pergi.
Lalalalala.. aku bisa mengambil hikma dari semua cerita Monica, ternyata dia tak jauh lebih parah dari aku yang bukan siapa-siapa Raka, aku bersyukur bisa memilikki Raka walau hanya sebatas sahabat dan aku juga bersyukur memilikki sahabat yang baik seperti Monica yang bisa juga menggantikan posisi Dinar, disaat aku duka maupun senang.
Yaa.. aku semakin semangat dengan kehadiran Monica, makasih ya.
Aku membuka pintu gerbangku, dan memasukkan motor matic ku kedalam garasi.
“kemana pak Tohir ??? satpam itu, slalu hilang” omelku.
“bibi..” teriak ku memanggil bibi, yang sebaliknya aku dikagetkan dengan kehadiran mama dan papa yang ternyata sudah pulang.
“mama ?? papa ??” ujarku terkejut.
“iya sayang, kamu baik-baik aja kan ???” tanya mama.
“iya, ngapain pulang ma ?” tanyaku balik.
“lhoo ? Kok kamu jawab seperti itu ??”
“iyaa, bukannya yang lebih penting itu KERJAAN mama ?? buat apa kembali ke Indonesia ? Aku lebih bahagia mama di Singapura kok” jawabku ketus, segera masuk kamar dan menutup diri dari mereka.
Seperti biasa, aku hari ini sangat stress, aku pun memutuskan untuk jalan sore ini ke rumah Monica dan mengajaknya berjalan-jalan. Aku butuh refreshing, walau sedikit.
Mengelilingi kota Malang lumayan asik dan mengenangkan, kota yang sejuk sekali. Aku memutar radio di mobil dan kali ini lagu yang diputar oleh radio itu adalah lagu ku dengan Raka, (Vierra-Rasa Ini) ya ampunn, betapa hancurnya hati ku saat dengerin lagu itu, dimana saat aku pertama kenal Raka dengan kepribadian ku sendiri, aku nangis lagi ??? tidaaaaaaaaakkk, cukup aku menangisi semua ini.
Beberapa menit kemudian aku sampai dirumah Monic yang memang jarak rumahnya tak cukup jauh dari rumahku, bisa dibilang satu perumahan. Aku menelpon Monica dan memintanya keluar, 5menit kemudian Monica keluar dengan baju yang rapih dan mengerti maksud dari ajakanku.
“ayoo jalan” ujar Monica yang buat aku kaget.
“ha ???” jawabku terTOHOK.
“lhoo ? Kita mau jalan-jalan kan ?” tanyanya yang segera aku iyakan dan menyalakan mobilku.
“mau kemana ini Rick ??” tanyanya kemudian.
“kita jalan aja, aku sumpek dirumah. Mama ku sama papa ku baru pulang dari Singapura” jawabku cuek.
“lhoo, kok malah ditinggal si ?”
“males gue, gue lebih suka mereka gak ada dirumah”
“kenapa Ricka ???”
“karna gue gak butuh mereka !!!” jawabku semakin emosi.
“yaudahh, sabar ya”
Diperjalanan aku diberi MOOD yang super-super gak asik, terasa GARING. Kenapa dia harus ingetin aku soal mama dan papa si ???
Kitapun berhenti disuatu Cafe yang jaraknya tak jauh dari Universitas Muhammadyah, aku dan Monica segera turun dan mencari tempat untuk makan, kita pilih tempat paling pojok untuk mengobrol.
“kamu pesen apa, Mon ??” tanyaku yang sama sekali gak di perhatikan Monica yang justru lebih mengarah kelain bangku.
“kamu pesen apa, Mon ??” tanyaku yang sama sekali gak di perhatikan Monica yang justru lebih mengarah kelain bangku.
“heii !!!!” kaget ku.
“ehh, apa si bikin kaget ?” jawabnya.
“abis kamu ditanya gak jawab, kamu mau pesen apa ???” tanyaku ulang.
“sama deh kaya kamu” jawabnya melihat kearah lain dan lagi.
“sama ya, yaudah.” jawabku buru-buru pesan makanan. “kamu liat apa si, Mon ???” tanyaku lagi.
“ahh, bukan siapa-siapa kok. Gak penting” jawabnya membendung air mata.
“cowo kamu ya ???”
“mmm...iyaa Rick.”
“kok dia sama cewe lain ??? pake pegangan tangan lagi”
“hm, aku gak tau jelas si Rick. Mungkin dia bosan” jawabnya yang sudah tak sanggup lagi untuk membendung air mata lalu menangis dimeja.
Aku tau persis perasaan Monica saat itu, sama seperti saat aku melihat Seta mesra dengan Dinar, aku gak rela sahabat aku yang baik ini disakiti oleh lelaki yang gak tanggung jawab seperti dia. 5Menit kemudian minuman dan makanan yang kami pesan datang, aku segera membawa miuman itu ke meja cowok yang sudah menyakiti hati sahabatku yang menumpahkannya dengan penuh amarah. Memang si ini bukan urusanku tapi aku adalah sahabat Monica.
“hei, kamu apa-apaan si sama cowok ku ??” marah cewek itu yang sedang bersamanya.
“cowok ku ? Hellow !!! lo liat gak, sahabat gue nangisin ni cowok ?”
“emang dia siapa ??”
“lo mau tau sahabat gue ini siapanya cowok bego lo ?? dia cewenya, dan lo adalah selingkuhan cowok bejat ini !!!! udah TAU ??” emosiku.
“maksudnya ??”
Monica datang dengan menghapus air matanya yang semakin deras dan membentak ku didepan mereka.
“Ricka, kamu ngapain sih ???” bentaknya.
“aku cuma pengen bantu kamu dari cowok yang gak tau diri ini, Monica !!!”
“ngapain dan buat apa ? Aku gak butuh, kamu itu gak ada hak ikut campur urusanku RICKA !!!!” ujarnya.
“tapi aku kan...” belum sempat aku melanjutkan ucapanku Monica sudah menamparku.
PLAKK !!!! Monica berhasil menampar pipi kanan ku dengan penuh amarah.
“ehh, gue salah apa ?? sampek lo tampar gue Mon ???” tanyaku. “gue cuma mau bantu lo !!!!” lanjutku.
“gak perlu kamu bantu aku Rick, aku gak butuh” jawabnya. “ kamu memang sahabatku dan aku hargai itu, tapi kamu gak ada HAK ikut campur urusan ku RICKA” bentaknya yang kali ini aku tinggal pergi.
“makasih MON !!!” ujarku segera pergi.
Sial, hari ini bener-bener sial !!!! arrghh~ bodoh banget gue bisa kaya gitu, tapi Monica yang lebih bodoh, udah disakitin masih aja belain. Mana sakit lagi ini tamparan, auuuu...
Aku segera masuk kamar dan memberantakan semua barang-barangku, tak peduli mama akan marah karna aku sudah tak anggap dia. Aku mengambil laptop ku dan menyalakannya, aku buka semua curhatanku dan mulai mengetik sebuah tulisan.
Ahhh.. gila, hari ini sial banget. Dari awal pulang sekolah sampai saat ini bikin MOOD aku jelek. Ditambah lagi Monica yang gak tau terimakasi itu, menamparku se enaknya padahal aku se umur-umur belum pernah ditampar mama dan papa, muak sama mereka.
Iya aku maafin.. SAHABAT ku!
Pagi itu, ya seperti biasa aku jalani hari-hari ku denga biasa saja. Aku turun kebawah untuk sarapan pagi, aku liat keadaan di meja makan yang sangat sunyi setelah kedatangan ku. Aku si cuek aja, aku cuma ingin makan kok gak peduli mau ngomong apa juga.
“pagi sayang” sapa mama yang hanya aku balas dengan senyum kecutku.
Aku segera mengambil nasi goreng yang sudah di buat bibi dan masih hangat itu, aku memakannya lahap sekali karna memang sejak kemarin sore aku gak makan.
“ini non susunya” ujar bibi menyodorkan segelas susu dimeja.
“makasi bi” jawabku dengan senyuman yang kali ini beda dengan senyuman kepada mama ku.
Suasana hening seketika setelah bibi pergi, dan tetap saja aku tak peduli aku hanya ingin makan. Kalo boleh aku pilih, aku akan pilih makan dibelakang bersama bibi dibanding dengan mama dan papa yang hanya sekali, beberapa menit kemudian mama mulai membuka pembicaraan.
“Ricka, bagaimana sekolah kamu dan teman-teman disana ?” tanya mama.
“biasa aja” jawabku cuek dengan menyodorkan sesuap nasi goreng kedalam mulutku.
“ooh. Pacar kamu siapa sayang” tanyanya lagi.
“udah putus” jawabku masih cuek, aku tau mama gak suka itu.
“aku berangkat sekolah dulu.” pamitku tanpa mencium tangan mama dan papa yang sudah bersiap-siap dan mengangkat tangan mereka.
Aku berjalan menuju ruang tengah lalu pintu keluar, tanpa pamit dengan mencium tangan mereka aku tak sedih kok justru bahagia, aku ingin mereka rasakan apa yang mereka lakukan padaku gak sepantasnya kok. Aku gak butuh rumah mewah dan uang banyak, tapi aku butuh perhatian dan kasih sayang saja.
Akhirnya sampai sekolah juga dan tidak bertemu mereka lagi, “huuft” aku menghela nafas panjang karna capek naik tangga.
“tumben dateng telat, Rick ??” tanya Monica.
“ha, gak papa kok. Macet tadi” jawabku enteng.
“ooh.. eh, Rick. Aku mau minta maaf ya atas kejadian kemarin yang aku tampar kamu” ujarnya.
“ooh, it's oke girl. No problem” jawabku tersenyum.
“makasih ya, kemarin setelah kamu tinggalin aku pulang. Aku nangis dirumah, aku pikir kamu bakal marah lohh, ternyata nggak. Kamu memang sahabat aku yang baik Rick” ujarnya yang buat aku terharu. “aku juga nyesel udah belain Ricky itu deh, yang ternyata kemarin dia marahin aku lalu putusin aku Rick” lanjutnya. “padahal aku sayang dia dan berusaha menjaga hubunganku yang hampir setaun ini”.
“udahlah, cowok kaya dia itu gak perlu dikasi ampun. Aku bakal bantu kamu kok buat bales dendam, Mon” jawabku mengedipkan sebelah mataku.
“maksud kamu ???” tanyanya.
“ikut aja deh, ntar pulang sekolah ikut aku dulu. Kita langsung pergi” jawabku.
Tepat saat itu, bel pun berbunyi seperti biasa jam pelajaran akan segera dimulai. Aku pun meraih handphoneku dari dalam saku dan mulai mengetik sebuah sms yang akan aku kirim pada teman ku, yang aku rasa bisa membantuku untuk membalaskan dendam sahabatku. Cowok ini memang baik dan ganteng jadi gak salah aku minta bantu dia kan ?? kalo seperti artis dia mirip Kevin Aprillio, setidaknya seperti itu karna rambutnya yang panjang dan kulitnya putih yang membuatku yakin mirip dia.
Dan saatnya pun datang juga, bel pulang sekolah berbunyi dan saatnya berAKSI !!!
aku menarik lengan Monica dan membawanya ke mobil untuk ikut bersama ku, yaa.. hari ini aku bawa mobil jadi aku bisa mengangkut dua temanku ini.
“mau kemana ini, Rick ??” tanya Monica.
“ahh, diem aja. Yang penting kita berhasil” jawabku segera melajukan mobilku menuju arah rumah Nico.
Beberapa menit kemudian kami sudah berada tepat depan rumah Nico, aku membunyikan klakson dan seorang lelaki keluar dari rumahnya.
“siapa itu Rick ?? ganteng banget..kaya..”
“kevin kan ??? sudah aku tebak kamu bakal ngomong gini, kamu itu udah cewek yang ke 1250 yang bilang dia ganteng pluss mirip kevin” ujarku yang membuatnya malu.
Setelah pembicaraan kami, Nico pun masuk dalam mobil dan aku segera tancap gas. Di perjalanan aku menyuruh mereka berdua untuk saling perkenalan, aku tau Monica sangat malu tapi apa boleh buat ??
“nahh, kamu gak tau kan apa maksud aku menyuruh Nico ikut ??” tanyaku pada Monica.
“belum, emang kita mau apain Ricky ??” jawabnya. “jangan bilang kamu bawa Nico buat hajar Ricky, aku gak mau” lanjutnya.
“hahaha.. tunggu dulu dong, jangan negative thinking dulu Mon, kita malah mau bikin Ricky cemburu dan nyesel pernah sia-siain kamu” jelasku.
“ooh, emang bisa ??”
“bisa dong, Nico gak kalah ganteng dibanding si Ricky” cemohku.
“ahh, jahat ya. Tapi aku masih sayang dia Ricka” jawabnya.
“udah ahh, huss”
Setelah pembicaraan itu berhenti akhirnya kita sampai disuatu MALL yang berada diSurabaya, cukup jauh juga dari kota ku tapi ini demi sahabat ku. HARUSS!! karna itu memang konsepku untuk hancurin hati tu cowok.
Aku segera memakirkan mobilku lalu kami turun dan secepatnya masuk untuk memilih pakaian karna hari sudah semakin siang menjelang sore, akhirnya kami menemukan tempat ruko yang menurutku bagus dan MAHAL. Aku segera menarik lengan Monica untuk mengajaknya masuk dan memilih pakaian sedangkan Nico sudah mengerti apa yang harus dia cari dan dia pakai, ditempat itu memang menjual pakaian wanita maupun laki-laki, jadi tak perlu bingung memilihnya. Aku memilah satu demi satu pakaian yang berjejer-jejer di dinding dan aku sudah menemukannya ada dua sih, yang pertama LongDress dengan banyak glitter dan berwarna silver dengan hiasan bulu-bulu lembut di bagian leher, dan baju yang ke dua adalah baju yang cukup simpel hanya rok mini dan baju yang tanpa lengan dengan warna pink dan abu-abu memilikki motif yang cukup lucu.
Setelah mencoba seluruh baju dan termasuk pilihan tadi kita memutuskan agar Monica memakai baju yang ke dua, rok mini dan baju yang tanpa lengan dengan warna pink dan abu-abu memilikki motif yang cukup lucu itu. Setelah selesai membayar kami segera menuju salon untuk mengubah penampilan Monica, memang si dia cantik tapi kurang oke saja, berjalan menuju salon yang biasa aku hampiri saat liburan tiba atau untuk spa dan faciel.
“ini mau di apain, Rick ???” tanya mbak salon itu.
“bikin dia se-cantik mungkin, soalnya aku mau bales dendam sama mantan dia mbak” jawabku cerocos.
“sabar dong ngomongnya, oke..oke” ujar mbak salon itu, sebut saja mbak Santi.
Ngomong soal mbak Santi, aku udah lama kenal dengan beliau. Saat aku masih umur 11th mama sering mengajakku untuk spa, mani pedi, dll.
Setelah satu jam lebih kita menunggu hasilnya, sambil ngantuk aku menunggu Monica, jujur saja aku paling gak suka nunggu !! sedangkan Nico, sudah siap dengan kemeja putih yang bergaris biru dengan celana yang, waww.. syur banget !!!! cakep lahh.
Akhirnya masa-masa menunggu selesai juga, aku yang tadinya tidur dan mengantuk dibangunkan oleh Nico dengan penuh semangat tanpa menoleh sedikitpun kehadapan ku, membuatku terkejut, karna.. wawww... Monica cantik banget. Bisa dibayangkan wajah Monica terlihat lebih cantik saat Syntia Bella (artis) memakai make up, itulah Monica.
Perjalananpun dilanjutkan, Monica memberi tahu ku kalo jam segini (sore) Ricky biasa nongkrong di Cafe bersama teman-temannya, secepatnya kami menuju kesana karna aku sudah ganti baju jadi kita bisa saja masuk tanpa dicurigai oleh orang-orang, lagi pula Monica memakai baju yang memang seperti layaknya anak kuliah.
Kami melihat satu demi satu meja yang memang sudah terisi, tapi yang kita cari bukan cuma TEMPAT DUDUK melainkan sasaran utama, yaa..Ricky si cowok Play Boy itu.
“dimana dia, Mon ??” tanyaku penasaran.
“nah, itu siapa Ricka ?” jawabnya menunjuk ke arah Ricky yang sedang berduaan dengan cewek yang sama.
“ayoo, kita samperin sekarang” ujar Nico yang tak sabar segera menarik tangan Monica.
“jangan dulu !!!” jawabku.
“kenapa ?”
“biar aku menjauh dari kalian dulu dan duduk ditempat yang pas, biar bisa melihat ekspresi mereka. Terutama CURUT itu” jawabku segera pergi mencari tempat yang pas.
Akhirnya aku menemukan tempat duduk yang tak jauh dari tempat Ricky dan meja kosong disebelah mereka berdua, aku memberi aba-aba kepada Monica dan Nico untuk segera memulainya dan aku memberi petunjuk untuk duduk disebelah Ricky dan cewek itu. Tak lama kemudian Monica dan Nico sudah berjalan dan duduk di meja samping tempat Ricky dan cewek itu duduk, aku menikmati pandanganku dengan memesan segelas jus Stroberi bisa dibilang seperti melihat telenovela, hahaha... lucu mereka.
Saat itu suasana sangat mencengkam sekali, dengan ekspresi Ricky yang terkejut dan terkasimak membuatku yakin rencana ini bakal berhasil dan benar saja.. semua berjalan dengan sesuai rencana. Ricky sangat cemburu dengan kehadiran Nico disamping Monica yang sedang bermesraan di hadapan Ricky, aku bisa tau dari wajah Ricky yang sangat emosi itu dan membuatku yakin dia akan MENYESAL! Monica dan Nico semakin mesra, dan setelah satu jam berlalu aku juga merasa capek secepatnya memberi aba-aba yang tandanya kita sudah puas dan berhasil. Tak lama menunggu mereka sudah keluar dengan tangan yang masih bergandengan sangat mesra, aku tau karna Ricky masih melihat mereka pergi.
“gimana Mon ?? udah puas” tanyaku tertawa kecil.
“haha.. sangat puas” jawabnya dengan nada KEMENANGAN.
“gitu kan enak, jangan nangis lagi !” ujarku.
“sipp, makasi ya Ricka cantik”
“sama-sama”
“karna kita sudah berhasil, gimana kalo kalian berdua aku teraktir makan ?” ajaknya menarik tanganku.
“ayoo” jawabku singkat.
Tepat di cafe Dest'n kami merayakan kemenangan ini dengan makan,minum dan tertawaria sangat senang, namun karna hari sudah semakin sore dan menjelang malam kami segera pulang. Yaa, aku masih ada tanggung jawab mengembalikan dua anak orang ini, beberapa jam kemudian kami sudah sampai dirumah Monica karna jalan macet terpaksa memerlukan waktu cukup lama, karna biasanya aku hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk kembali ke Malang.
“makasih ya, Rick. Kamu sahabatku yang paling baik” ujar Monica.
“okelahh..” jawabku singkat meninggalkan rumah Monica.
“byee” ujar Nico.
Setelah pulang dari rumah Monica, aku segera mengantar Nico untuk pulang karna aku tau besok dia masuk pagi dan begitu juga aku. Saat di perjalanan kami saling mengobrol tentang banyak hal dan juga Monica.
“makasi ya kak, kamu udah bantu aku” ujarku berterima kasih.
“jangan panggil kak dong, aku masih muda sama sepertimu.” jawabnya
“tapi kan kakak, ehh.. kamu lebih tua dari aku ?” tanyaku.
“iyaa, tapi biasa aja, panggil saja Nico” jawabnya lagi.
“oke-oke, aku anter pulang ya kak, ehh.. Nico”
“berhenti dulu”
Kami saling pindah tempat duduk, sekarang Nico yang menyetir dan aku yang duduk disebelah dia. Sepertinya dia mau membawa ku ke suatu tempat.
“mau kemana ini ??” tanyaku.
“udah, ikut aja. Gak aku apa-apain, setelah itu kita pulang” jawabnya.
15menit kemudian kami sampai disuatu tempat, dan benar saja ini sangat sepi. Apa yang mau dia lakukan ditempat seperti ini ???
“ayo, turun ?” ujarnya.
“iyaa”
“kamu tunggu disini dulu ya” ujarnya manis.
“iyaa, Nico” jawabku tersenyum.
Cukup lama aku menunggu Nico pun tak nongol juga, aku melihat segerombolan cowok berandal dengan pakaian yang kumuh dan kotor seperti belum mandi itu, mendekatiku hanya dua orang tapi membuatku takut. Semakin mendekat dan semakin membuatku risih dan sangat risih, apalagi Nico belum juga kembali, aduuh.. dan hanya berdo'a yang sanggup aku ucapkan.
“malem cantik, malem-malem gini kok belum pulang” ujar cowok berandal itu dengan nada tak sadar diri karna mabuk berat.
“jangan sentuh aku!!! toloooong, kak Nico” teriakku memanggil kak Nico.
“udahlahh, disini gak ada siapa-siapa apalagi Nico itu. Ayoo ikut kami”
“GILA !! kak Nicoooooo.. toloooooongg” teriakku semakin keras dan tak lama kemudian Nico datang dan menolongku.
Sungguh, dia seperti dewa penolong yang tampan dan baik hati. Aku tersanjung saat Nico menghajar habis semua anak berandal itu satu demi satu hingga habis dan pergi ketakutan, bener-bener buat aku terkagum – kagum.
“kamu gak apa, Rick ??” tanya Nico hawatir.
“gak kok, gak apa” jawabku singkat.
“sini aku bantu bangun ya” ujarnya mengulurkan tangan.
“makasih ya”
“iya”
“kamu ini, dari mana aja ?? lama banget” tanyaku saat terbangun.
“maaf ya, tadi aku cuma mau cari ini buat kamu” jawabnya sambil menunjukan rangkaian bunga mawar warna merah dan putih.
“ha, so sweet banget si kamu Nic?”
“iyaa, kamu tau kenapa aku kasih kamu bunga??” tanyanya.
“kenapa ?”
“karna, aku sayang kamu Rick. Kamu mau jadi cewek aku ????” ungkapnya.
“hah ?? ng..mmm..anu..anu..” jawabku gugup.
“ada apa ??? kok a i u e o ???” tanyanya.
Aduuh, aku harus jawab apa? Sementara aku tau dan yakin saat ini Monica sudah jatuh hati dan suka dengan Nico, aku gak mau sakitin hati dia.
Walau hati aku sakit tapi aku yakin, aku bisa bahagia jika lihat kedua sahabat aku bersatu. Hmm, kenapa aku gak nangis yaa ???
“hei !!!” aku dikagetkan oleh Nico yang membuat lamunan ku berantakan.
“apa??”
“jadi gimana ???”
“apanya Nico ?” tanyaku pura-pura bego.
“mau gak jadi cewe aku” ungkapnya lagi.
“hmmm, gimana ya ??” jawabku bingung.
Apa yang harus aku jawab ??? haruskah aku jujur, atau...
“heloo ??? Ricka..” ujar Nico.
“ehh, iyaa.. mmm, aku boleh jujur?” tanyaku.
“bolehlahh..”
“gini Nic, maaf sebelumnya.. aku gak bisa terima kamu.. aku sangat menghargai keputusan kamu yang menyayangiku. Tapi, aku gak mau dia sakit hati karna ku !” jelasku.
“dia siapa ??” tanyanya balik.
“pokoknya dia” singkatku.
Beberapa menit kemudian kami saling diam dan suasana menjadi hening,dan terpaksa aku yang memulainya, aku tau apa yang kini dirasakan oleh Nico. Tapi inilah yang terjadi, Monica terlalu baik untukku, dan aku tak tega melihatnya menangis sama sepertiku saat dibuat Dinar. Malam itu aku putuskan untuk segera pulang kerumah walau dengan wajah lemas dan kecewa, tapi mau apa lagi ???
i'm with you... :(
seperti biasa bangun pagi secepatnya mandi dan bergegas berangkat sekolah, hanya itu kegiatanku saat pagi hari dan kecuali hari MINGGU ! Haha..
kenapa yaa, pasti semua bakal tanya kenapa. Yaa, aku tukang keboo, kegiatan itu yang aku lakukan setiap minggunya dan rutin.oiyaa, hari ini aku diantar pak Tohir untuk berangkat sekolah, ketemu mama dan papa lagi dimeja makan buat aku gak nafsu.
Secepatnya aku berpaling arah dan meninggalkan mereka berdua yang sedang menikmati makan paginya, tanpa pamit dan tanpa salam aku langsung saja cabut.
Aku tau saat itu mama dan papa tidak terlalu memperhatikan ku, yaa..mungkin saatnya mereka melupakanku.
Diperjalanan aku masih saja bingung dengan sikap kedua orang tua ku yang semakin hari semakin melupakanku dan anggap aku tak ada, suasana saat itu sangat mendukungku untuk berfikir, dengan keadaan hening dan hanya ada aku dan Pak Tohir sopirku yang sudah 14th menjaga keluarga kami dan senantiasa berjasa dihidup ku itu memulai pembicaraan, yang sebenarnya membuat aku muak.
“non, ngapain sih berubah ?” tanya Pak Tohir.
“apa yang berubah si Pak ??? mereka yang berubah, aku aja udah dibuang” jawabku.
“harusnya non bisa mengerti dan dewasa, orang tua non sangat sayang sama non, makanya mereka bekerja mati-matian seperti itu. Orang tua non cuma tak ingin depannya non gak bahagia” nasehat Pak Tohir yang kali ini aku diam saja dan berfikir.
Sejenak aku diam tanpa menjawab nasehat Pak Tohir yang terakhir kali, benar juga ungkap beliau mama dan papa tentu saja menginginkan yang terbaik untukku. Buktinya saja nggak mungkin aku bisa menaiki mobil seMEWAH ini dan memakai SOPIR pribadi serta sekolah yang BAGUS dan MAHAL tanpa kerja keras mereka berdua ??? dan Handphone ini, tanpa kerja keras mereka aku tak akan punya barang sebagus dan semahal ini kan ? Dan lagi aku juga harus menyadari bahwa sebenarnya hidupku indah, banyak yang bilang iri terhadapku !!! bodoh sekali aku jika tidak mensyukuri apa yang aku milikki.
“tapi aku butuh mereka bukan HARTA pakk” jawabku yang segera membuyarkan suasana.
“iyaa, saya tau. Tapi pernahkah non berfikir kalau mereka juga merindukan non? Mereka diam saja itu karna mereka tak mampu membendung air mata” ujarnya.
“maksud Pak Tohir ??” tanyaku balik.
“iyaa non, jadi selama ini non tidak tau apa-apa?”
“apa maksud Pak Tohir ??”
“non, jadi selama ini setiap malam Tuan dan nyonya selalu memperhatikan sikap non. Setiap beliau pulang kantor yang sudah larut malam, saat itu memang non pasti sudah tertidur pulas mereka selalu masuk dan memberi ucapan selamat malam pada non. Saya sering perhatikan itu, setelah itu mereka menangis merasa sangat bersalah” jelas Pak Tohir.
Tanpa aku menjawab, secepatnya aku turun dan meninggalkan Pak Tohir, yaa...karna memang sudah sampai.
Aku masih saja berfikir tentang mereka, mama dan papa ?! Yahh..tak pernah sekalipun aku memikirkan hingga seDETIL itu seperti Pak Tohir yang slalu memperhatikan mama dan papa tiap malam. Apa aku masih bisa dianggap anak kalo seperti ini terus?? aku bener-bener gak ada harganya saat ini dimata mereka, aku tak pernah membanggakan ke dua orang tua ku ?! Apa yang kini harus aku lakukan TUHAN ? “beri aku kekuatan Tuhan” doa ku saat masuk kelas.
Aku masih saja tetap melamun, bener-bener gak konsen dengan semua pelajaran, otakku hanya tertuju pada mama dan papa! Ada apa ini ????
“heyy..kamu kenapa Rick ???” kejut Monic yang buat lamunanku buyar.
“mm..hha?? ada apa sih Mon?” jawabku tanpa memandang Monica sedikitpun.
“kamu kenapa sihh?? ada salah denganku”
“ahh..gapapa” jawabku cuek meninggalkan Monica.
Seperti biasa yang aku lakukan saat aku termenung atau banyak masalah, slalu aku lampiaskan ke kantin untuk berdiam diri dan tentu saja Monica tau mengapa aku pergi begitu saja. “hufft” aku menghela napas yang sesekali melihat sekelilingku mungkin Raka akan muncul, tapiii gak MUNGKIN.
Beberapa menit kemudian aku melihat sepasang yang berjalan menujuku seperti Dinar dan Seta, ternyata benar saja itu mereka.
“ahh..sialnya aku bertemu mereka” gerutuku.
“haii Rick” sapa Dinar yang SOK!
“hem, haii juga”
“kita boleh gabung gak? Soalnya gak ada meja kosong lagi” tanyanya yang ngarep banget.
“ooh, serah” jawabku super dingin.
“makasi yaa”
Sudah 15menit mereka duduk berduaan bersamaku, apalagi ini??? gak balik-balik, aku lagi pengen sendiri. Ahhh...aku saja yang pergi.
“ehh, gue cabut yaa” ujarku pada Dinar yang hanya membalas dengan mengangguk.
Mau kemana aku ini? Aku malas balik ke kelas, aku ingin sendiri. Atau aku ke loteng saja untuk menyendiri???? hatiku masih saja tetap bingung,yaa..aku jarang seperti ini.
Keputusanku saat ini benar, kali ini aku memang sudah berada diLoteng dan menangis yang bisa aku lakukan saat ini. Karna jam mata pelajaran sudah dimulai 5menit yang lalu, lebih baik aku sendiri disini dan masuk setelah jam pelajaran ke dua, karna kali ini bukan masalah cowok yang aku pikirkan tapi mama dan papa ku. Aku terus saja melamun yang jelas aku tau handphoneku sudah bergetar 12x dan semua dari Monica, sengaja aku biarkan karna aku tak ingin diganggu semoga saja Monica mengerti.
Sesaat handphoneku bergetar kembali dan kali ini bukan telpon dari Monica melainkan sebuah pesan baru yang segera aku baca.
From : 081234567892
Ricka, kamu gak masuk apa ???
ini kan udah pelajaran syg..
Monica ^.^
huhh, memang aku akui Monica sangat care dan simpatik terhadapku, tapi yang aku butuhkan saat ini bukan dia, namun kesendirianku.
“biarlahh, aku ingin sendiri” ujarku menghela napas yang dikagetkan dengan sesosok wanita dibelakangku.
“kamu ngapain disini Rick??” tanya seorang wanita yang tak lain ternyata Monica, sialnya aku tertipu.
“sial” gerutuku.
“kenapa?”
“gak gapapa” jawab ku enteng.
“ooh, sms aku gak dibales.”
“gak ada pulsa”
“oyaa??? kemarin kita baru beli bareng lhoo” jawabnya yang buat aku tidak bisa bicara lagi.
“yaa” jawabku singkat yang mulai membuat Monica curiga dengan sikapku hari itu.
Sejenak kami terdiam dan tanpa seperti tak saling kenal, entah kenapa jadi seperti ini. Yaa,memang jujur saja butuh waktu untuk mencairkan suasana saat aku seperti ini, karna aku termasuk orang yang mudah mengikuti MOOD.
“kamu kenapa sih ??” Monica mulai membuka pembicaraan.
“emm,hah?? aku gapapa” jawabku masih tetap singkat.
“ini bukan Ricka yang aku kenal, kamu cerita dong sama aku Rickaa!!!”
“apaan sih lo?? dari awal juga kita gak kenal, lo gak akan tau sifat asli gue Monica”
“maksud lo apa? Kita GAK KENAL!!! jadi selama ini kita sahabatan lo anggap APA???” marahnya. “gue cuma gak mau lo susah atau sedih, karna gue sayang lo Rick!!! lo sahabat gue yang ngerti gue banget saat gue butuh” lanjutnya yang kali ini berhasil membuat aku MENANGIS.
“emm...maafin aku yaa Mon, semua aku yang salah kok. Aku tau aku udah cuekin kamu, biarin kamu yang tanpa aku sadar kamu shabat aku” ujarku menangis. “aku hanya tak ingin kamu memikirkan beban yang saat ini aku timpa” lanjutku.
“inget yaa Ricka, apa guna seorang sahabat kalo hanya merasakan kesenangannya aja??? bukan suka duka sahabat kita” oceh Monica yang mulai sok sepertiku.
“aku mengerti itu Mon, tapi aku hanya ingin sendiri dan memendam semua masalahku dalam-dalam” jawabku segera meninggalkan Monica yang ternyata dia mengejarku.
“tunggu...kamu bilang ingin sendiri?? apa dengan kesendirian semua masalah selesai Rick ?! Yang ada kamu semakin sakit karna terbebani tentang masalahmu itu” ujar Monica yang membuat aku mulai berfikir.
SAHABAT ???? mengingatkan ku pada seorang Raka dan tentu saja Dinar yang saat ini sedang menikmati masa-masa berdua dengan Seta, apa yang kini harus ku lakukan ?? aku rindu Raka dan Dinar, dia sahabatku yang paling aku kenang meskipun sesakit apapun hati aku karna ulah Dinar.
“mm..Mon,maaf yaa...aku udah buat kamu hawatir” ucapku memeluk Monica yang tanpa menjawab dia memelukku kembali.
Cafe..Cafe :)
asiikk...akhirnya sepulang sekolah ini aku dan Monica tancap langsung menuju Cafe tempat biasa aku dan Monica tentunya nongkrong, capek si tapi kalo udah berdua gak akan bisa bilang kata capeeekk !!!
oyaa,soal Cafe itu yaa...Cafe RIMO namanya, hahaha... mirip sekali dengan nama kita berdua jika digabung Ricka-Monica..haahaha..lucu sekali,dan ini pula yang menjadi alasanku serta Monica untuk senantiasa duduk berjam-jam diCafe ini.
Setelah memesan sebuah minuman Ice Remoo itu,kami mengobrol tentang Raka sampai akhirnya Ricky,yahh...memang jika masalah cowok,kereta kita paling cepat yang tanpa ada geronjalan atau kerikil di perjalanan.
Satu jam sudah kami menghabiskan waktu berdua hanya untuk memebicarakan COWOK! Haha.. nggak mutu ya?
Karna hari pun sudah semakin sore, kami berdua memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Tapi tetap saja diperjalanan aku dan Monica masih saja membicarakan Raka maupun Ricky.
“ehh, Rick..coba deh kita bisa pergi gini ber-empat”
“hahh?? maksud lu ?”
“iyaa, jadi gw sama Nico, lu sama Raka”
“hahaha..lu si bisa ber-dua, nah..aku gimana ?”
“maksudnya ?”
“yaa, mana mugkin aku bisa kaya gitu sama Raka !!!” ujarku lemas. “mungkin saat ini Raka sudah memilikki yang lain” lanjutku.
“ooh, kok kamu jadi pesimis gini sih Rick ??” tanyanya yang aku jawab dengan menaikkan kedua bahu ku, bertanda aku tak tau.
Malam ini aku bingung dengan semua keadaan ku, beban yang aku bawa mungkin sangat berat untuk ku pertahankan. Aku semakin tak mengeri dengan semua ini, Raka yang semakin jauh dari ku dan Dinar sahabat yang dulu aku banggakan mungkin tak akan kembali kepada ku lagi.
Yang aku bisa lakukan saat ini hanyalah berdo'a dan meminta agar semua kenangan yang dulu ku lalui bersama mereka yang aku sangat sayangi takkan dilupakan begitu saja. Yahh..aku masih bisa membayangkan wajah kami ber-tiga saat masih bersenang-senang dibawah jendela ini dengan hati yang hancur aku masih saja menganggap meraka ada.
Air mataku pun menetes satu demi satu air mata yang aku rasakan membasahi pipi hingga bajuku. Apa yang sedang aku rasakan ini ??? ku rasa saat itu hubungan kami sudah berubah, ya..aku menjalani hidupku dan mereka dengan hidup mereka masing-masing.
RICKA SADAR !!!!
Sudah seminggu memang aku bersama Raka masih menunggu Ricka yang terbaring lemas di Rumah Sakit ini, jujur aku sih bosan berada disini tapi bagaimana mungkin aku meninggalkan seorang sahabat yang sangat aku sayangi ini seorang diri ??? mana mungkin aku setega itu ?
“beb, kamu tadi udah makan belum ?” tanya Raka sambil menawarkan sepiring nasi goreng kesukaan ku, yaa..Raka memang sudah paham tentang aku.
“mm, gak usah beb..aku cuma mau Ricka sadar dari kritiss ini” jawabku menangis menggenggam tangan Ricka erat.
“iyaa sayang,aku tau kamu sahabat yang baik..tapi kamu udah 2 hari ini gak makan, aku cuma takut kamu sakit Moza” ujar Raka yang tak sanggup aku tolak lagi karna memang aku merasa sudah tidak enak badan.
“sini beb aku suapin” ucap Raka yang segera duduk didekat ku dengan menyuapkan sesendok nasi goreng itu.
“makasi sayang” jawabku dengan nada lemas dan wajah yang pucat pasif itu, tak sadar aku telah terjatuh ke lantai dengan makanan yang masi berada dimulut ku itu.
“MOZAAAAAAAAA !!!!!!” teriak Raka dan secepatnya memanggil dokter untuk membawaku ke kamar inap.
Pikiranku sudah tak karuan, aku tau bahwa saat ini Raka mencemaskan ku lebih cemas dari keadaan Ricka tadi. Karna penyakit yang ku derita lebih parah, dan aku tau saat ini Raka menangis tak ingin aku pergi.
15menit sudah aku diperiksa oleh dokter serta suster lainnya, dan benar saja Ginjal yang aku derita saat ini semakin parah karna kurangnya kegiatanku dan kurangnya aku dalam mengkonsumsi makanan.
“dok, bagaimana keadaan calon tunangan saya ?” tanya Raka dengan rasa penuh hawatir.
“mm..maaf nak Raka” jawab Dokter Marco yang semakin membuat Raka cemas.
“bagaimana dok?” tanya Raka lagi.
“keadaan Moza saat ini sungguh diluar keadaan yang harusnya stabil, ginjal yang diderita Moza sangat angkut” jelas dokter itu.
“lalu bagaimana ??”
“maaf nak Raka,saat ini saya belum bisa memberikan keputusan yang pasti” ujar Dokter Marco segera meninggalkan Raka yang sudah meneteskan air mata di ruang tunggu itu.
Setelah semua pembicaraan mereka Raka pun segera masuk dan menangis dihadapanku dengan rasa yang sangat bersalah. Aku masih bisa merasakan hangatnya tangan Raka saat menggenggam erat tangaku, dan aku juga bisa merasakan tetesan air mata yang dikeluarkan Raka untukku.
“Moza, tolong...jangan tinggalin aku lagi” ujarnya mencium telapak tanganku sambil menangis.
Dan saat itu entah apa yang ku rasakan, hanya anganku saja bisa memilikkinya, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi karna tubuhku yang kaku dan pucat ini.
Moza please..don't go !!!!
Aku hanya ingin kau tau apa yang aku rasa..
Aku hanya ingin mencintaimu dengan hatiku..
Aku hanya ingin memilikkimu sepenuhnya..
Sadarkah kamu, aku merindukan dirimu ?
Taukah kamu, cintamu adalah cintaku ?
Hatimu adalah milikku ?
Inginku juga inginmu ???
Dan yang aku tau, malukaimu sakitku ..
Sebuah puisi yang masih aku simpan rapi dilaci ku, aku hanya meyakinkan diriku bahwa Moza akan kembali untukku. Sesegera mungkin aku menghusap air mata yang ku teteskan untuk terakhir kali, aku hanya bisa terdiam memandangi semua foto saat kita masih berdua yang dibalik foto itu ternyata tersimpan kata-kata yang tertulis untukku “Raka ku, maaf kalo selama ini Moza udah buat kamu menangis,bersedih dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia. Jika kau rindukan ku pandanglah foto ini, aku akan selalu disampingmu”
apa yang sebenarnya terjadi diantara hubunganku dengan Moza saat ini ?? mengapa menjelang hari bahagia kita seperti ini ?! Aku terlalu sayang Moza.
Lamunan ku terbubarkan karna mama yang mengaget kan aku dari belakang,
“Raka, kamu ngapain ??”
“ahh..mama, bikin aku kaget aja !!! Raka lagi mandangi foto ini maa, aku rindu Moza”
“ya kamu datangi saja di rumah sakit, ini kan masih jam berjenguk” ujar mama yang buat aku makin semangat.
“iyaa maa, makasi yaa..” jawabku singkat segera pamit dan pergi menuju rumah sakit.
Aku tau pasti makanan apa yang di sukai Moza, jadi aku berinisiatif untuk pergi mampir membelikan Martabak Telor kesukaan Moza.
Kamar 115 …
Ku coba jalan melalui setiap lorong rumah sakit, mencoba menahan air mata yang tak semestinya aku biarkan mengalir saat bertemu Moza.
“pagi sayang..” sapa ku pagi itu pada Moza yang masih tertidur.
“oh,iyaa..aku sengaja bawain kamu Martabak Telor kesukaan kamu lho Moz” ujar Raka yang segera menyiapkan sepotong Martabak itu dan untuk disuapkannya kepada Moza.
Raka segera duduk dan mencoba membangunkan Moza, tapi sudah 10x dia mencoba membangunkan Moza tak sekalipun Moza mendengarkan Raka.
“Moz..bangun sayang” ujar Raka mengelus kepala Moza tapi tetap saja Moza tertidur.
“Mozaaa..Moz..”
Raka semakin panik dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Moza, 30menit pun berlalu tapi tak ada satupun orang yang keluar dari kamar Moza.
Aku pun mencoba menghubungi seluruh keluarga Moza termasuk mama, tidak lama kemudian mereka semua sudah datang dan mama mencoba untuk menenangkanku.
Satu jam berlalu seseorang keluar dari kamar Moza,
“dok, bagaimana dengan keadaan anak saya ?” tanya papa Moza yang tidak sabar.
“maaf pak, kami semua tidak bisa memberika harapan lebih kepada anak bapak”
“jadi maksud dokter anak saya...” belum sempat mama Moza melanjutkan pembicaraannya beliau sudah terjatuh dan pingsan.
“Mozaaaaaaaaaaa !!!!!” teriakku tak tahan menahan air mata yang semakin deras ini.
“dok, tolong..saya mohon sangat, bantu calon tunangan saya dok” pintaku memohon.
“maaf nak Raka, kami sudah memeberikan yang terbaik untuk nak Moza” jawabnya.
Setelah mendengar jawaban dari dokter Marco, aku segera masuk kamar Moza untuk menemuinya terakhir kali. Semua beban semakin aku rasakan dan yang aku tau Moza sangat mencintaiku lebih dari apapun.
“Moza, bangun Moz...jangan tinggalin aku dengan keadaan yang seperti ini Moza” rintihku memohon kepada Moza.
“Mozaaaaaaaaaaaaaaaaa....aku hanya ingin melihat senyum yang kau milikki, kembalilah kau kekasihku jangan putuskan kau tinggalkan aku, sekalipun ku sering menyakitimu namun cuma kamu Moza hanya kamu yang bisa mengisi hati aku” lanjutku tak tahan dengan air mata yang sudah ku luapkan sejak tadi.
“tenanglah sayang di alam sana, aku akan mengingatmu setiap hari” ucap Raka untuk terakhir kali.
Hari ini entah apa yang aku rasakan, semua jadi tak adil untukku. Aku akan bertunangan dengan Moza dan itu impianku saat ini tapi apa yang terjadi, secepat itu kau mengambil kebahagiaanku.
Aku masih saja menggenggam tangan Moza yang tampaknya dingin dengan wajah yang pucat pasif tak berdaya itu.
“Moza, ingatkah kamu kita ini akan bertunangan sayang..cepet sembuh Moza” ujarku menangis.
“sudah Raka..sudah! Moza telah pergi, kamu harus tabah menjalani hidup kamu nak” ucap mama yang ingin menenangkanku.
“tapi aku besok akan tunangan mam dengan Moza Silvia, calon menantu mama yang sangat aku cintai” ujarku yang semakin tak karuan.
“Moza sudah pergi sayang, kamu harus sadar itu. Mama tau kamu sangat mencintai Moza, mama tau kamu sangat terpukul dengan kepergian Moza. Tapi mama minta kamu harus yakin, hidup kamu tidak sampai disini saja” nasehat mama yang membuat aku kali ini semakin menjadi jadi.
“mama menginginkan Moza meninggal ?? tega sekali mama”
“bukan sayang, mama juga tidak mau Moza pergi. Tapi ini benar terjadi, kamu harus tabah” ujar mama yang kali ini tak sanggup melihat tingkahku, dan segera memanggil dokter untuk membiusku dengan suntikan penenang.
Tak lama aku mengalami rasa lemas dan tergeletak tepat disamping Moza, dengan keadaan masi menggenggam tangan lembut Moza.
Selamat Tinggal Moza...
Pagi itu yang diwarnai dengan cuaca mendung, bau tanah masih segar dan segerumbulan orang berpakaian sama, termasuk aku (Raka).
“Moza, selamat tinggal aku akan slalu ingat kamu sayang” ucapan terakhir saat moza dikubur.
Moza telah pergi tapi bukan untuk sementara, untuk slamanya. Moza gak akan kembali, tapi Moza selalu dihati Raka. Semua menangisi kepergian wanita yang sangat mereka sayangi mama, papa, kakak, Raka, Vita dan teman-temanku lainnya.
Tapi yang hanya aku ingin mereka tetap tersenyum melihat kepergianku, dan Ricka yaa..aku tau saat ini dia masih dirawat. “aku mencintai kalian” ucap Moza kepada semua orang yang hadir.
Pagi itu dikamar raka …
Raka sengaja bangun pagi, dan saat itu juga Raka belum bisa melupakan sesosok wanita yang masih dia cintai “Moza”. Kasih sayang dan cinta Moza masih melekat dihatinnya, diraihnya sebuah handphone milik Raka dan melihat foto saat mereka masi. Raka menangis tanpa dia sadari “Moza telah pergi? aku masih belum percaya” ucap Raka memandang foto itu. Aku akan tunggu kamu Moz, aku berangkat kuliah dulu sayangku.
Hidup baru tanpa Moza, sepi rasanya. Tapi aku janji gak akan lupain Moza gitu aja. Moza akan slalu dihatiku, dihariku, dan disetiap langkahku. “Mozaaaaaaaaaaaa !” ucapan terakhir Raka.
Yaah...memang Moza terlalu indah untuk aku lupakan begitu saja, aku mengambil headsetku dan memutar musik yang kami berdua sangat sukai. Aku melihat disekelilingku, sepi rasanya tapi aku yakin aku sanggup menjalani hidup baruku.
Sepulang dari kampus, aku putuskan untuk menjenguk Ricka karna terakhir sebelum Moza pergi dia menitipkan pesan untukku agar menjaga Ricka sahabat yang dia sayang.
Tak lama aku pun sampai di Rumah Sakit, aku memasuki kamar Ricka yang tepat disamping kamar Moza kemarin. Aku datang Moza, demi janjiku menjaga sahabatmu.
“hai, Ricka” sapaku segera masuk dan menaruh buah tangan yang aku bawa.
“hai juga Ka, sendiri aja ?” tanyanya.
“bagaimana keadaanmu Rick ??”
“baik kok, ehh..Moza gak ikut yaa ?” tanya Ricka lagi yang membuatku benar-benar sedih.
“Rick, Moza udah pergi” jawabku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya.
“hah??? pergi kemana ya Ka..”
“Ricka..Moza kemarin sudah kembali kepada yang Maha Kuasa untuk selamanya” jawabku yang kali ini membuat Ricka terkejut.
“apaaaaaaaaa????” kejut Ricka menahan air mata.
“gak mungkin Ka, pasti kalian sedang mengerjaiku kan?? hari ini kan aku ulang tahun” lanjut Ricka tak percaya.
“sungguh Ricka, apa ada tampang bohong di wajah aku yang sudah meneteskan air mata untuk Moza?” jawabku.
“itu gak mungkin Rakaaaaaa!!!! Moza janji sama aku, hari ini dia akan datang bersamamu. Baru saja semalam aku bertemu dengannya didalam mimpi” jelas Ricka singkat.
“benarkah kamu bertemu Moza didalam mimpi??”
“iyaa”
“Ricka, dia telah pergi meninggalkan kita semua..baru saja kemarin Moza telah dikubur”
“tidaak! Aku belum sempat mengucapkan permintaan maaf untuk Moza” ungkapannya.
“tenang Rick, aku sudah katakan pada Moza kemarin. Dan dia memintaku untuk menjagamu” jawabku memperjelas maksud.
“makasi Ka, tapi setelah aku keluar dari Rumah Sakit bisa kan kamu anterin aku di tempat Ricka dikubur ?” tanyanya yang segera aku jawab dengan tersenyum.
“tapi kamu sekarang makan dulu ya? Ini udah waktunya jam makan siang, ayoo sini aku suapin” ujarku mengambil makan siang dan segera menyuapkan Ricka.
Satu jam berlalu dan ku habiskan waktuku untuk menemani Ricka sahabat tersayang Moza, tapi aku lebih sayang Moza. Aku mengagumi dia tanpa ada batas dengan kelebihan dan kekurangan dia, aku masih saja memandangi Ricka dengan menyuapkan satu demi satu sendok yang aku sodorkan untuknya.
“Rick, wajah kamu mirip Moza ya ternyata ?” ujarku tetap memandang Ricka semakin tajam.
“hahh?? dari mananyaa” jawabnya mengambil kaca yang berada di laci.
“iya, dari mata kamu. Sama percis dengan wanita yang aku sayangi itu Ricka” jawabku tersenyum kecil.
“ooh..”
“ehh..yaudah, aku pulang dulu ya Rick..udah sore juga, ntar nyokap marah” pamitku segera pergi meninggalkan Ricka.
Moza !
“Malam Moz, lagi ngapain ya kamu sekarang ??” ocehku sambil memandang seluruh bintang yang malam ini cukup banyak juga beratburan dilangit. Ku coba untuk memilih satu bintang yang paling bersinar untuk Moza, dan ku raih gitarku yang tergeletak diatas tempat tidurku. “aku ingin kamu dengarkan ini Moz” ujarku segera menyanyikan sebuah lagu.
*ku coba untuk melawan hati..tapi hampa terasa sunyi tanpamu..bagiku semua sangat berarti lagi..ku ingin kau disini tepiskan sepiku..bersamamu..hingga akhir waktu.
Sebuah lagu yang tak akan aku lupakan, karna lagu itu adalah lagu yang paling disukai Moza saat dia merasa sendiri. Aku sangat mencintai dia, tapi kenapa Moza pergi begitu cepat ?? aku masih bisa merasakan sedih itu dan kehangatan yang terakhir diberikan oleh Moza, dimana kamu Mozzzzzzzzzz!!!!!!
“Rakaa....bangun sayang” suara mama yang mencoba membangunkan ku dari luar.
“Raka!” suara mama yang masi saja membangunkan ku dari luar, tapi kali ini mencoba masuk kamarku.
“Raka..ayoo bangun sayang ini udah siang Raka!!!” ujar mama mencoba membangunkan ku lagi.
“ahh..ntar lagi ya ma, ngantuk ini” jawabku tanpa melihat mama.
“kalo Moza yang bangunin gimana nak ?” ujar mama.
“hahh!!! mana ma Moza ??” kejutku yang ternyata hanya candaan mama.
“ya dikuburan lah Ka, sudah ayoo bangun”
“ahh..Raka males kuliah!”
“kenapa kamu jadi pemalas begini, semenjak ditinggal oleh Moza?” tanya mama yang membuatku kaget.
“aa..emm..nggak tau ma, aku merasa aku ini hina tanpa Moza” jawabku segera bangun dan sadarkan diri.
“tapi nggak harus terpuruk seperti ini kan? Apa kamu gak kasihan mama??”
“iya sih ma, tapi aku terlalu sayang Moza”
“sudah..sudah..sekarang kamu madi terus berangkat kuliah, Moza pasti akan senang” oceh mama yang menurut ku itu benar.
“iyadeh..demi Moza, makasi ya mam” jawabku dengan senyum manis dan mengecup pipi mama.
Setelah selesai mandi aku bergegas menuju mobil dan berangkat ke kampus, aku sengaja melewati rumah Moza yang aku tau antara rumahku, kampus dan rumah Moza gak searah.
“hmm..biasanya aku menjemputmu disini sayang, dan kamu memberikan aku senyum terindahmu itu” ujarku melamun memandang rumah yang takkan lagi ada senyum itu.
“baiklah, aku berangkat dulu ya sayang..aku mencintaimu” lanjutku segera meninggalkan rumah Moza.
Koridor kampus cukup panjang untuk menuju arah kelasku pagi ini, tapi kenapa aku capek sekali melewatinya? tanpa Moza ku rasakan hidupku sepi.
Ku melepaskan penat dan beban sewaktu aku berada dikantin, aku masih ingat Moza dan dia tak akan hilang dari ingatanku.
“haloo Ka?” sapa seorang wanita yang ternyata sudah berada tepat disampingku.
“ehh, Ricka kamu udah sembuh ya?” jawabku menuntun arah duduk Ricka.
“iyaa nih, tapi masih sakit Ka. Gapapalah asal bisa ketemu Moza”
“yah, makanya kamu lain kali jangan macem-macem ya Rick”
“iyaa Raka, makasih ya. Jadi kan kita ke Moza?” pertanyaan Ricka yang membuatku semakin bersedih.
“Raka???”
“ehhh..iya iyaa, jadi kok Rick” jawabku singkat.
First Love Moza ...
Setelah pulang dari kampus aku dan Ricka memutuskan untuk segera pergi ke makam Moza, dan beberapa menitpun kami sudah sampai karna jaraknya tak cukup jauh juga.
“hai Moz, apa kabar ??” sapa Ricka dengan senyum sedihnya.
“Moza pasti akan baik-baik saja Rick” ujarku menenangkan hati Ricka.
Aku melihat saat itu Raka menangis dan aku mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Raka, mencoba menenangkan dan menghilangkan sesosok wanita yang sudah lama bertahun-tahun menjalani hidup dengannya mungkin sangan susah.
“sudahlah Ka, jangan berlarut dalam kesedihamu itu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu kepada Moza.
“aku hanya ingin melihatnya tersenyum untukku walau itu terakhir kalinya” jawabnya memeluk makam Moza dan menangis.
“kita pulang saja yuk, Ka” pintaku yang hanya dijawab dengan anggukan saja.
Selama perjalanan yang ku lihat Raka hanya berdiam diri dengan membayangkan sosok Moza berada disisinya saat ini.
“Ka, kamu kenapa ?” tanyaku mencoba mencairkan suasana.
“gapapa Rick” jawabnya singkat.
“aku antar kamu pulang saja ya” ujarnya yang segera membelokkan arah mobil ke arah rumahku.
Dan beberapa menitpun kami sudah sampai.
“makasi ya, Ka” ujarku yang tanpa digubris olehnya yang secepatnya pergi seperti angin berlalu.
“dari mana, Ka ??” tanya mama yang hanya aku lihat dengan wajah suntukku.
“Raka.. Raka.. !”
Aku tetap saja membiarkan mama sendiri diluar kamar dengan memanggilku berulang kali, dan aku masih memandangi rangkaian kata kecil yang bermakna yang dirangkai oleh Moza dengan indah.
4jam berlalu dan aku masih saja memandangi indahnya rangkaian “I Love You” yang dibuat Moza sebelum akhirnya dia pergi, “aku merindukannya, apa kamu juga merasakan itu Moz?” ucapku sambil memandang rangkaian kata kecil itu.
“Raka.. makan malam dulu sayang” teriak mama dari lantai bawah yang masih aku abaikan.
Bagaimana mungkin aku sanggup menikmati semuanya, memang dari sepulang mengantar Ricka dan sampai sekarang aku tidak melakukan apapun selain memandangi rangkaian ini saja, mandi dan makan saja tidak aku lakukan.
“Rakaaaaaaa...” panggil mama yang segera masuk kamarku dengan membawakan makan malam.
“iya ma,” jawabku cuek.
“ayo dong makan dulu, kamu gak boleh berlarut dalam kesedihan seperti ini. Mama yakin Moza pasti ikut sedih jika melihatmu terpuruk dalam masalalumu” ucap mama.
“mama tau kan aku gak akan bisa lupain Moza gitu aja, Raka terlalu sayang Moza ma”
“mama mengerti, tapi gak harus lupa makan dan mandi kan?” tanya mama dengan senyum kecilnya.
“ntar aja ya ma, masih pengen liat ini” jawabku sambil menunjukan rangkaian itu kepada mama.
“bagus sekali” puji mama.
“iyaa dong, itu Moza yang bikin khusus untuk aku. Raka akan menyimpannya dengan rapih ma”.
“iyaa, simpan saja di laci itu” jawab mama sambil menunjuk ke arah laci milikku.
“oke ma” jawabku dengan nada senang.
Setelah meletakkan semua kenangan dari Moza aku bergegas mandi dan makan malam, karna memang aku sudah lama menahan laparku dari dua hari yang lalu.
“nah, gini kan jadi kelihatan seger” goda mama yang buat aku malu.
“ahh, mama apa aja sih”
“yaudah ayo kamu ambil makanan”
“iya ma”
Selesai makan malam aku secepatnya membaringkan badan dan tidur terlelap bersama mimpi indahku dengan Moza.
5th kemudian...
“hallo sayang” ujar Ricka dengan nada panik.
“iya, kamu kenapa sayang?” jawabku yang juga ikut panik dibuatnya.
“bisa kamu ke rumah?” pintanya.
“iya aku kesana sekarang” jawabku segera menutup telfon.
Aku bergegas berangkat menuju rumah Ricka, tak lama kemudian aku pun sudah sampai tepat didepan rumah Ricka karna jarak dari rumahku dan Ricka hanya membutuhkan waktu 30menit.
“sayangg” teriakku memanggilnya.
“masuk Ka” jawabnya yang ternyata sudah menungguku diruang tengah.
“masuk Ka” jawabnya yang ternyata sudah menungguku diruang tengah.
“lho? Kamu kenapa Rick??” tanyaku panik melihat Ricka menangis.
“papa masuk rumah sakit sayang” jawabnya yang semakin menangis.
“hah? Kapan??” kejutku.
“barusan sayang sebelum kamu aku telfon” jawab Ricka yang mulai lemas.
“yaudah, sekarang kita ke rumah sakit juga aku antar kamu Rick” ujarku yang secepatnya memasuki mobil dan berangkat menuju rumah sakit.
30menit kemudian ..
Karna jalanan kota Jakarta yang dipadati begitu banyak mobil dan sepeda motor (MACET), kami pun terjebak diantara jejeran dan barisan kendaraan yang sedang menunggu kelancaran lampu merah.
“bagaimana ini Ka?” tanya Ricka yang membuatku semakin panik.
“aduuuh..sabar ya sayang” jawabku mencoba menenangkan hati Ricka.
“tapi aku hawatir dengan keadaan papa” lontar Ricka yang semakin panik karena telpon dari mama.
“apalagi mama menelponku terus menerus” lanjutnya.
“sabar sayang”.
Terpaksa kamipun turun dan meninggalkan mobilku yang terjbak ditengah kendaraan yang terjejer rapih, aku dan Ricka segera mencari alat transportasi .lainnya untuk mempercepat waktu.
Dan benar saja, kami terjebak lagi disepanjang jalan Sudirman yang membuat Ricka semakin panik.
“Raka, bagaimana lagi ini ?” pertanyaan Ricka yang membuatku semakin pusing.
“sudah diam, kita hadapi ini bersama” ujarku menggenggam tangan Ricka.
1jam kemudian kami sampai di sebuah rumah sakit yang namanya sudah cukup tua sama dengan bangunannya “RUMAH SAKIT PELITA”
aku dan Ricka segera berjalan melewati lorong demi lorong yang ada di rumah sakit itu dan benar saja, saat kami datang tampak seluruh keluarga Ricka berkumpul dengan wajah yang suram dan bercampur kesedihan.
“ma, papa gak kenapa-kenapa kan ?” tanya Ricka yang ingin meyakinkan diri kalo keadaan papanya baik-baik saja.
“ma, jawab!” lanjut Ricka yang memang saat itu tidak ada respon oleh sang mama.
Lalu.... BRUAAAAAAK !!!! tante Rima (mama Ricka) jatuh tergeletak dilantai.
“mama !!!!” jerit Ricka yang terkejut melihat mamanya pingsan.
“kak, sebenarnya papa kenapa kak ?” tanyanya pada kak Sekar lagi.
“papa, udah pergi buat selamanya dek” jawab kak Sekar dan memeluk Ricka dengan air mata yang tak hentinya keluar.
“apaaaaaa kak ??” kejut Ricka yang tak kuasa menahan lemasnya dan shocknya hati mengdengar kabar itu.
Sesegera mungkin Ricka dan Raka masuk kamar dimana papanya dirawat, dan melihat tangisan Ricka akupun ikut bersedih. Sedangkan tante Rima dirawat dikamar sebelah om Irawan dirawat.
“PAPA ! Kenapa papa pergi, Ricka sayang PAPA” ucapnya dengan memeluk erat tubuh om Irawan yang terbujur kaku.
“PAPA JAWAB !” lanjutnya.
“udah sayang udah, kamu harus terima ini papa sudah pergi sayang” ujarku memeluk Ricka.
“aku gak kuat dengan semua ini Ka” jawabnya memelukku balik.
“kita tunangan sekarang ya?” pintaku yang membuat Ricka semakin bingung.
“maksud kamu sayang?”
“iyaa, kan aku dulu janji aku akan tunangan didepan papa kamu dan ini saat yang tepat agar papa kamu tenang sayang” jelasku singkat tanpa perlu tau jawaban Ricka aku segera pergi untuk membeli cincin.
Raka berlari melewati koridor demi koridor, dan masuk ke dalam taxi lalu pergi untuk membeli cincin, tapi sebelum itu Raka mengambil mobilnya yang terjebak macetnya kota Jakarta. Lalu setelah mengambil baru ia pergi mencari cincin yang tidak terlalu bagus untuk menggantikan cincin tunangan yang belum jadi.
Dan lagi-lagi benar saja aku terjebak macetnya kota ini di sudut pertikungan menuju Mall City, mall yang baru saja dibuka seminggu yang lalu yang aku rasa lebih dekat jaraknya dengan Rumah Sakit itu.
“sial!” ocehku sambil membunyikan klakson.
Aku mengambil jalan pintas untuk pergi melewati kemacetan jalan raya ini, aku mengendarai mobilku untuk segera sampai ditempat yang aku tuju. Dan tidak lama aku sampai di Mall dengan waktu relatif lama karena terjebaknya macet tersebut.
Aku mulai mencari toko perhiasan dan setelah aku menemui toko yang pas dam cukup mewah aku mulai masuk dan memilih mana yang cocok untuk menggantikancincin tunangan kami yang belum jadi.
“mbak cincin sepasang yang paling bagus yang mana kira-kira?” tanyaku.
“yang ini mas” jawab pelayan itu dengan memberikan barang itu.
“yasudah saya mau ini saja” ujarku yang memintanya untuk membungkus dalam kotak cincin yang elegan.
“baik mas, totalnya Rp. 1.500.000,-
Woowwww! Cukup murah untukku yang sudah bekerja di perusahaan ternama di Jakarta dan memilikki gaji setiap bulannya 25jt, jadi harga cincin segitu saja aku takjub karna harga murahnya.
Karna memang setelah aku lulus kuliah dan mengambil jurusan S1, aku bekerja di kantor milik papa yang akan di berikan kepadaku kelak, dan aku juga sudah dibilang sudah mapan karena aku telah memilikki 2 unit rumah di daerah Surabaya dan Australia yang cukup besar dan memilikki satu mobil dan dua motor disetiap rumahnya.
Dan tentunya aku pun juga punya rumah sendiri di kota TERCINTA kota JAKARTA tempat aku dibesarkan dan menjadi orang sukses saat in sekaligus, tempat dimana aku telah ditinggalkan oleh sosok wanita yang begitu sempurna dan tak akan terganti hingga saat ini meskipun aku harus mencintai sahabat dia.
Yah, Moza..aku merindukan kasih sayangnya yang begitu tulus.
“apa kabar ya Moza?” lontarku dalam mobil yang tanpa terasa meneteskan air mata.
Pikiranku tertuju pada sosok wanita yang dulu sempat mengisi hari-hariku, aku menyempatkan diri untuk membeli bunga dan munuju makan Moza yang letaknya tidak cukup jauh dari tempat aku membeli cincin di Mall itu, dan secepatnya pula aku mencari makam yang bertuliskan Moza Silvia di batu nisannya.
“halo Moz, kamu baik-baik saja kan sayang? Aku akan melaksanakan pertunangan ku dengan Ricka hari ini, aku mohon restui hubungan ini Moza” lontarku dengan menaburkan bunga di makam Moza.
“Moza, aku pulang ya kamu baik-baik disini. Aku mencintaimu Moza” ujarku segera meninggalkan kuburan Moza.
Aku mulai menaiki mobilku lalu secepatnya kembali karna waktu ku memang tak banyak untuk berada disini, “selamat tinggal Moza” ujarku.
Dan lagi-lagi benar saja hari ini macetnya jalan Sudirman tidak dapat diduga, aku melihat sekelilingku yang penuh dengan kendaraan bermotor dan mobil tentunya. Bagaimana ini, aku pun turun karna tak mau ambil resiko aku berjalan bahkan berlari untuk mencari sebuah taxi.
BRUAAAAAAK......!!!!!
“akh” teriakku.
Aku terjatuh saat akan menyeberang jalan dan terserempet mobil sedan putih dengan plat nomor B 4445 CA, saat aku sedang menelpon Ricka dan entah apa yang terjadi mungkin dia mendengar teriakanku karna handphone yang saat itu aku bawa terlempar cukup jauh.
KRITISS.. “RAKA BANGUNN...”
Malam itu aku (Ricka) hanya bisa melihat Raka yang terbujur lemas dikasur ini dan dikamar ini kamar milik Moza, aku menggenggam tangannya seolah tidak terjadi sesuatu yang menimpah diriku yang akhirnya aku mengerti semua penantianku dan harapanku hancur.
“Ka, bangun dong sayangg” ujarku sambil mengecup keningnya.
Aku terus berusaha untuk membuat kekasih yang aku cintai ini tersadar dari 'KOMA' nya, tapi apa yang terjadi dia tetap tak terbangun. Dan kini dua bulan sudah Raka menjalani masa-masa kritisnya dikamar milik Moza saat dirawat, aku masih berharap dan menunggunya untuk tersadar walau aku tau ini sangat sulit. Bahkan aku selalu meluangkan waktuku hanya untuk menemani Raka yang mungkin tak akan tersadar lagi, sumpah aku sangat tak sanggup jika harus merelakan Raka pergi seperti Moza.
“Raka, aku hanya ingin kamu tau aku mencintaimu bahkan sampai akhirnya kekasih yang begitu kau cintai pergi untuk selamanya” ujarku menangis. “dan kamulah sebenarnya orang yang selalu membuat aku mengerti hidup ini, dan aku sanggup mejalaninya walau perih” lanjutku.
“dan kamu tau Raka, aku akan mencintaimu, menunggumu dan mendampingimu hingga semua hidupku akan sirna” lontarku segera memeluk tubuh Raka.
Aku pergi menuju ruang dokter untuk menanyakan keadaan Raka saat ini dan nanti, aku segera meninggalkan kamar Raka dan berjalan menuju ruangan itu dengan tetesan air mata penuh harapan dia akan kembali sadar padaku.
“tok..tokk..toook.. permisi dok” ujarku.
“iyaa silahkan masuk” jawabnya.
“dok, jadi bagaimana dengan keadaan Raka untuk saat ini dan selanjutnya” tanyaku yang tiada henti menangis.
“begini, sebenarnya Raka terkena serangan gagar otak yang sangat parah karna kecelakaan yang membuat dia terlempar jauh” jelas dokter Marco.
“lalu bagaimana dok?”
“kemungkinan besar dia akan lupa dengan semua yang pernah terjadi, termasuk anda. Tetapi ada suatu memori yang dia akan ingat” lontarnya.
“apa itu dok” nanti anda akan tau sendiri.
Setelah pembicaraan antara aku dan dokter Marco berakhir aku putuskan untuk kembali menuju kamar Raka dan menemaninya, aku mencoba merebahkan tubuhku disamping Raka dengan tidur posisi duduk dekat Raka dengan menggenggam tangannya.
Aku terkejut ketika Raka berteriak memanggil nama Moza sosok wanita yang begitu dia cintai, sangat kencaaaaaang. Kini apa yang harus aku lakukan Tuhan, hanya memohon kini yang sanggup aku lakukan, aku memandang dan menatap kedua mata Raka dengan terus menggenggam tangannya meyakinkannya bahwa saat ini yang membutuhkannya adalah aku!
Aku segera memanggil dokter Marco untuk memastikan keadaan Raka baik-baik saja, dan aku yakin ini bukan yang dimaksud oleh dokter itu. Setelah aku mencoba menunggu kurang lebih satu jam, suster mengijinkan aku untuk masuk dan berbicara dengan dokter Marco.
“dok, bagaimana keadaan Raka?” tanya dengan tak sabar.
“sabar dulu ya Ricka, jadi...”
“jadi gimana dok? Ayo jawab” ujarku tak sabar.
“iyaa, ini yang saya maksud Rick. Jadi hanya memori ini saja yang bisa di ingat oleh Raka setelah semua terjadi” ujarnya yang membuat aku terkejut. “namun fisik Raka masih sangat lemah bahkan dia kemungkinan besar bisa pergi” lanjutnya.
“lalu saya harus bagaimana dok?” tanyaku lagi-lagi.
“sabar saja” jawabnya yang segera pergi.
Dan benar saja semua ini terjadi padaku, aku sangat mencintainya Tuhan mohon jangan ambil dia kembali dan melupakanku begitu saja. Aku memulai membuka mulutku dan berbicara dengan Raka.
“kamu sudah sadar?” tanyaku.
“kaa..kamu siapa ??” jawabnya dengan nada lirih dan memegang kepalanya.
“aku Ricka, pacar kamu” ujarku.
“pacar?? dimana Moza?” tanyanya.
“Moza sudah meninggal sayangg, tolongg aku mohon jangan kamu pergi tinggalin aku” lontarku memeluknya.
“BOHONG! Aku yakin Moza masih disini untuk menemaniku, pergi kamu!!!” ujarnya mengusirku.
Aku mencoba mengalah demi pertama kalinya, aku mengambil tas dan handphoneku lalu pergi meninggalkan Raka untuk menenangkan diri sedangkan aku berjalan menuju gereja untuk memohon agar Raka selalu menjadi milikku.
“Tuhan, bila umatmu menjadi kesayanganmu minta bantu aku kepadamu. Aku ingin dia kembali seperti dulu” mohonku yang benar-benar menguras air mata.
“RICKAAAAA....” teriak sosok dari belakang.
Rey, buat apa dia kesini? Apa dia belum mengerti Moza meninggal?
“ehh, Rey..ada apa?” jawabku.
“aku mencari Raka” ujarnya.
“mau apa kamu?” tanyaku ketus.
“aku hanya ingin menemani dia untuk kepergian Moza, aku tak ingin dia terlarut dalam kesedihannya” jawabnya yang segera menanrikku.
Rey membawaku menuju kamar Raka untuk melihat dan memastikan keadaannya baik-baik saja, karna dia tak mau kedatangannya yang jauh-jauh itu menghasilkan hasil yang negative.
6 Bulan kemudian.. NO, i'm TEARS!
Sejak beberapa bulan yang lalu Raka mengalami kejangkitan hal ingatan yang kuat, mengeluh kesakitan dan akhirnya kini dia kembali kritiss hingga saat ini. Ku dengarkan lagu kesukaan ku di mp3, mencoba menenangkan diri sendiri tapi yang terjadi aku hanya menangis.
“Raka, papa udah sembuh. Kamu cepet sembuh ya biar tunangan ini berlanjut sayang”.
jangan berakhir..karna esok takkan lagi..
satu jam saja..hinggaku rasa bahagia mengakhiri segalanya..
tapi kini tak mungkin lagi..
katamu semua sudah tak berarti..
satu jam saja..itu pun tak mungkin..
tak mungkin lagi..
(Audy-Satu Jam Saja)
aku memeluk Raka yang terbaring dikasur, “Raka, sadar dongg” ucapku.
Ku terlelap sejenak disamping Raka yang masih tebujur lemas dan sangat lemas, aku tau dia akan terbangun saat aku juga terbangun.
Tapi apa yang aku dapat ?? saat aku terbangun Raka hanya melihatku sesaat lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
“RAKAAAAAAAAAAAA!!!” teriakku yang membuat kaget para perawat dan tentunya dokter.
Sudah 25menit aku menunggu kabar dari dokter, aku hanya bisa menangis dan memeluk tubuh mama
“ma, bagaimana kalau Raka tidak akan melihatku lagi?” ujarku.
“hus, kamu ngomong apa sih Rick. Raka pasti sadar” jawab mama yang berusaha menguatkanku.
“tapi ma..”
“sudah, yang penting kamu berdo'a saja” ujar mama yang segera mengajakku ke gereja.
Saat akan meninggalkan kamar Raka, suara pintu dari kamar itu yang membuat langkah aku dan mama terhenti.
“ibu” ucapnya memanggil mama.
“iyaa dok, bagaimana keadaan menantu saya?” tanya mama yang benar-benar cemas.
“dok, Raka nggak papa kan ?” lanjutku.
“begini bu, dan nak Ricka sebelumnya saya minta maaf. Tapi memang Raka tidak bisa diselamatkan lagi” jawabnya yang membuatku SHOCK!
Aku berlari masuk kamar itu untuk menemui Raka terakhir kalinya, ini tidak mungkin semua akan baik-baik saja dan aku masih butuhkan lelaki ini.
“RAKAAAAAAAAA!!!” teriakku menangis.
“kenapa kamu tinggalin aku dengan keadaan gini Raka” ujarku tanpa ada balasan.
Aku semakin menatap Raka lebi dalam, memastikan ini semua tak mungkin terjadi. Aku terlalu mencintai dia, sosok lelaki yang sempat aku milikki beberapa tahun lalu.
Sekarang tinggal kenangan saat aku menutup semua kenangan ku bersama Raka didalam kotak itu, kotak yang penuh dengan cerita cinta kita dan semua kenangan indahku bersamanya.
“selamat tinggal Raka, kamu dan Moza akan selalu dihatiku” ucapku sebelum menuju ke pelaminan.
Seluruh tamu menyaksikan acara kebaktian pernikahanku di Gereja dengan begitu banyak tamu yang hadir dan memberiku ucapan selamat, senang bercampur sedih yang aku rasakan saat ini. Jujur aku masih mecintai dia yah, Raka lelaki yang pernah aku miliki.
“Ricka, akhirnya lo temuin sosok lelaki yang baik ya. Selamat ya sayang” ujar Ajeng begitu juga dengan sahabatku yang lain.
“Sama-sama sayang” jawabku mempersingkat pembicaraan.
Pernikahanku sungguh diluar dugaan karna aku menikah dengan Jovan yang jelas sahabatku sendiri dari SMP, aku memanggilnya dengan sebutan Jojo yang hanya special dari aku. Kali ini aku yakin dia akan menjadi lelaki terakhirku dan mereka (Moza dan Raka) bahagia dialam sana, dan aku langkahkan kaki ini menuju pelaminan ku itu bahagia sudah tampak diwajah cantik ini yang dipolesi dengan make up yang tidak terlalu tebal.
“kamu cantik malam ini Rick” bisik Jovan yang membuat aku tersenyum.
“bahagia aku kini telah milikki kamu” lanjutnya.
“terimakasih sayang” jawabku tanpa memandang wajahnya.
Malam itu sungguh menjadi sebuah kenangan yang takkan mungkin aku lupakan, kini 3th sudah aku menjalani hidup baru bersama keluarga baru yang aku bangun dengan Jovan. Masalah demi masalah kami lalui dengan sikap dewasa dan kepala dingin, melihat wajah anak-anakku yang ceria membuat kami tak tahan melalui masalah ini semakin lama. Aku lihat lagi foto ku dialbum yang sudah lama aku simpan bersama kenangan indah itu, foto dimana aku masih bersama sahabatku Moza dan mantan kekasih ku itu Raka yang memasang muka ceria penuh lepas dari senyum lebar kami, ku putar juga lagu yang menjadi lagu kenangan kami semua, menangis sudah aku dibuat oleh suasana siang itu.
Tidur siangku kini sudah cukup menjadi jembatan tangisanku dan aku memang tak setegar itu menghadapi semua perjalanan hidup ini, terlalu banyak beban yang aku rasakan semenjak mereka pergi dari sisiku sudah cukup aku rasakan sakit itu dan sekarang tidak ada lagi senyuman manis dari wajah cantik Moza dan sapaan lembut dari Raka mantan kekasihku itu. Ku akui sangat terpukul bila aku mengingat semuanya ingin rasanya aku memeluk dan mencium serta menyatukan mereka kembali, semoga mereka bersatu disana.
“Tuhan, jaga cinta mereka dan satukan mereka kembali disisi Mu” do'aku padaNya.
Nisan namaku..
Lima belas Juni dua ribu tiga, bau tanah yang masih terasa segar disertai gerimis hujan yang ikut serta membasahi. Apakah yang sudah terjadi? Dimana aku saat ini? Kemana keluargaku dan mana anak-anakku?? tangisanku yang menyertai kini, dan siapa itu? Siapa yang berada didalam sana? Mengapa ia memakai namaku?
Sebuah batu nisan simbol salip dan kuburan yang cukup lebar kini telah menjadi tempat tinggalku, semakin membuatku tak mengerti aku sekarang siapa dan utnuk apa aku disini? Aku berjalan menelusuri seluruh tempat pemakaman dan aku dekati kuburan yang bertuliskan namaku di nisan tersebut, segerombolan orang-orang menangisinya suami dan anakku pun ikut menyertai acara pemakaman itu. Aku dekati keluargaku bermaksud ingin memeluknya tapi apa yang aku bisa lakukan saat ini, aku tidak bisa menyentuh mereka sedikitpun dan wajah itu? wajahku, mengapa ada disana?? apakah aku sudaahh...
"iya Rick, kamu sudah menyusul kita" ucapan seorang perempuan dibelakangku.
"Moza? Raka? ada apa ini" tanyaku balik.
"iyaa kamu sudah menyusul kami dialam yang baru Rick" jelas Raka mempersingkat kata.
"maksudnya? aku sudahh meninggal" kejutku yang aku lanjutkan dengan teriakanku.
"tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!!!!!!!" teriakku.
"Ricka..Ricka kamu harus bisa menerima keadaan, kamu sudah tiada dan tidak mungkin kembali lagi" ujar Moza
"secepat ini aku meninggalkan anak-anakku Moz? aku belum siap" jawabku dengan nada sangat lirih.
"sudahlah kamu harus bisa menerima keadaan ini, sekarang ikut kita kesana ke alam barumu" ajak Moza penuh semangat.
Selamat tinggal Jovan suamiku tercinta dan kalian Reshita, Marchelia, anak-anakku yang sangat mama banggakan. "mama sudah tidak mampu lagi untuk menjaga kalian setiap hari dan setiap waktu, maafkan mama sayang dan kamu suamiku aku akan menunggumu dialam sini dialam baruku seperti kamu telah menungguku selama itu" ucapku terakhir.
Moza dan Raka membawaku pergi dari duniaku yang dulu, berharap keajaiban datang dialam baruku.
Terimakasih yang sudah mau membaca, komentar boleh ditunggu ya sarannya :))